Home Agama Konsep Mentoring KeIslaman

Konsep Mentoring KeIslaman

478
0
SHARE
ILustrasi Mentoring Keislaman
ILustrasi Mentoring Keislaman. Image: LDK Abdurrahman

Pengertian Mentoring KeIslaman

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia kata mentoring berasal dari kata “Mentor” yang artinya adalah “pembimbing atau pengasuh”.[1] Sedangkan menurut istilah pengertian Mentoring menurut Muhammad Ruswandi dan Rama Adeyasa dalam bukunya Manajemen Mentoring bahwa Mentoring adalah salah satu sarana tarbiyah Islamiyah (pembinaan Islami) yang di dalamnya terdapat proses belajar, secara umum mentoring merupakan kegiatan pendidikan dalam perspektif luas dengan pendekatan saling menasihati.[2]

Mentoring KeIslaman adalah kegiatan pendidikan dan pembinaan agama Islam dalam bentuk pengajian kelompok kecil yang diselenggarakan rutin tiap pekan berkelanjutan. Tiap kelompok terdiri dari 5-10 orang, dengan bimbingan oleh seorang pembina sehingga pelaksanaannya lebih efektif dan efisien. Kegiatan ini bisa juga dijelaskan sebagai pembinaan agama melalui pendekatan kelompok sebaya.[3]

Mentoring KeIslaman sama artinya dengan Halaqoh, pengertian Halaqoh dalam buku Sejarah Pendidikan Islam adalah lingkaran. Artinya proses belajar mengajar di sini dilakukan di mana murid-murid melingkari guru, pembimbing atau mentornya.[4] Berdasarkan pengertian tersebut maka teknis pelaksanaan mentoring dapat disesuaikan dengan kondisi sekolah. Mentoring dapat dilaksanakan di masjid dengan membentuk lingkaran atau di dalam kelas dengan metode yang menarik.

Berdasarkan beberapa penjelasan pengertian di atas maka penulis dapat mengambil kesimpulan, bahwa Mentoring KeIslaman adalah suatu kegiatan yang dilakukan di sebuah tempat atau surau dengan membentuk lingkaran atau berjajar rapi disertai mengkaji ilmu agama  Islam yang terdiri dari 5-10 orang dengan satu pembimbing, mentoring biasanya dilaksanakan satu pekan sekali dengan durasi waktu 90 menit atau menyesuaikan.

Tujuan Mentoring KeIslaman

Tujuan Mentoring KeIslaman secara garis besar adalah untuk membentuk insan muslim yang mempunyai kepribadian dan gaya hidup yang Islami. Tujuan tersebut dapat dijabarkan dalam empat sasaran mentoring atau halaqoh yaitu:

1. Tercapainya 10 sifat-sifat tarbiyah

  • Aqidah yang bersih (salimul aqidah)
  • Ibadah yang benar (shihul ibadah)
  • Akhlak yang kokoh (matinul khuluq)
  • Penghasilan yang baik dan cukup (qadirul ‘alal kasbi)
  • Pikiran yang berwawasan (mutsafaqul fikr)
  • Tubuh yang kuat (qawiyul jism)
  • Mampu memerangi hawa nafsu (mujahidu linafsihi)
  • Mampu mengatur segala urusan (munazhom fi syu’unihi)
  • Mampu memelihara waktu (haritsun ‘ala waqtihi)
  • Bermanfaat bagi orang lain (nafi’un lighoirihi)

2. Tercapainya ukhuwah Islamiyah

3. Tercapainya produktifitas dakwah (berupa tumbuhnya dai dan murabbi baru)

4. Tercapainya pengembangan potensi mad’u atau mentee[5]

Manajemen Mentoring

Suatu program atau kegiatan dapat berjalan efektif dan sesuai harapan jika diatur dengan sebuah sistem atau manajemen yang baik dan rapi, begitu juga dengan program mentoring terutama di sekolah-sekolah menengah atas memerlukan sebuah manajemen yang baik guna membantu dalam upaya mewujudkan tujuan yang diharapkan dari program mentoring tersebut. Ada beberapa manajemen yang dapat menunjang keberhasilan program mentoring yaitu:

Manajemen program

Kegiatan mentoring tidak hanya dilakukan dalam bentuk ceramah dan penyampaian materi saja, akan tetapi boleh dengan kegiatan-kegiatan lainnya yang bermanfaat dan efektif dalam  rangka meningkatkan kualitas ilmu dan wawasan keilmuan siswa siswi juga, kegiatannya bisa juga dilakukan di kelas, ataupun di luar sekolah. Dalam menyusun program mentoring, mentor perlu melakukan langkah-langkah sebagai berikut:

  • Melibatkan seluruh anggota mentoring untuk membuat program
  • Memilih program sesuai kebutuhan dan kekinian
  • Program mentoring tersebut memiliki nilai kreatifitas[6]
  1. Manajemen bentuk kegiatan Mentoring

Kegiatan mentoring terbagi dalam dua bagian, yaitu kegiatan utama dan kegiatan pelengkap:

Kegiatan utama

Pada umumnya pertemuan didalam dan luar ruangan terrdiri dari 34 pertemuan pertahun, dilakukan 1 kali pertemuan perpekan. Metode yang dapat digunakan antara lain:

loading...
  • Ceramah, penjelasan materi oleh mentor
  • Diskusi, membahsa fenomena aktual yang terjadi dimasyarakat
  • Tanya jawab, membahas masalah-masalah yang dialami mentee
  • Game, permainan yang Islami dan penuh hikmah

Dalam kegiatan utama ini materi yang diutamakan adalah:

  • Pemahaman Islam: aqidah Islam, konsep iman, konsep Islam, syahadah, pembinaan rohani
  • Pengenalan ukhuwah Islamiyah, makna dan hakikat ukhuwah Islamiyah
  • Problematika ummat: ghazwul fikri
  • Urgensi pendidikan Islam

Kegiatan pelengkap

Kegiatan pelengkap dapat berupa tabligh, tafakur alam, dauroh atau training dan lain-lain[7]

2. Manajemen waktu pelaksanaan mentoring

Mentoring dilakukan secara intensif seminggu sekali dengan hari dan jam sesuai kesepakatan antara mentor dan peserta mentoring, berdurasi 1,5 sampai 2 jam satu kali pertemuan. Plot waktu setiap pertemuan (bersifat fleksibel) yaitu:

  1. Pembukaan (5menit)
  2. Mengenal Al-Quran meliputi pengetahuan Al-Quran (15menit) dan tilawah (15 menit)
  3. Materi (45 menit)
  4. Diskusi dan curhat (35 menit)
  5. Penutup (5 menit)

Bahan Bacaan:

Kementrian P dan K. Kamus Besar Bahasa Indonesia, edisi ketiga, (Jakarta: Baalai Pustaka, 2002)

Muhammad Sajirun, Manajemen Halaqah Efektif, (Solo: Era Adicitra Intermedia, 2011)

Muhammad Ruswandi, Rama Adeyasa. 2012. E-Book Manajemen Mentoring. Karawang: Ilham Publishing.

Muhammad Ruswandi. 2007. Manajemen Mentoring. Bandung: Syamil.

Satria Hadi Lubis, Rahasia Kesuksessan Halaqoh, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2004)

WJS. Poerwadarminta. 1991. Kamus Umum Bahassa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

 

 

[1] Kementrian P dan K. Kamus Besar Bahasa Indonesia, edisi ketiga, (Jakarta: Baalai Pustaka, 2002), Hlm. 734.

[2] Muhammad Ruswandi, Manajemen Mentoring, (Bandung: Syamil, 2007) hlm. 1.

[3] Muhammad Sajirun, Manajemen Halaqah Efektif, (Solo: Era Adicitra Intermedia, 2011), hlm. 8.

[4] Satria Hadi Lubis, Rahasia Kesuksessan Halaqoh, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2004) hlm. 34.

[5] Satria Hadi Lubis, Menjadi, hlm. 11-12.

[6] Muhammad Sajirun, Manajemen, hlm. 161-162.

[7] Muhammad Ruswandi, Manajemen, hlm. 6

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here