Home Psikologi Pengertian, Aspek, dan Faktor-Faktor Mempengaruhi Penyesuaian Diri

Pengertian, Aspek, dan Faktor-Faktor Mempengaruhi Penyesuaian Diri

648
0
SHARE
Penyesuaian Diri

Pengertian penyesuaian diri

Penyesuaian diri adalah proses bagaimana individu mencapai keseimbangan diri dalam memenuhi kebutuhan sesuai dengan lingkungan. Seperti kita ketahui bahwa penyesuaian diri yang sempurna tidak akan pernah tercapai. Penyesuaian diri lebih bersifat suatu proses psikologis sepanjang hayat (lifelong process) dan manusia terus-menerus akan berupaya menemukan dan mengatasi tekanan dan tantangan hidup guna mencapai pribadi yang sehat (Fatimah, 2006).

Penyesuaian diri dapat diartikan sebagai suatu proses yang melibatkan respon-respon mental dan perbuatan individu dalam upaya memenuhi kebutuhan-kebutuhan dan mengatasi ketegangan, frustrasi, dan konflik dengan memperhatikan norma atau tuntutan lingkungan dimana individu hidup (Yusuf, 2004).

Semiun (2006) menyatakan bahwa dari segi pandangan psikologi, penyesuaian diri memiliki banyak arti, seperti pemuasan kebutuhan, keterampilan dalam menangani frustrasi dan konflik, ketenangan pikiran atau jiwa atau bahkan pembentukan simtom-simtom. Itu berarti belajar  bagaimana bergaul dengan baik dengan orang lain dan bagaimana menghadapi tuntutan-tuntutan pekerjaan. Tyson menyebut hal-hal seperti kemampuan untuk beradaptasi, kemampuan berafeksi, kehidupan yang seimbang, kemampuan untuk mengambil keuntungan dari pengalaman, toleransi terhadap frustrasi, humor, sikap yang tidak ekstrem, objektivitas, dan lain-lain (Tyson, 1951). Orang yang dapat menyesuaikan diri dengan baik dapat bereaksi secara efektif terhadap situasi-situasi yang berbeda, dapat memecahkan konflik, frustrasi, dan masalah tanpa menggunakan tingkah laku simtomatik.

Calhoun dan Acocella (Wijaya, 2007) menyatakan bahwa penyesuaian diri adalah interaksi individu yang terus-menerus dengan dirinya sendiri, dengan orang lain dan dengan lingkungan sekitar tempat individu hidup. Kartono (2008) menyatakan bahwa penyesuaian diri adalah reaksi individu terhadap tuntutan yang dihadapkan kepada individu tersebut. Sedangkan Gerungan dalam (Amar, 2009) menjelaskan bahwa menyesuaikan diri itu, dapat berarti mengubah diri sesuai dengan keadaan lingkungan, tetapi juga mengubah lingkungan sesuai dengan keadaan (keinginan) diri dalam mencapai harmoni pada diri sendiri dan pada lingkungan, sehingga rasa permusuhan, dengki, iri hati, prasangka, depresi, kemarahan dan emosi negatif yang lain sebagai respon pribadi yang tidak sesuai dan kurang efisien bisa dikikis habis. Oleh karena itu penyesuaian diri merupakan proses dinamis yang bertujuan untuk mengubah tingkah laku individu agar dari perubahan tingkah laku tersebut dapat terjadi hubungan yang lebih sesuai antara individu dan lingkungannya.

Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa penyesuaian diri adalah suatu proses mengubah diri sesuai dengan keadaan lingkungan dalam usaha mengatasi konflik dalam dirinya sehingga terwujud keselarasan antara tuntutan dalam diri dengan apa yang diharapkan oleh lingkungan.

Aspek-aspek Penyesuaian Diri

Menurut Runyon dan Haber dalam (Irene, 2013) penyesuaian diri yang dilakukan individu memiliki lima aspek sebagai berikut:

Persepsi yang akurat terhadap realita

Individu tersebut mengubah persepsinya tentang kenyataan hidup dan kemudian menginterpretasikannya, sehingga individu mampu menentukan tujuan yang realistik sesuai dengan kemampuannya serta mampu mengenali konsekuensi dan tindakannya agar dapat menuntun pada perilaku yang sesuai.

Kemampuan untuk mengatasi stress dan kecemasan

Mempunyai kemampuan mengatasi stres dan kecemasan berarti individu mampu mengatasi masalah-masalah yang timbul dalam hidup dan mampu menerima kegagalan yang dialami.

Self- image positif

Penilaian diri yang individu lakukan harus bersifat positif dan negatif. Individu tidak boleh terjebak pada satu penilaian saja terutama penilaian yang tidak diinginkan, individu harus berusaha memodifikasi penilaian positif dan negatif tersebut menjadi suatu perubahan yang lebih luas dan lebih baik. Individu seharusnya mengakui kelemahan dan kelebihannya, jika seseorang mengetahui dan memahami dirinya dengan cara yang realistik, dia akan mampu mengembangkan potensi, sumber-sumber dirinya secara penuh.

Kemampuan untuk mengungkapkan perasaan

Individu mampu mengekspresikan keseluruhan emosi secara realistik dan tetap berada di bawah kontrol. Masalah-masalah dalam pengungkapan perasaan seperti kurang kontrol atau adanya kontrol yang berlebihan. Kontrol yang berlebihan dapat menyebabkan dampak yang negatif, sedangkan kurangnya kontrol akan menyebabkan emosi yang berlebihan.

Hubungan interpersonal yang baik

Manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial. Sejak berada dalam kandungan selalu tergantung pada orang lain untuk memenuhi kebutuhan hidup seperti kebutuhan fisik, sosial dan emosi. Individu yang dapat menyesuaikan diri dengan baik mampu menciptakan suatu hubungan yang saling menguntungkan satu sama lain.

Aspek – aspek penyesuaian diri menurut Fatimah (2006), terdiri atas dua aspek :

  1. Penyesuaian pribadi adalah kemampuan individu untuk menerima dirinya sendiri sehingga tercapai hubungan yang harmonis antara dirinya dengan lingkungan sekitarnya. Ia menyadari sepenuhnya siapa dirinya sebenarnya, apa kelebihan dan kekurangannya dan mampu bertindak obyektif sesuai dengan kondisi dirinya tersebut. Keberhasilan penyesuaian pribadi ditandai dengan tidak adanya rasa benci, lari dari kenyataan atau tanggung jawab, dongkol, kecewa, atau tidak percaya pada kondisi dirinya. Kehidupan kejiwaannya ditandai dengan tidak adanya kegoncangan atau kecemasan yang menyertai rasa bersalah, rasa cemas, rasa tidak puas, rasa kurang dan keluhan terhadap nasib yang dialaminya. Sebaliknya kegagalan penyesuaian pribadi ditandai dengan keguncangan emosi, kecemasan, ketidakpuasan dan keluhan terhadap nasib yang dialaminya, sebagai akibat adanya jarak pemisah antara kemampuan individu dan tuntutan yang diharapkan oleh lingkungannya. Hal inilah yang menjadi sumber terjadinya konflik yang kemudian terwujud dalam rasa takut dan kecemasan, sehingga untuk meredakannya individu harus melakukan penyesuaian diri.
  2. Penyesuaian sosial yaitu setiap individu hidup di dalam masyarakat. Di dalam masyarakat tersebut terdapat proses saling mempengaruhi satu sama lain silih berganti. Dari proses tersebut timbul suatu pola kebudayaan dan tingkah laku sesuai dengan sejumlah aturan, hukum, adat dan nilai-nilai yang mereka patuhi, demi untuk mencapai penyelesaian bagi persoalan-persoalan hidup sehari-hari. Dalam bidang ilmu psikologi sosial, proses ini dikenal dengan proses penyesuaian sosial. Penyesuaian sosial terjadi dalam lingkup hubungan sosial tempat individu hidup dan berinteraksi dengan orang lain. Hubungan-hubungan sosial tersebut mencakup hubungan dengan masyarakat di sekitar tempat tinggalnya, keluarga, sekolah, teman atau masyarakat luas secara umum. Dalam hal ini individu dan masyarakat sebenarnya sama-sama memberikan dampak bagi komunitas. Individu menyerap berbagai informasi, budaya dan adat istiadat yang ada, sementara komunitas (masyarakat) diperkaya oleh eksistensi atau karya yang diberikan oleh sang individu.

Apa yang diserap atau dipelajari individu dalam proses interaksi dengan masyarakat masih belum cukup untuk menyempurnakan penyesuaian sosial yang memungkinkan individu untuk mencapai penyesuaian pribadi dan sosial secara baik. Proses berikutnya yang harus dilakukan individu dalam penyesuaian sosial adalah kemauan untuk mematuhi nilai dan norma sosial yang berlaku dalam masyarakatnya. Setiap kelompok masyarakat atau suku bangsa memiliki sistem nilai dan norma sosial yang berbeda-beda. Dalam proses penyesuaian sosial, individu berkenalan dengan nilai dan norma sosial yang berbeda-beda lalu berusaha untuk mematuhinya, sehingga menjadi bagian dan membentuk kepribadiannya.

loading...

Dari beberapa aspek-aspek penyesuaian diri di atas maka dapat disimpulkan bahwa aspek penyesuaian diri, yaitu penyesuaian pribadi dan penyesuaian sosial yang nantinya akan digunakan peneliti sebagai konstrak dalam menyusun alat ukur.

Faktorfaktor yang mempengaruhi penyesuaian diri

Daradjat (2001) mengemukakan ada 3 faktor yang mempengaruhi

penyesuaian diri, ketiga faktor tersebut adalah:

Frustrasi (tekanan perasaan)

Frustrasi adalah suatu proses dimana seseorang merasakan adanya hambatan terpenuhinya kebutuhan-kebutuhannya atau menyangka bahwa akan terjadi sesuatu hal yang menghalangi keinginannya.

Konflik (pertentangan batin)

Konflik jiwa atau tekanan batin adalah terdapatnya dua macam dorongan atau lebih, yang berlawanan atau bertentangan satu sama lain, dan tidak mungkin dipenuhi dalam waktu yang sama.

Kecemasan

Kecemasan yaitu manifestasi dari berbagai proses emosi yang bercampur baur, yang terjadi ketika orang sedang mengalami tekanan perasaan dan pertentangan batin.

Schneiders dalam (Gufron & Risnawati, 2010), membedakan faktor yang mempengaruhi penyesuaian diri menjadi dua, yaitu faktor eksternal dan internal.

  1. Faktor eksternal, yaitu faktor yang berasal dari lingkungan meliputi lingkungan rumah, keluarga, tempat bekerja, dan masyarakat.
  2. Faktor internal, yaitu faktor yang berasal dari diri individu yang meliputi kondisi jasmani, psikologis (kepribadian), kebutuhan, kematangan intelektual, mental, dan motivasi.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi penyesuaian diri adalah faktor internal, bisa berupa kondisi jasmani, psikologis (kepribadian), kebutuhan, kematangan intelektual, mental, motivasi dan faktor eksternal yang merupakan hasil dari interaksi dengan orang lain, berupa faktor lingkungan rumah,  keluarga, tempat bekerja, dan masyarakat.

Bahan Bacaan:

Yusuf, S. (2004). Mental Hygiene: Pengembangan Kesehatan Mental dalam Kajian Psikologi dan Agama. Bandung: Pustaka Bani Quraisy.

Fatimah, E. (2006). Psikologi Perkembangan (Perkembangan Peserta Didik). Bandung: CV Pustaka Setia.

Semiun, Y. (2006). Kesehatan Mental 1. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

Wijaya, N. (2007). Hubungan Antara Keyakinan Diri Akademik Dengan Penyesuaian Diri Siswa Tahun Pertama Sekolah Asrama SMA Pangudi Luhur Van Lith Muntilan. Skripsi. Semarang: Universitas Diponegoro.

Kartono, K. (2008). Bimbingan Anak dan Remaja yang Bermasalah. Jakarta: Rajawali Pers.

Amar, H.R.L. (2009). Hubungan Antara Kecerdasan Emosional Dengan Penyesuaian Diri Siswa Baru di MAN Tempur Sari Ngawi. Skripsi. Malang: Universitas Islam Negri (UIN).

Irene, L. (2013). Perbedaan Tingkat Kemandirian dan Penyesuaian Diri Mahasiswa Perantauan Suku Batak Ditinjau Dari Jenis Kelamin.Jurnal Psikologi. Vol. 01. Surabaya: Universitas Negeri Surabaya.

Daradjat, Z. 2001. Kesehatan Mental. Jakarta: Gunung Agung.

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here