Home Kesehatan Mengenal Penyakit Anemia

Mengenal Penyakit Anemia

217
0
SHARE
Anemia -
Penyakit Anemia

Pengertian Anemia

Anemia didefinisikan sebagai suatu keadaan kadar hemoglobin (Hb) di dalam darah kurang dari angka normal sesuai dengan kelompok jenis kelamin dan umur. Nilai batas ambang berdasarkah ketetapan WHO untuk anemia remaja untuk wanita di bawah 12 g/dL sedangkan untuk laki-laki di bawah 13 g/dL (Andriyani, 2014; Kalliopi, 2013; Kurshed, 2010).

Jenis Anemia dan Gejala Anemia

Penyebab anemia berdasarkan pendekatan kinetik (mekanisme yang berperan dalam turunnya Hb) antara lain karena berkurangnya produksi sel darah merah, meningkatnya destruksi sel darah merah serta kehilangan darah (Andriyani, 2014; Oehadian, 2012).

Klasifikasi anemia berdasarkan morfologinya antara lain :

Anemia Mikrositik Hipokromik

Anemia mikrositik merupakan anemia dengan karakteristik sel darah merah yang kecil (Mean Coepuscular Volume/MCV kurang dari 80 fL). Anemia mikrositik biasanya disertai penurunan hemoglobin dalam eritrosit, dengan penurunan MCH (mean concentration hemoglobin) dan MCV akan didapatkan gambaran mikrositik hipokromik. Penyebab anemia ini antara lain kehilangan darah kronis, defisiensi besi, penyakit kronis dan Talasemia (Oehadian, 2012).

Wanita usia reproduktif lebih cenderung untuk mengalami hipokromia karena kehilangan zat besi pada saat menstruasi. Kehilangan darah menstruasi yang berlebihan merupakan penyebab anemia defisiensi besi yang sering ditemukan di antara wanita (Kumar, 2013).

Anemia Makrositik Normokromik

Anemia makrositik merupakan anemia dengan karakteristik MCV di atas 100 fL. Defisiensi asam folat atau vitamin B12 akan menghasilkan anemia jenis ini. Kekurangan salah satu dari kedua vitamin tersebut akan menurunkan sintesis DNA, di dalam sumsum tulang sel darah merah yang berkembang berukuran lebih besar daripada ukuran normalnya (megaloblas) (Kumal, 2013).

Anemia Normositik Normokromik

Jumlah Retikulosit yang Tinggi

Jumlah retikulosit yang tinggi mengindikasi regenerasi sel darah merah yang cepat. Ada dua penyebab yaitu anemia hemolitik dan anemia post-hemoragik akut. Anemia hemolitik adalah sel darah merah mengalami kerusakan yang lebih cepat (umur sel darah merah hanya 120 hari). Sumsum tulang mengimbangi peningkatan destruksi sel darah merah dengan mempercepat eritropoiesis (peningkatan jumlah retikulosit). Ketika laju sel darah merah tidak dapat mengimbangi laju destruksi sel darah merah, maka terjadi anemia. Anemia sickle cell memiliki morfologi abnormal yaitu membuat sel-sel sabit, hal ini akan membuat kecenderung mengalami hemolisis. Anemia post-hemoragik yaitu kehilangan darah dengan jumlah yang sedikit namun dalam waktu yang lama (Kumal, 2013).

loading...

Jumlah Retikulosit yang Normal atau Rendah

Anemia normositik normokromik dengan jumlah retikulosit yang normal atau rendah dibagi menjadi anemia karena penyakit kronis dan anemia aplastik. Anemia karena penyakit kronis biasanya karena penyakit uremia, penyakit hati yang kronis dan hipotiroidisme. Anemia aplastik terjadi karena kemampuan sumsum tulang dalam memproduksi sel darah merah menurun, dapat bersifat idiopatik atau sekunder akibat obat-obatan ataupun terapi radiasi (Kumal, 2013).

Tabel 1

Klasifikasi Anemia Berdasarkan Morfologi

Ukuran MCV Penyebab
Mikrositik (MCV <80 fL) Defisiensi Fe, berkurangnya sintesis heme
Normositik (MCV 80-100 fL) Penyakit ginjal kronik, penyakit hemolitik, infeksi (malaria), gagal jantung
Makrositik (MCV >100 fL) Defisiensi vitamin B12, asam folat, anemia hemolitik  autoimun, penyakit hati, penggunaan alkohol dan hipotiroidisme.
Sumber : Oehadian, 2012

 

Anemia yang paling banyak terjadi di Indonesia adalah anemia defisiensi besi. Upaya yang dilakukan pemerintah untuk pencegahan dan menanggulangi anemia akibat kekurangan konsumsi besi antara lain meningkatkan konsumsi besi dari sumber pangan, fortifikasi besi, asam folat dan vitamin A, serta serta suplemetasi besi-asam folat dalam jangka waktu tertentu. Konsumsi besi dianjurkan terutama besi heme yang lebih mudah diserap oleh tubuh seperti hati, ikan dan daging. Selain itu perlu ditingkatkan makanan yang mendorong penyerapan besi serta membantu pembentukan hemoglobin seperti vitamin C dan vitamin A (Depkes RI, 1999).

Timbulnya tanda dan gejala klinis anemia disebabkan karena berkurangnya pengiriman oksigen ke jaringan, hal ini berhubungan dengan penurunan kadar hemoglobin. Gejala anemia pada umumnya merasa pusing, cepat lelah, letih, lesu dan lemah. Pada masa awal terjadi anemia sering kali belum menampakkan gejala, tetapi saat melakukan olah raga menjadi mudah lelah, sulit berkonsentrasi dan mudah lupa. Kondisi yang seperti ini jika dibiarkan akan menimbulkan gejala seperti kulit pucat, jantung berdebar-debar, pusing/vertigo serta mudah kehabisan nafas saat naik tangga atau olah raga (Kalliopi, 2013; Tarwoto, dkk., 2010).

Bahan Bacaan

Andriyani, M. dan Bambang Wirjatmadi. 2014. Pengantar Gizi Masyarakat. Jakarta : Kencana Prenada Media Group.

Kirana, D. P. 2011. Hubungan Asupan zat Gizi dan Pola Menstruasi dengan Kejadian Anemia pada Remaja Putri di SMAN 2 Semarang. Artikel Penelitian. Universitas Diponegoro, Semarang.

Kumar, R., 2013. Dasar-dasar Patofisiologi Penyakit. Dalam Insan Sosiawan (Ed). Tanggerang : Binarupa Aksara.

Kurshed, A. Abbas Mohammad, et. al., 2010. Dietary Intake, Physical Activities and Nutritional Status of Adolescent Girls in an Urban Population of Bangladesh. Ibrahim Medical Coll. Journal. 4(2): 78-82.

Oehadian, A. 2012. Pendekatan Klinis dan Diagnosis Anemia. CDK-194, Vol. 39, No. 6.

Tarwoto, dkk., 2010.  Kesehatan Remaja problem dan Solusinya. Jakarta : Salemba Medika.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here