Home Informatika Membangun Daya Tarik Merek

Membangun Daya Tarik Merek

201
0
SHARE
Branding
manajerial merek

Era digital seolah melipat jarak anatara manusia dengan lainnya, semua kegiatan di dunia bisa kita saksikan melalui genggaman tangan. Jarak dalam satuan kilometer tak lagi menjadi penghalang untuk melakukan interaksi, entah itu sekadar untuk urusan keluarga ataupun urusan perdagangan. Hal tersebut, tentu membuat persaingan bisnis menjadi lebih ketat. Setiap perusahaan berlomba untuk memenuhi kepuasan pelanggan.

Berbagai upaya yang dilakukan perusahaan dalam memenuhi kebutuhan pelanggan, salah satu di antaranya berdampak pada munculnya berbagai merek baru. Merk baru bersaing untuk mencuri tempat di hati konsumen. Pada posisi demikian, konsumen memiliki banyak pilihan demi mencukupi kebutuhannya akan suatu produk.

Perusahaan berusaha memasarkan produk mereka melalui iklan dengan menawarkan berbagai klaim serta janji terhadap konsumen, disinilah peran sebuah merek memegang elan vital sebuah perusahaan. Daya tarik sebuah merek menjadi sesuati yang penting dalam menghadapi ketatnya persaingan pasar. Merek diyakini mempunyai kekuatan yang dahsyat untuk memikat hati orang untuk membeli produk atau jasa yang diwakilinya, keputusan pembelian pun lebih sering didasarkan pada pertimbangan merek daripada hal lain.

Merek sering kali dipahami sebagai nama yang merepresentasikan sebuah produk secara menyeluruh. Entah produk itu berupa jasa ataupun produk itu sendiri. Semua itu merupakan suatu kesatuan yang diwakili oleh sebuah simbol yang bernama merek.

Untuk membangun suatu merek diperlukan suatu strategi manajemen yang baik agar produk yang ditawarkan dapat dikonsumsi atau dipilih oleh konsumen dan mereka  menjadi pengguna yang loyal terhadap produk-produk yang ditawarkan.

Merek

Sebelum mencari tahu cara yang paling mudah (dan tentu saja murah) untuk membangun merek bagi sebuah usaha, terlebih dahulu harus membangun batasan tentang arti dari merek itu sendiri. Pada awalnya merek hanyalah sebuah nama untuk membedakan, pada perkembangan selanjutnya merek bisa menjadi nama yang dianggap mewakili sebuah objek setelah itu merek dianggap sebagai simbol dan kemudian berkembang menjadi citra. Merek merupakan sarana bagi perusahaan untuk mengembangkan dan memelihara loyalitas pelanggan.

American Marketing Association mendefinisikan merek sebagai nama, istilah, tanda, symbol atau rancangan, atau kombinasi hal-hal tersebut, yang dimaksudkan untuk mengidentifikasikan barang atau jasa dari seseorang atau sekelompok penjual dan untuk membedakannya dari produk persaing.

Pengertian ini kemudian diadaptasi dalam Undang-Undang Merek No. 15 tahun 2001 Pasal 1 ayat 1, yang mengartikan merek sebagai tanda yang berupa gambar nama, kata, huruf-huruf, angka-angka, susunan warna atau kombinasi dari unsur-unsur tersebut yang memiliki daya pembeda dan digunakan dalam kegiatan perdagangan barang atau jasa.

David A. Aaker – penulis buku Managing Brand Equity : Capitalizing on The Value of Brand Name– menyebut merek sebagai nama dan atau symbol yang bersifat membedakan untuk mengidentifikasikan barang atau jasa dari seorang penjual atau kelompok penjual tertentu, serta membedakannya dari barang atau jasa yang dihasilkan oleh para pesaing (A.B. Susanto dan Himawan Wijanarko, 2004).

Merek memiliki dua fungsi utama, yaitu (1) sebagai pemberi identitas bagi produk atau jasa dalam bisnis Anda, (2) sebagai Pembeda produk atau jasa dalam bisnis Anda dengan para pesaing. Perkembangan merek selanjutnya dipengaruhi oleh perubahan internal maupun eksternal. Merek adalah indicator value yang ditawarkan oleh perusahaan kepada pelanggan. Merek merupakan asset yang menciptakan value dimana value sebagai total get atau semua manfaat yang didapat oleh pelanggan dibagi total give atau semua pengorbanan yang diberikan oleh pelanggan.

Kesalahan utama yang sering dilakukan oleh orang umum maupun para eksekutif dan pemilik perusahaan, mereka terjebak pada kerancuan antara merek (brand) dengan nama merek (brand name). untuk dapat menjalankan kedua fungsinya itu, haruslah didukung oleh berbagai hal dalam perusahaan, seperti produk/jasa, sumber daya manusia, kultur perusahaan, cara berkomunikasi, hingga hal-hal kecil seperti penataan ruang yang sesuai dengan kesan yang ingin ditanamkan dalam benak konsumen.

Menyusun Konsep Merek

Komunikasi pemasaran memiliki peran kunci dalam membentuk citra merek dan dalam meningkatkan penjualan sebuah merek. Ketatnya situasi persaingan usaha, perkembangan teknologi, dan perubahan perilaku konsumen membuat pemasar harus menerapkan komunikasi pemasaran terpadu. Strategi penempatan merek adalah salah satu strategi dalam komunikasi pemasaran terpadu. Strategi ini dinilai lebih efektif dibandingkan strategi komunikasi iklan melalui media televisi. Konsep strategi penempatan merek sudah ada sejak lama dan terus berkembang seiring dengan perkembangan peradaban manusia. Dengan mempelajari, memahami dan mengimplementasikan strategi tersebut, perusahaan dapat memaksimalkan sumber daya yang dimilikinya untuk mencapai tujuan komunikasi pemasaran secara efektif dan efisien.

Brand-concept management adalah upaya untuk meningkatkan ekuitas dan loyalitas konsumen yang berkelanjutan. Dimana manajemen konsep merek ini dapat didefinisikan sebagai proses perencanaan, implementasi, dan pengendalian suatu konsep merek sepanjang masa hidup merek tersebut. Menyusun suatu konsep atau arti merek yang spesifik dapat dicapai melalui pemenuhan salah satu dati tiga kategori kebutuhan konsumen, yaitu kebutuhan fungsional, kebutuhan simbolik, atau experiential. Konsumen mempunyai kebutuhan, sedangkan merek mepunyai atribut dan cirri yang dapat memuaskan kebutuhan-kebutuhan tersebut. Oleh karena itu, manfaat merek adalah kemampuannya dalam memuaskan kebutuhan konsumen.

loading...

Manajemen konsep merek yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan fungsional (functional needs) berusaha untuk menyediakan solusi bagi masalah-masalah konsumsi atau potensi permasalahan yang dapat dihadapi oleh konsumen. Pemenuhan kebutuhan fungsional adalah bentuk yang paling nyata dari manajemen konsep merek. Secara berkala, pemasar consumer goods juga berusaha untuk memenuhi kebutuhan konsumen akan kenyamanan, keamanan, kesehatan, kebersihan, dan lain-lain. Keseluruhan itu merupakan kebuthan fungsional yang dapat dipenuhi oleh manfaat merek. Contohnya, pada iklan obat nyamuk elektrik. Iklan tersebut adalah suatu alat pemenuhan kebutuhan konsumen untuk membunuh nyamuk dan dapat memberikan kenyamanan dengan tidak adanya asap yang menganggu tidur. Dapat menjaga kesehatan saat tidur, karena tidak ada asap yang menganggu pernapasan..

Pemenuhan kebutuhan simbolis (symbolic needs) diarahkan pada keinginan konsumen dalam upaya memperbaiki diri, dihargai sebagai anggota dari suatu kelompok, afiliasi, dan rasa memiliki. Manajemen konsep merek yang ditujukan bagi pemenuhan kebutuhan simbolis ini berupaya mengasosiasikan kegunaan merek dengan kelompok, peran, atau citra diri yang diinginkan. Contohnya dapat kita lihat pada iklan rokok. Pada iklan rokok, penyajian iklan dan merek yang disuguhkan membuat konsumen tahu bahwa rokok hanya dikhususkan bagi kaum pria saja. Menunjukan bahwa lelaki yang mengkonsumsi rokok terlihat keren dan gentle.

Pemenuhan kebutuhan experiential (experiential needs) merupakan representasi dari keinginan mereka akan produk yang dapat memberikan rasa senang, keanekaragaman, dan stimulasi kognitif. Manajemen konsep merek ini diarahkan pada kebutuhan experiential mempromosikan merek sebagai sesuatu yang istimewa dan mempunyai cita rasa yang tinggi atau kaya dengan potensi stimulais kognitif. Dapat kita lihat pada iklan shampoo. Dalam iklan shampoo, laki-laki terlihat sangat terpesona pada keindahan rambut wanita yang menggunakan shampoo, hingga lelalki tersebut seolah berselancar diatas rambutnya yang berkilau. Hal ini menunjukkan bahwa Shampoo memiliki kemampuan untuk menciptakan rambut yang indah dan halus, sehingga jika ada wanita yang mengkonsumsi shampoo dalam iklan tersebut, rambut mereka akan terlihat indah mempesona.

PENUTUP

Berdasarkan uraian di atas, penulis dapat mengambil kesimpulan bahwa dalam Komunikasi pemasaran memiliki peran penting dalam menciptakan daya tarik sebuah merek.  Dalam mengelola merek diperlukan kerangka kerja yang berbasis kerangka kerja manajemen pemasaran. Pelanggan harus benar-benar dijadikan subyek dan bukannya obyek Perusahaan harus mencanangkan tujuan berdasarkan visi jauh ke depan membina hubungan jangka panjang dengan lingkungan yang akan meningkatkan kepuasan konsumen dan pada gilirannya akan memberikan konstribusi bagi kesejahteraan bagi pemilik usaha.

Merek tidak bisa berdiri sendiri tanpa didukung upaya-upaya pemasaran yang efektif dan organisasi yang solid bahkan merek yang kuat bisa punya efek negatif yang akan menghancurkan merek itu sendiri kalau dukungan yang dibutuhkan untuk kesuksesannya tidak memadai.

 

Bahan Bacaan

Aaker, D. A. 1996. Building Strong Brands. New York : The Free Press.

Drawbaugh, Kevin, 2001 “Brands in The Balance : Meeting The Challenges to Commercial Identity”, London : Pearson Education

Kartajaya, Hermawan. 2004. On Brand: Seri 9 Elemen Marketing. Penerbit Mizan dan Mark Plus& Co. Bandung.

Kotler, Philip; Ang, Swee Hong; Leong, Siew Meng; Tan, Chin Tiong, 2005: “Manajemen Pemasaran Sudut Pandang Asia”, Edisi Ketiga, Jilid Kedua, Jakarta : Indeks

Kurnia, Kafi. 2004. Anti Marketing. Penerbit Akur dan Gatra Pustaka. Indonesia

Saladin, Djaslim. 2003. Manajemen Strategi & Kebijakan Perusahaan. Penerbit Linda Karya. Bandung.

Susanto, A.B. dan Wijanarko, Himawan. 2004. Power Branding, Membangun Merek Unggul dan Organisasi Pendukungnya . Penerbit Linda Karya. Bandung

Trout, Jack. 2001. Big Brands Big Trouble. John Wiley & Sons

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here