Home Kesehatan Hubungan antara Kebiasaan Sikap Duduk dengan Terjadinya Derajat Skoliosis

Hubungan antara Kebiasaan Sikap Duduk dengan Terjadinya Derajat Skoliosis

351
0
SHARE
Dampak Salah duduk
Kebiasaan salah duduk

Mukadimah

Kebiasaan duduk dapat menimbulkan nyeri pinggang apabila duduk terlalu lama dengan sikap yang salah, hal ini dapat menyebabkan otot punggung akan menjadi tegang dan dapat merusak jaringan disekitarnya terutama bila duduk dengan posisi terus membungkuk atau menyandarkan tubuh pada salah satu sisi tubuh. Posisi itu menimbulkan tekanan tinggi pada saraf tulang setelah duduk selama 15 sampai 20 menit otot punggung biasanya mulai letih maka mulai dirasakan nyeri punggung bawah namun orang yang duduk tegak lebih cepat letih, karena otot-otot punggungnya lebih tegang sementara orang yang duduk membungkuk kerja otot lebih ringan namun tekanan pada bantalan saraf lebih besar. Orang yang duduk pada posisi miring atau menyandarkan tubuh pada salah satu sisi tubuh akan menyebabkan ketidakseimbangan tonus otot yang menyebabkan skoliosis (Anonim dalam Sari, 2013).

Skoliosis merupakan kelainan-kelainan pada rangka tubuh berupa kelengkungan tulang belakang, dimana terjadi pembengkokan tulang belakang ke arah samping kiri atau kanan atau kelainan tulang belakang pada bentuk C atau S. Tanda umum skoliosis antara lain tulang bahu yang berbeda, tulang belikat yang menonjol, lengkungan tulang belakang yang nyata, panggul yang miring, perbedaan antara ruang lengan dan tubuh (Rosadi, 2008).

Duduk dengan sikap miring ke samping akan mengakibatkan suatu mekanisme proteksi dari otot-otot tulang belakang untuk menjaga keseimbangan, manifestasi yang terjadi justru overuse pada salah satu sisi otot yang dalam waktu terus menerus dan hal yang sama terjadi adalah ketidakseimbangan postur tubuh ke salah satu sisi tubuh. Jika hal ini berlangsung terus menerus pada sistem muskuloskeletal tulang belakang akan mengalami bermacam-macam keluhan antara lain nyeri otot, keterbatasan gerak (range of motion) dari tulang belakang atau back pain, kontraktur otot, dan penumpukan problematika akan berakibat pada terganggunya aktivitas kehidupan sehari-hari bagi penderita, seperti halnya gangguan pada sistem pernafasan, sistem pencernaan, dan sistem kardiovaskuler (Gempur, 2013).

Pertumbuhan merupakan faktor resiko terbesar terhadap memburuknya pembengkokan tulang belakang. Lengkukan skoliosis idiopatik kemungkinan akan berkembang seiring pertumbuhan. Biasanya, semakin muda waktu kejadian pada anak yang struktur lengkungnya sedang berkembang maka semakin serius prognosisnya. Pada umumnya struktur lengkungan mempunyai kecenderungan yang kuat untuk berkembang secara pesat pada saat pertumbuhan dewasa, dimana lengkungan kecil non struktur masih fleksibel untuk jangka waktu yang lama dan tidak menjadi semakin parah, tetapi skoliosis tidak akan memburuk dalam waktu yang singkat. Skoliosis dapat menyebabkan berkurangnya tinggi badan jika tidak diobati.

Sikap duduk yang salah pada pelajar dapat menimbulkan terjadinya skoliosis dan perlu diketahui, keadaan meja/kursi juga dapat berpengaruh terhadap sikap duduk pelajar. Bila posisi duduk yang salah berlangsung terus menerus pelajar beresiko mengalami kelainan postur. Jika tidak segera dikoreksi akan terjadi perubahan pada fisik pelajar, seperti bahu tinggi sebelah, kepala miring, panggul tinggi sebelah dan adanya tonjolan di punggung. Kondisi ini biasanya ditandai dengan adanya ketegangan otot. Kelainan tersebut dapat dikoreksi dengan sejumlah latihan dan melakukan senam khusus untuk memperbaiki postur tubuhnya. Tetapi pada pelajar jika hal ini tidak ditindak lanjuti kurva skoliosis akan mengalami progresivitas selama masa pertumbuhan, sehingga perlu menggunakan alat tertentu atau menjalani operasi. Jika dibiarkan dalam waktu yang lama maka derajat kurva skoliosis akan terus meningkat dan menimbulkan permasalahan diantaranya kesehatan mental, komplikasi jantung paru dan keterbatasan fungsi (Buyks et al., 2010).

Pemeriksaan yang paling sederhana adalah Adam Forward Bending Test. Cara melakukannya cukup dengan menyuruh pasien untuk menyentuh ujung jari kaki dari posisi berdiri. Tetapi dengan test ini tidak dapat melihat seberapa besar derajat skoliosis yang terjadi. Untuk mengukur derajat skoliosis yaitu dengan menggunakan inclinometer sehingga dapat diketahui besar derajat skoliosis pada rib hump pelajar tersebut. Hal ini disebabkan karena adanya rotasi pada daerah thorakal.

Peran fisioterapi dalam penanganan skoliosis ialah mengatasi masalah nyeri, spasme otot atau kaku, penurunan kekuatan otot, ketidakseimbangan dan stabilitas tulang belakang, serta kurangnya rasa percaya diri dengan melakukan terapi latihan berupa penguluran dan penguatan otot-otot, koreksi postur dan edukasi aktivitas sehari-hari.

Kesehatan adalah dasar untuk meraih kesejahteraan hidup di dunia ini karena sebanyak apapun nikmat yang dimiliki, menjadi tidak bermakna bila seseorang jatuh sakit. Rasullallah mengatakan, “orang yang memasuki pagi hari dengan kesehatan yang baik, aman di tempat kediamannya dan memiliki makanan hariannya maka seolah-olah seluruh kehidupan dunia ini telah dianugrahkan kepadanya,” (HR At-Turmudzi). Dalam hadits tersebut, kesehatan disejajarkan nilainya dengan rumah yang melindungi. Menjaga kesehatan menjadi hal penting yang harus dilakukan oleh manusia agar tercipta kehidupan yang bermakna dan berguna bagi diri sendiri maupun masyarakat sekitar. Dengan hal tersebut kehidupan seseorang akan lebih berarti dan berkualitas (Al Fanjari, 2007).

 

Tinjauan Pustaka

Sikap Duduk

Sikap duduk saat belajar ternyata sangat berpengaruh terhadap kenyamanan, pada siswa yang sedang melaksanakan kegiatan belajar. Sikap duduk yang salah sering memicu keluhan yang bisa berakibat terganggunya postur tubuh. Kegiatan pelajar dengan posisi duduk mempunyai perilaku yang berbeda-beda, sehingga memungkinkan untuk duduk dengan berbagai macam posisi.

Menurut Parjoto (2007), menjelaskan ada beberapa sikap duduk adalah sebagai berikut:

  • Duduk tegak

Posisi duduk tegak dengan sudut 90o tanpa sandaran dapat mengakibatkan beban pada daerah lumbal. Hal ini disebabkan karena otot berusaha meluruskan tulang punggung dan daerah lumbal, yang memikul berat beban yang lebih besar.

  • Duduk condong kedepan

Posisi duduk dengan beban condong kedepan/ membungkuk dengan sudut 70o dapat menambah gaya pada discus lumbalis kurang lebih 90% lebih besar dibandingkan posisi berdiri membungkuk. Posisi leher condong kedepan dengan badan membungkuk mengakibatkan beban kerja otot berkurang namun beban yang ditahan discus meningkat.

  • Duduk menyandar

Posisi menyandar dengan sudut 135o adalah posisi yang paling nyaman, karena posisi menyandar mengikuti proporsi tubuh dapat mengurangi tekanan discus sekitar 25%, namun permasalahan pada posisi ini target visual terlalu jauh atau terlalu rendah.

 

Sikap duduk yang benar adalah :

  • Duduk tegak dengan punggung lurus dan bahu ke belakang. Paha menempel di dudukan kursi dan bokong harus menyentuh bagian belakang kursi.
  • Pusat beban tubuh pada satu titik agar seimbang. Usahakan jangan sampai membungkuk. Jika diperlukan, kursi dapat ditarikmendekati meja belajar agar posisi duduk tidak membungkuk.
  • Posisi lutut mempunyai peranan penting juga. Untuk itu tekuklah lutut hingga sejajar dengan pinggul. Usahakan untuk tidak menyilangkan kaki. Selama duduk, istirahatkan siku dan lengan pada kursi, jaga bahu tetap rileks.
  • Usahakan istirahat setiap 30-45 menit dengan cara berdiri, peregangan sesaat, atau berjalan-jalan di sekitar tempat duduk, untuk mengembalikan kebugaran tubuh agar dapat lebih berkonsentrasi dalam belajar.
  • Jangan memuntir punggung anda. Jika ingin mengambil sesuatu di samping atau di belakang, putar seluruh tubuh sebagai satu kesatuan (Nurmianto, 2008).

Gambar 2.1 Sikap duduk yang benar (Nurmianto, 2008)

 

Sikap duduk yang salah

Sikap duduk yang menyebabkan posisi bagian tubuh bergerak menjauhi posisi alamiah misalnya membungkuk, duduk tegak tapi kaku, miring kekanan atau kiri, dan sebagainya. Posisi-posisi tersebut merupakan posisi yang beresiko dan berpotensi menyebabkan kelainan pada tulang belakang. Kebiasaan sikap tubuh yang salah dapat menyebabkan perubahan kelengkungan tulang belakang. Kelainan itu berupa : a). Tulang belakang yang melengkung atau  membengkok ke arah depan disebut juga kifosis, b). tulang belakang yang terlalu membengkok ke belakang atau disebut lordosis, c). tulang belakang yang terlalu melengkung atau membengkok ke samping kanan atau samping kiri disebut skoliosis. Karena itu agar kita tidak mengalami kelainan seperti di atas, dianjurkan kita duduk pada posisi yang benar (Muheri, 2010).

 

 

Gambar 2.2 Sikap duduk membengkok kedepan saat bekerja (Parjoto, 2007)

 

Gambar 2.3 Sikap duduk membengkok kedepan saat belajar (Parjoto, 2007)

 

Gambar 2.4 Sikap duduk membengkok kesamping saat belajar (Parjoto, 2007)

Gambar 2.5 Sikap duduk terlalu membengkok kebelakang saat belajar (Parjoto, 2007)

 

Akibat sikap duduk yang salah

Sikap duduk yang tidak benar saat belajar akan mempengaruhi tulang belakang anak terutama pada perkembangan otot dan tulang belakangnya. Sebab, otot-otot dan tulang belakang tersebut dipaksa bekerja ekstrakeras untuk melakukan penyesuaian dengan posisi tubuh. Akibatnya terjadilah ketegangan otot yang berpotensi menimbulkan beragam keluhan. Di antaranya nyeri bahu, nyeri leher, mudah lelah, sakit kepala, dan sebagainya. Kenyataan yang terlihat bahwa untuk postur tubuh anak usia sekolah sekarang tampak lebih besar dibandingkan dengan anak terdahulu. Hal ini menunjukkan bahwa pertumbuhan tubuh anak usia sekolah sekarang meningkat seiring dengan kecukupan gizi yang baik (Muheri, 2010).

Sikap duduk yang menyebabkan skoliosis

Banyak sekali faktor yang dapat mengakibatkan tulang belakang menjadi terganggu fungsinya, namun faktor yang sangat mendukung atau faktor utama yang dapat menimbulkan terjadinya gangguan tersebut yaitu akibat dari sikap duduk yang kurang diatur dan salah. Sikap duduk yang salah cenderung akan menimbulkan memberatnya kerja tulang dalam menyanggah tubuh, sehingga terganggunya postur tulang yang nantinya akan timbul bahaya berupa tumbuhnya kelainan-kelainan pada tulang seperti skoliosis (Muheri, 2010).

loading...

Skoliosis

Skoliosis adalah suatu kelainan yang menyebabkan suatu lekukan yang abnormal dari spine (tulang belakang) ke arah lateral, hal ini biasanya disebabkan oleh idiophatik skoliosis (70% – 80% dari kasus) tidak diketahui penyebabnya. Spine mempunyai lekukan-lekukan yang normal ketika dilihat dari samping, namun tampak lurus ketika dilihat dari depan. Skoliosis kelainan tiga dimensi tulang belakang, dapat berupa : kurva primer (menyerupai huruf C), atau dua kurva (membentuk huruf S). Skoliosis dapat terjadi pada thoracal dan lumbal, namun paling sering terjadi di daerah antara thorakal dan lumbal (Gutknecht, 2009).

Skoliosis dapat dibagi menjadi dua yaitu skoliosis struktural dan non struktural (postural). Pada skoliosis non struktural, deformitas bersifat sekunder atau sebagai kompensasi terhadap beberapa keadaan diluar tulang belakang, misalnya dengan kaki yang pendek, atau kemiringan pelvis akibat kontraktur pinggul, bila pasien duduk atau dalam keadaan fleksi maka kurva tersebut menghilang. Pada skoliosis struktural terdapat deformitas yang tidak dapat diperbaiki pada segmen tulang belakang yang terkena (Judarwanto, 2009).

Kategori Skoliosis

Berat ringannya skoliosis tergantung dari besarnya derajat kurva skoliosis, klasifikasi derajat skoliosis menurut Mujianto (2016), terbagi menjadi:

  • Skoliosis ringan (<20 derajat). Skoliosis ringan tidak serius dan tidak memerlukan penanganan, hanya perlu monitoring secara periodik.
  • Skoliosis sedang (antara 25-70 derajat). Masih belum jelas meskipun tidak ditangani dengan baik bisa menimbulkan gangguan pada jantung.
  • Skoliosis berat (>70 Derajat). Jika kurva melebihi 70 derajat, terjadi perputaran/rotasi dari vertebra yang terjadi pada struktural skoliosis yang dapat menyebabkan tulang iga menekan paru, menghambat proses pernafasan, dan menurunkan kadar oksigen yang diperlukan, hal ini juga dapat membahayakan organ jantung.
  • Skolisis sangat berat (>100 derajat). Jika kurva skoliosis melebihi 100 derajat, hal ini dapat melukai paru dan jantung. Penderita skoliosis sangat berat ini dapat menimbulkan infeksi pada paru/pneumonia. Kurva skoliosis yang melebihi 100 derajat meningkatkan resiko angka kematian, tetapi sangat jarang terjadi di Amerika.

Terdapat 3 penyebab umum dari skoliosis :

  • Kongenital (bawaan), biasanya berhubungan dengan suatu kelainan dalam pembentukan tulang belakang atau tulang rusuk yang menyatu.
  • Neuromuskuler, pengendalian otot yang buruk atau kelemahan otot atau kelumpuhan akibat penyakit berikut : Cerebal palsy, Distropi otot, Polio, serta, Osteoporosis juvenil.
  • Idiopatik, penyebabnya tidak diketahui.

Skoliosis idiopatik infantil

Kelengkungan vertebra berkembang saat lahir sampai usia 3 tahun. Skoliosis idiopatik infantil terjadi sebelum usia 3 tahun, dimana lebih sering terjadi pada laki-laki daripada perempuan dan sebagian besar torakal melengkung ke kiri.

Skoliosis idiopatik juvenil

Skoliosis idiopatik juvenil terjadi pada umur 4-10 tahun. Berbagai bentuk dapat terjadi  namun kurva torakal biasanya ke kanan. Skoliosis juvenil biasanya lebih progresif dari adolescent.

Skoliosis idiopatik adolescent

Skoliosis idiopatik adolescent terjadi pada umur 10 tahun atau lebih hingga akhir masa pertumbuhan tulang (16-17 tahun), skoliosis jenis ini paling sering terjadi pada remaja putri (Corwin, 2007).

Perawatan Skoliosis

Perawatan skoliosis yang dilakukan akan didasari kepada tingkat keparahan, usia, lokasi dan pola lengkungan, serta jenis kelamin penderita. Beberapa perawatan yang bisa dilakukan adalah sebagai berikut.

Observasi dengan pemeriksaan fisik dan X-ray dapat dilakukan tiap empat hingga enam bulan untuk memantau perkembangan lengkungan. Kebanyakan skoliosis yang diderita anak-anak tidak parah dan tidak memerlukan perawatan karena tulang yang melengkung bisa kembali normal seiring perkembangan anak.

Penyangga diperlukan untuk menghentikan lengkungan tulang belakang bertambah parah dan biasanya diberikan kepada penderita skoliosis anak-anak dalam usia pertumbuhan. Walau tidak bisa menyembuhkan skoliosis, memakai penyangga bisa mencegah skoliosis bertambah parah.

Perawatan dengan menggunakan obat-obatan biasanya diberikan kepada penderita skoliosis dewasa dan bertujuan meredakan rasa nyeri. Obat yang diberikan biasanya parasetamol atau obat antiinflamasi non-steroid (AINS), seperti ibuprofen. Jika kondisi yang dialami cukup parah, dokter mungkin akan menyuntikan obat steroid untuk meredakan nyeri, walau hanya untuk jangka pendek.

Operasi hanya dilakukan jika perawatan skoliosis lainnya tidak berhasil. Operasi akan memperkuat tulang belakang dengan menggunakan sekrup dan tangkai baja. Selain itu, dewasa dengan kelainan piring sendi tulang belakang bisa melakukan operasi dekompresi untuk mengangkat tulang yang menekan saraf tersebut. Walau jarang terjadi, namun operasi memiliki beberapa risiko, seperti pasien mengalami pergeseran tangkai baja, infeksi, pembekuan darah serta kerusakan saraf.

Komplikasi Skoliosis

Komplikasi akibat skoliosis dapat terjadi jika tidak ditangani dengan baik, namun hal ini jarang terjadi. Berikut ini adalah beberapa komplikasi skoliosis yang mungkin terjadi.

  • Masalah jantung dan paru-paru. Pada skoliosis yang parah atau yang tulang belakangnya melengkung lebih dari 70 derajat akan mengalami kesulitan bernapas dan jantung akan kesulitan untuk memompa darah ke seluruh tubuh sebagai akibat tertekannya jantung dan paru-paru oleh rongga dada. Kondisi ini bisa mengakibatkan penderita terserang pneumonia (infeksi paru), hingga gagal jantung.
  • Masalah punggung. Nyeri punggung jangka panjang dan artritis biasanya menimpa orang dewasa yang saat kecil menderita kondisi skoliosis.
  • Masalah saraf. Penderita dewasa dengan kondisi tulang menekan saraf berpotensi mengalami komplikasi seperti nyeri punggung, kaki lemas atau mati rasa, tidak dapat menahan pengeluaran air seni atau tinja, hingga kesulitan ereksi bagi pria.

 

 

Kepustakaan:

Al Fanjari, AS. 2007. Nilai Kesehatan Dalam Syari’at Islam. Jakarta: Pustaka Ilmi.

Buyks D, Clough J, Jaspersen L. 2010. Axemanation Of The Physical Therapy Objective Treatmens And Outcome Use For Patient’s In Adolecent Idiophatic Scoliosis. September. Phisycal Therapy. University Of Alberta.

Corwin, EJ. 2007. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta: Aditya Media.

Gempur, Santoso. 2013. Ergonomi Terapan. Jakarta: Prestasi Pustaka Raya. Edisi Pertama.

Gutknecht, S, John Lonstein and Tom Novacheck. 2009. Adolencet Idiopathic Scoliosis: Screening, Treatment, And Reverral vol 18. Minneapolis: Gillette Children’s Speciality Healtcare.

Judarwanto, W. 2009. “Gangguan Bentuk Tulang Punggung : Scoliosis”. Koran Anak Indonesia. 13 Desember 2009.available from : URL: http:/12/13/gangguan.bentuk-tulang-punggung.scoliosis/html

Muheri, A. 2010. “Hubungan Usia, Lama Duduk dan Posisi Duduk Terhadap Keluhan Nyeri Punggung Pada Pekerja Wanita di Home Industri Kipas Desa Bayon Utara Pendowoharjo Sewon Bantul”(skripsi). Yogyakarta. Universitas Ahmad Dahlan.

Mujianto.  (2016). Hands On Therapy:Scientific & Clinical Hands On Therapy. Bali: Eagle East Publisher.

Mujianto. 2013. Cara Cepat Mengatasi 10 Besar Kasus Muskuloskeletal Dalam Praktik Klinik Fisioterapi. Jakarta: (Trans Info Media)TIM.

Nurmianto, Eko. 2003. Ergonomi Konsep Dasar dan Aplikasinya. Surabaya: Guna Widya. Edisi Kedua. Cetakan Kedua. 2008.

Parjoto, S. 2007. Pentingnya Memahami Sikap Tubuh Dalam Kehidupan. Majalah Fisioterapi Indonesia Vol. 7 No.11/Mei. Jakarta: IFI Graha Jati Asih.

Rosadi, R. 2008 “Hubungan Sikap Duduk dengan Terjadinya Scoliosis Pada Anak umur 10 -12 tahun di SD Pabelan”(skripsi). Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Sari, Suriani. 2013. Swiss Ball Exercise Dan Koreksi Postur Tidak Terbukti Lebih Baik Dalam Memperkecil Derajat Skolisis Idiopatik Daripada Klapp Exercise Dan Koreksi Postur Pada Anak Usia 11 – 13 Tahun (Tesis). Denpasar: Universitas Udayana.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here