Home Bahasa Aspek Pragmatik: Tindak Tutur

Aspek Pragmatik: Tindak Tutur

240
0
SHARE
Tindak Tutur
Aspek Pragmatik

Linguistik sebagai aspek kajian bahasa memiliki berbagai cabang. Semantik, Pragmatik, Morfologi, Sintaksi, Dan Fonologi adalah cabang-cabang dari linguistik. Fonologi, Morfologi, Sintaksi, dan Semantik mempelajari struktur bahasa secara internal yang berhubungan dengan unsur bagian dalam bahasa. Semantik dan Pragmatik memiliki kesamaan, yaitu cabang-cabang ilmu bahasa yang menelaah makna-makna satuan bahasa. Namun, di antara kedua cabang ilmu bahasa itu memiliki perbedaan, yaitu semantik mempelajari makna satuan bahasa secara internal sedangkan pragmatik mempelajari makna satuan bahasa secara eksternal. Tulisan ini mengurai salah satu aspek pragmatik yakni tentang tindak tutur.

Pengertian Tindak Tutur

Menurut Yule (2006:82), tindak tutur merupakan tindakan-tindakan yang ditampilkan lewat tuturan dan dalam bahasa inggris secara umum diberi label yang lebih khusus, misalnya permintaan maaf, keluhan, pujian, undangan, janji, atau permohonan. Selanjutnya menurut Suwito (1983:33) sebagaimana dikutip oleh Rohmadi (2010:32), peristiwa tutur merupakan gejala sosial, terdapat interaksi antara penutur dalam situasi tertentu, maka tindak tutur lebih cenderung sebagai gejala individual bersifat psikologis dan ditentukan oleh kemampuan bahasa penutur dalam menghadapi situasi tertentu.

Menurut Chaer (1995:65) sebagaimana dikutipoleh Rohmadi (2010:32), “tindak tutur (speech act) merupakan gejala individual yang bersifat psikologis dan keberlangsungannya ditentukan oleh kemampuan bahasa si penutur dalam menghadapi situasi tertentu. Berdasarkan uraian pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa tindak tutur sebagai gejala sosial  yang berupa interaksi antara penuturandalam situasi tertentu keberlangsungannya ditentukan oleh kemampuan bahasa si penutur.

Peristiwa Tutur

Setiap komunikasi antar individu pasti saling menyampaikan informasi yang berupa pikiran, gagasan, maksud, perasaan maupun informasi secara langsung. Maka, dalam setiap proses komunikasi terjadilah peristiwa tutur. Menurut Suwito (1994:36) sebagaimana dikutip olehRohmadi (2010:29), peristiwa tutur merupakan serangkaian tindak tutur yang terorganisasikan untuk mencapai suatu tujuan. Hal senada diungkapakan oleh Chaer (1995:61) sebagaimana dikutip oleh Rohmadi (2010:32), peristiwa berlangsungnya interaksi linguistik dalam satu bentuk ujaran atau lebih yang melibatkan dua pihak, yaitu penutur dan lawan tutur dengan satu pokok tuturan di dalam waktu, tempat, dan situasi tertentu.

Menurut Rohmadi (2010:32), menyimpulkan bahwa peristiwa tutur  merupakan satu rangkaian tindak tutur dalam satu bentuk ujaran atau lebih yang melibatkan dua pihak, yaitu penutur dan lawan tutur dengan satu pokok tuturan dalam waktu, tempat dan situasi tertentu. Istilah-istilah deskriptif untuk tindak tutur yang berlainan digunakan untuk maksud komunikatif penutur dalam menghasilkan tuturan. Penutur biasanya berharap maksud komunikatifnya akan dimengrti oleh pendengar. Penutur dan pendengar biasanya terbantu oleh keadaan disekitar lingkungan tuturan itu. Keadaan semacam ini termasuk juga tuturan-tuturan yang disebut peristiwa tutur. Yule (2006:82).

Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa peristiwa tutur merupakan suatu rangkaian tindak tutur dalam suatu bentuk ujaran atau lebih yang melibatkan dua pihak dalam waktu, tempat, dan situasi tertentu untuk mencapai satu tujuan.

JenisTindak Tutur

Menurut Wijana (1996:4) sebagaimana dikutip oleh Rohmadi (2010:35-38), tindak tutur dapat dibedakan menjadi berikut ini:

a. Tindak tutur langsung dan tidak langsung

Secara formal berdasarkan modusnya, kalimat dibedakan menjadi kalimat berita, kalimat tanya, dan kalimat perintah. Secara konvensional kalimat berita digunakan untuk memberikan suatu informasi, kalimat tanya untuk menanyakan sesuatu, dan kalimat perintah untuk menyatakan perintah, ajakan, permintaan atau permohonan. Kalimat berita difungsikan secara konvensional untuk mengatakan sesuatu, kalimat tanya untuk bertanya, dan kalimat perintah untuk menyuruh, mengajak, memohon dan sebagainya maka akan terbentuklah tindak tutur langsung. Sebagai contoh; Yuli merawat ayahnya. Siapa orang itu/ Ambilkan buku saya! Ketiga kalimat merupakan kalimat tindak tutur langsung yang berua kalimat berita, tanya, dan perintah.

Tindak tutur tidak langsung ialah tindak tutur untuk memerintah seseorang melakukan sesuatu secara tidak langsung. Tindakan ini dilakukan dengan memanfaatkan kalimat berita atau kalimat tanya agar orang yang diperintah tidak merasa dirinya diperintah. Misalnya, seorang ibu yang menyuruh anaknya untuk mengembilkan sapu diungkapkan dengan “Upik, sapunya dimana?” kalimat di atas selain untuk bertanya sekaligus memerintah anaknya untuk mengambilkan sapu.

b. Tindak tutur literal dan tindak tutur tak literal

Tindak tutur literal adalah tindak tutur yang maksudnya sama dengan makna kata-kata menyusunnya. Sedangkan tindak literal adalah tindak tutur yang maksudnya tidak dengan atau berlawanan dengan kata-kata yang menyusunnya sebagai contoh dapat dilihat kalimat berikut:

+  Penyanyi itu suaranya bagus.

– Suaramu bagus (tapi kamu tidak usah menyanyi).

Kalimat (+) jika diutarakan dengan maksud untuk memuji atau mengagumi suara penyanyi yang dibicarakan , maka kalimat itu merupakan tindak tutur literature, sedangkan kalimat (-) penutur bermaksud mengatakan bahwa suara lawan tuturnya jelek, yaitu dengan mengtakan “tak usah menyanyi”. Tindak tutur pada kalimat (-) merupakan tindak tutur tak literal.

Apabila tindak tutur langsung dan tak langsung diinteraksikan dengan tindak tutur literal dan tak literal, maka akan tercipta sebagai berikut:

  • Tindak tutur langsung literal ialah tindak tutur yang diutarakan dengan modus tuturan dan makna pengutaraannya.
  • Tindak tutur tidak langsung literal adalah tindak tutur yang diungkapkan dengan modus kalimat tidak sesuai dengan maksud pengutaraannya, tetapi makna kata-kata yang menyusunnya sesuai dengan apa yang dimaksudkan penutur.
  • Tindak tutur langsung tidak literal adalah tindak tutur yang diutarakan dengan modus kalimat dengan modus kalimat yang sesuai dengan maksud tuturan, tetapi kata-kata yang menyusunnya tidak memiliki makna yang sama dengan maksud penuturannya.
  • Tindak tutur tidak langsung tidak literal adalah tindak tutur yang diutarakan dengan modus kalimat yang tidak sesuai dengan maksud yang diinginkan.

Setiap ungkapan tidak hanya menghasilkan tuturan yang mengandung kata-kata dan struktur-struktur gramatikal saja, tetapi memperlihatkan tindakan-tindakan melalui tuturan-tuturan itu. Berhubung dengan pernyataan diatas menurut Yule (2006: 92-94), sistem klasifikasi umum mencantumkan 5 jenis fungsi umum yang ditunjukan oleh tindak tutur, yaitu:

  • Deklarasi
loading...

Deklarasi ialah jenis tindak tutur yang mengubah dunia melalui tuturan. Sepeti contoh dibawah ini, menggambarkan bahwa penutur harus memiliki peran instutional kusus, dalam konteks khusus, untuk menampilkan deklarasi yang tepat.

  • Representatif

Representatif  ialah jenis tindak tutur yang menyatakan apa yang diyakini penutur kasus atau bukan. Pernyataan suatu fakta, penegasan, kesimpulan, dan pendiskripsian, seperti yang digambarkan dalam contoh dibawah ini, yang merupakan contoh dunia sebagai sesuatu yang diyakini oleh penutur yang menggambarkannya.

  • Ekspresif

Ekspresif ialah jenis tindak tutur yang menyatakan sesuatu yang disarankan oleh penutur. Tindak tutur itu mencerminkan pernyataan-pernyataan psikologis dan dapat berupa pernyataan kegembiraan, kesulitan, kesukaan, kebencian, kesenangan, atau kesengsaraan. Seperti yang digambarkan pada contoh di bawah ini, tindak tutur mungkin disebabkan oleh suatu yang dilakukan oleh penutur atau pendengar, tetapi semuanya menyangkut pengalaman penutur.

  • Derektif

Direktif ialah jenis tindak tutur yang dipakai oleh penutur untuk menyuruh orang lain melakukan sesuatu. Tindak tutur ini meliputi perintah, pemesanan, permohonan, pemberian saran, seperti yang digambarkan pada contoh berikut ini yang bentuknya dapat berupa kalimat positif atau negatif.

  • Komisif

Komisif ialah jenis tindak tutur yang dipahami oleh penutur untuk mengikatkan dirinya terhadap tindakan-tindakan dimasa yang akan datang. Tindak tutur ini menyatakan apa saja yang dimaksudkan oleh penutur. Tindak tutur ini dapat berupa janji, ancaman, penolakan, ikrar.

Menurut Yule (2006: 83-84) Mengatakan bahwa suatu saat, tindakan yang ditampilkan dengan menghasilkan suatu tuturan akan mengandung 3 tindakan yang saling berhubungan. Yaitu:

  • Tindak Lokusi

Tindak Lokusi merupakan tindak dasar tuturan atau menghasilkan suatu ungkapan linguistik yang bermakna.

  • Tindak Ilokusi

Tindak Ilokusi ditampilkan melalui penekanan komunikatif suatu tuturan. Kita mungkin menuturkan (4) untuk membuat suatu pernyataan, tawaran, penjelasan atau maksud-maksud komunikatif lainnya. Ini juga dapat disebut sebagai penekanan ilokusi tuturan.

  • Tindak Perlokusi

Dengan bergantung pada keadaan, Anda akan menuturkan (4) dengan asumsi bahwa mendengar akan mengenali akibat yang anda timbulkan ( misalnya; untuk menerangkan suatu aroma yang luar biasa, atau meminta pendengar untuk minum kopi). Ini biasanya juga dikenal sebagai akibat perlokusi.

Bahan Bacaan:

Pranowo. 2008. “Kesantunan Berbahasa Indonesia sebagai Pembentuk Kepribadian Bangsa” dalam Jurnal GATRA nomor. 34, Januari 2008. Yogyakarta: Sanata Dharma University Press.

Prayitno, Harun Joko. 2011. Kesantunan Sosiopragmatik: Studi Pemakaian Tindak Direktif di Kalangan Andik SD Berbudaya Jawa. Surakarta:MUP.

Rendiyanto. 2012. “Analisis Tidak Tutur Direktif Antara Guru Murid di Mts Sunan Kalijaga Kecamatan Bulukerto Kabupaten Wonogiri”. (Skripsi S1-Program Studi Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia dan daerah FKIP UMS).

Rohmadi, Muhammad. 2010. Pragmatik Teori dan Analisis. Surakarta: Yuma Pustaka.

Yule, George. 2006. Pragmatik. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here