Home Kesehatan Tantangan Kinerja Perawat Di Era Globalisasi

Tantangan Kinerja Perawat Di Era Globalisasi

418
0
SHARE
Perawat Diera Modern
Tantangan Kinerja Perawat

Era globalisasi membuat persaingan diberbagai hal semakin meningkat. Tidak luput juga permasalahan kesehatan yang banyak menuntut rumah sakit sebagai penyedia fasilitas dan sarana-prasarana kesehatan karena banyaknya pesaing yang ada di sekitar mereka. Terlebih lagi tuntutan masyarakat yang banyak menginginkan pelayanan kesehatan yang baik, cepat, akurat, berkualitas, efektif dan efisien serta dengan harga terjangkau.

Salah satu faktor penentu maju tidaknya sebuah rumah sakit tergantung dari sumber daya manusia, karena sumber daya manusia yang menggerakkan roda perusahaan. Era globalisasi menuntut sumber daya manusia yang tidak hanya memiliki kemampuan dan keahlian saja, namun juga harus dinamis dan mampu mencerminkan gambaran dari perusahaan tempat ia bekerja melalui kinerjanya. Demikian pula dalam sebuah perusahaan yang bergerak di bidang  jasa seperti rumah sakit. Sumber daya manusia dalam sebuah rumah sakit akan dituntut untuk selalu memberikan kinerja yang maksimal dan optimal dalam melayani pasiennya. Perawat mendominasi jumlah tenaga kesehatan di rumah sakit sehingga memegang peranan penting karena perawat bertugas selama 24 jam melayani pasien. Selain itu berperan penting dalam pengelola pelayanan keperawatan terhadap pasien sampai pasien sembuh (Budiono dan Pertami, 2016: 65).

Perawat merupakan tenaga kesehatan yang paling sering dan paling lama berinteraksi dengan klien. Asuhan keperawatan yang diberikan pun sepanjang rentang sehat-sakit. Dengan demikian, perawat adalah pihak yang paling mengetahui perkembangan kondisi kesehatan klien secara menyeluruh dan bertanggung jawab atas klien. Profesi keperawatan bertujuan menghasilkan perawat yang bertanggung jawab yang mempunyai kemampuan dan kewenangan melaksanakan pelayanan keperawatan dalam segala aspek dengan selalu berpedoman pada kode etik keperawatan dalam memberikan setiap layanan keperawatan kepada pasien. Keperawatan suatu bentuk pelayanan profesional yang sepenuhnya terintegrasi ke dalam pelayanan kesehatan, berbentuk pelayanan bio-psiko-sosial-spiritual yang komprehensif didasarkan pada ilmu dan kiat keperawatan ditujukan kepada individu, keluarga, dan komunitas sakit-sehat mencakup seluruh aspek kehidupan (Budiono dan Pertami, 2016: 50).

Lebih lanjut menurut Mangole, dkk (2015) perawat akan dituntut memberikan kinerja yang terbaik karena kinerjanya akan langsung dirasakan oleh pasien. Kinerja perawat menunjukkan besarnya kontribusi yang diberikan terhadap rumah sakit tempatnya bekerja, sekaligus mencerminkan kinerja sebuah rumah sakit karena pasien akan sering berhubungan secara langsung dengan perawat. Kinerja perawat adalah suatu bentuk pelayanan profesional yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan didasarkan pada ilmu dan kiat keperawatan, bentuk pelayanan yang komprehensif yang ditujukkan pada individu, keluarga, dan masyarakat, baik yang sehat maupun yang sakit yang mencakup seluruh kehidupan manusia.

Menurut hasil penelitian dari Persatuan Perawat Nasional tahun 2005 sebanyak 50,9% perawat Indonesia yang bekerja mengalami stres kerja, sering merasa pusing, lelah, kurang ramah, kurang istirahat akibat beban kerja terlalu tinggi serta penghasilan yang tidak memadai. Umam (2012: 203) berpendapat bahwa stres kerja merupakan sumber atau stressor kerja yang menyebabkan reaksi individu berupa reaksi fisiologis, psikologis, dan perilaku. Lingkungan pekerjaan berpotensi sebagai stressor kerja. Stressor kerja merupakan segala kondisi pekerjaan yang dipersepsikan karyawan sebagai suatu tuntutan dan dapat menimbulkan stres kerja. Begitu juga dengan stres kerja yang dialami oleh perawat yang nantinya dapat berdampak pada kinerja perawat itu sendiri. Stres kerja lebih banyak merugikan diri perawat ataupun rumah sakit sebagai tempat perawat bekerja. Pada diri perawat, konsekuensi tersebut dapat berupa menurunnya gairah kerja, kecemasan yang tinggi, frustasi dan sebagainya. Konsekuensi pada perawat tidak hanya berhubungan dengan aktivitas kerja tetapi dapat meluas pada aktivitas lain diluar pekerjaan, semisal tidak dapat tidur dengan tenang, nafsu makan berkurang, kurang mampu berkonsentrasi sehingga berdampak langsung pada kinerja perawat yang semakin menurun.

Faktor lain yang mampu mempengaruhi tinggi rendahnya kinerja perawat selain stres kerja adalah faktor sikap kerja perawat. Sikap kerja perawat juga mempunyai peran besar dalam meningkatkan kinerja perawat dan kinerja organisasi secara keseluruhan. Sikap yang dimiliki perawat merupakan respon batin yang timbul dan diperoleh berdasarkan pengetahuan yang dimiliki. Pengetahuan dan sikap akan sangat mempengaruhi perilaku seseorang. Sikap merupakan suatu pola perilaku, tendensi atau kesiapan antisipatif, predisposisi untuk menyesuaikan diri dalam situasi sosial atau secara sederhana, sikap adalah respons terhadap stimuli sosial yang telah terkondisikan (Azwar, 2015: 5). Tugas perawat dalam menjalankan perannya sebagai pemberi asuhan keperawatan dapat dilaksanakan sesuai tahapan dalam proses keperawatan. Terkait dengan hal tersebut, maka dibutuhkan suatu sikap yang profesional dalam diri perawat. Profesi keperawatan telah menyelenggarakan program pendidikan keprofesian bagi perawat agar perawat mempunyai kemampuan dan kewenangan dalam melaksanakan pelayanan keperawatan dalam segala aspek dengan selalu berpedomen kepada kode etik (Budiono dan Pertami, 2016: 50).

Faktor lain yang dapat mempengaruhi kinerja seorang perawat adalah kecerdasan emosional dari perawat itu sendiri. Goleman (2000) dalam Yenti K (2014) menyatakan bahwa Kecerdasan intellegensi (IQ) dan Kecerdasan emosi (EQ) merupakan faktor yang mempengaruhi kinerja seseorang. Namun kecerdasan emosilah yang lebih berperan untuk menghasilkan kinerja yang cemerlang sehingga dapat mempengaruhi tingkat profesionalisme seorang manusia adalah kecerdasan emosional yang dimilikinya. Hal ini sejalan dengan tugas seorang perawat, kecerdasan emosional (emotional intelligence) merujuk kepada kemampuan untuk mengenali perasaan kita sendiri dan perasaan orang lain, kemampuan memotivasi diri sendiri dan kemampuan mengelola emosional baik pada diri sendiri dan dalam hubungannya dengan orang lain. Dengan kata lain kecerdasan emosional adalah kemampuan perawat untuk sadar akan tugas dirinya sendiri dan tugas sebagai pelaku layanan kesehatan pasien dalam mengenali perasaan dirinya dan pasiennya. serta menggunakan pengenalan tersebut sebagai cara berkomunikasi dan layanan yang optimal terhadap pasien, memotivasi pasien untuk bisa sembuh, menumbuhkan inisiatif terhadap diri sendiri dan pasien, mampu mengatasi konflik yang terjadi baik pada dirinya sendiri dan juga konflik pada rumah sakit, serta menempatkan kapan dan bagaimana mengontrol emosi tanpa menyebabkan pasien atau orang lain terpengaruh oleh emosi yang tidak terkontrol.

Tuntutan untuk memberikan pelayanan dengan kualitas yang baik kepada setiap pasien dan tuntutan dari pihak manajemen rumah sakit seringkali menjadi beban psikologis perawat karena adanya perasaan tertekan. Hal ini dapat menjadi pemicu timbulnya stres kerja yang dialami perawat yang dapat berdampak pada menurunnya kinerja perawat jika perawat tidak mempunyai mekanisme koping yang baik.

Menurut Bachrach (2004) dalam Tyczkowski, et al (2015) jika perawat mengalami stress maka akan berdampak negatif pada sikap kerja yang kurang profesional kepada pasien dan keluarganya. Selain itu stress mengakibatkan emosi perawat yang tidak stabil. Ketidakseimbangan emosi dapat menyebabkan munculnya dorongan-dorongan emosi yang tidak sehat. Dorongan emosi yang tidak sehat inilah yang dapat menghambat karir dan kinerja seorang perawat karena turunnya motivasi, semangat dan ketekunan dalam bekerja. Namun sebaliknya, orang-orang yang mampu mengelola dan mengendalikan emosinya sehingga mampu membangun relasi yang harmonis dengan orang lain adalah orang yang cerdas secara emosi.

Masyarakat dan pasien berperan sebagai klien perawat pada kenyataannya sering kali tidak mau tahu dengan kendala yang dihadapi perawat. Disinilah diperlukan keterampilan dan sikap dalam mengelola emosi bagi perawat agar kondisi atau kendala yang tidak menguntungkan tersebut tidak sampai menyebabkan munculnya emosi negatif dalam diri perawat yang dapat berdampak pada kinerja yang akhirnya merugikan diri sendiri. Perawat yang kurang dapat mengelola emosinya akan mudah terpengaruh oleh situasi di luar dirinya. Hal ini dapat menambah tingkat stress yang dialami perawat, yang berdampak pada kurang simpatiknya perawat dalam memberikan pelayanan kepada pasien dan berdampak buruk pada pekerjaannya serta kinerja semakin menurun (Landa and Zafra, 2010).

Penelitian tentang stress kerja pernah dilakukan sebelumnya oleh Tjokro dan Asthenu (2014), penelitian tentang Pengaruh Konflik Peran Ganda Dan Stress Kerja Terhadap Kinerja Perawat Rumah Sakit Umum DR. M. Haulussy Ambon. Penelitian tersebut membuktikan bahwa stres kerja berpengaruh negatif terhadap kinerja perawat Rumah Sakit Umum DR. M. Haulussy Ambon. Selain itu hasil penelitian dari Muttaqillah, dkk (2015) juga menemukan hasil bahwa stres kerja berpengaruh terhadap kinerja perawat BLUD RSJA. Hal ini mengindikasikan bahwa faktor stres kerja berpengaruh negatif terhadap kinerja perawat BLUD RSJA. Selanjutnya hasil penelitian Donkor (2013) yang meneliti tentang Effects of Stress on the Performance of  Nurses: Evidence From Ghana. Hasil penelitian Donkor membuktikan bahwa beban kerja, konflik dengan kolega dan pengawas sebagai penyebab terjadinya stress pada perawat. Perawat yang stres menyebabkan kualitas kerja menurun dan menyebabkan menurunnya kepuasan pasien. Stres kerja perawat terbukti berhubungan negatif terhadap kinerja perawat.

Penelitian mengenai sikap kerja perawat pernah dilakukan sebelumnya oleh Illustri (2015), penelitian tentang Faktor-Faktor Psikologis yang Berhubungan Dengan Kinerja Perawat di Irna Utama RSUP dr. Mohammad Hoesin Palembang tahun 2013. Penelitian tersebut membuktikan bahwa sikap kerja perawat berhubungan dengan kinerja perawat di Irna Utama RSUP dr. Mohammad Hoesin Palembang tahun 2013. Sejalan dengan hasil penelitian sebelumnya, menurut penelitian Johnson et al (2011), penelitian tentang Learning and development: promoting nurses’ performance and work attitudes. Penelitian tersebut membuktikan bahwa terdapat hubungan antara sikap kerja positif perawat dengan kinerja perawat yang baik. Pengembangan praktek klinik dibuktikan dengan kinerja perawat dan membentuk sikap kerja perawat.

Penelitian mengenai kecerdasan emosional pernah dilakukan sebelumnya oleh Nofri Yenti K (2014), penelitian tentang Pengaruh Kecerdasan Emosional, Kecerdasan Intelektual, dan Disiplin Terhadap Kinerja Perawat pada R.S PMC Pekanbaru. Penelitian tersebut membuktikan bahwa kecerdasan emosional mempunyai pengaruh yang signifikan dan positif terhadap kinerja perawat pada Rumah Sakit PMC Pekanbaru. Artinya semakin tinggi kecerdasan emosional perawat maka akan meningkatkan kinerjanya secara signfiikan. Sebaliknya, semakin rendah kecerdasan emosional perawat maka akan menurunkan kinerjanya secara signifikan. Sejalan dengan penelitian sebelumnya, menurut penelitian Bakr and Safaan (2012) yang meneliti tentang Emotional Intelligence: A Key for Nurses’ Performance yang juga membutikan bahwa kecerdasan emosional mempunyai hubungan yang positif signifikan dengan kinerja perawat. Namun berbeda dengan hasil penelitian Helaly et al (2013), penelitian tentang Emotional Intelligence and its Relation to Nursing Performance among Nurses at Mansoura University Hospital and Urology and Nephrology Center. Penelitian tersebut membuktikan bahwa kecerdasan emosi mempunyai hubungan yang negatif dan tidak signifikan dengan kinerja perawat.

 

loading...

Bahan Bacaan:

Azwar, Saifuddin. 2015. Sikap Manusia Teori dan Pengukurannya Edisi ke-2. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Bakr, Manal Mohamed and Sanaa M. Safaan. 2012. Emotional Intelligence: A Key for Nurses’ Performance. Journal of American Science 2012;8(11): 385 – 393.

Budiono dan Sumirah Budi Pertami. 2016. Konsep dasar Keperawatan. Jakarta: Bumi Medika.

Goleman, Daniel. 2016. Emotional Intelligence (Kecerdasan Emosional) Mengapa EI Lebih Penting daripada IQ Cetakan Keduapuluh Satu. Alih bahasa: T. Hermaya. Jakarta: PT. Gramedia.

Illustri. 2015. Faktor-faktor Psikologis Yang Berhubungan Dengan Kinerja Perawat di Irna Utama RSUP dr. Mohammad Hoesin Palembang Tahun 2013. Jurnal Kesehatan Bina Husada Vol.10 No.4 Januari 2015.

Johnson, Anya; Helena Hong; Markus Groth; and Sharon K. Parker. 2011. Learning and development: promoting nurses’ performance and work attitudes. JAN (Journal of Advanced Nursing). Original Research. 67(3), 609–620.

Landa, Jose Maria Augusto and Zafra, Esther López. 2010. The Impact of Emotional Intelligence on Nursing: An Overview. Psychology, 2010, 1: 50-58.

Mangole, Josua Edison; Sefty Rompas; dan A. Yudi Ismanto. 2015. Hubungan Perilaku Perawat Dengan Pendokumentasian Asuhan Keperawatan Di Cardiovaskular and Brain Center RSUP Prof. DR. R. D. Kandou Manado. E-journal Keperawatan (e-Kp) Volume 3 Nomor 2, Oktober 2015.

Muttaqillah, A. Rahman Lubis, dan M. Shabri Abd. Majid. 2015. Pengaruh Stres Kerja Dan Motivasi Kerja Terhadap Kinerja Perawat Serta Implikasinya Pada Kinerja Badan Layanan Umum Daerah Rumah Sakit Jiwa (BLUD RSJ) Aceh. Jurnal Manajemen Pascasarjana Universitas Syiah Kuala Volume 4, No. 1, Februari 2015: 144-153.

Tyczkowski, Brenda; Christine Vandenhouten; Janet Reilly; Gaurav Bansal; Sylvia M. Kubsch; and Raelynn Jakkola. 2015. Emotional Intelligence (EI) and Nursing Leadership Styles Among Nurse Managers. Nurs Admin Q Vol. 39, No. 2 (2015), pp. 172–180.

Umam, Khaerul. 2012. Perilaku Organisasi. Bandung: Pustaka Setia.

Yenti, K Nofri. 2014. Pengaruh Kecerdasan Emosional, Kecerdasan Intelektual, Dan Disiplin Terhadap Kinerja Perawat Pada R.S PMC Pekanbaru. Jom FEKON Vol. 1 No. 2 Oktober 2014 : 1-21.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here