Home Pendidikan Peningkatan Motivasi Belajar dengan Menggunakan Strategi  Make A Match  Kombinasi Talking Stick

Peningkatan Motivasi Belajar dengan Menggunakan Strategi  Make A Match  Kombinasi Talking Stick

278
0
SHARE
Strategi Make A Match Kombinasi Talking Stick
Talking Stick Method

Pranata Awal

Negara berkembang mengalami stabilitas politik dan agama, serta pendidikan yang menjadi perhatian penting bagi masyarakat. Masyarakat dunia tidak lagi hanya memperhatikan saja, melainkan menjadi demam memikirkan pendidikan. Masyarakat mulai ramai memperdebatkan fungsi dan tujuan pendidikan. Pendidikan merupakan suatu hal yang sangat penting bagi setiap warganegara. Proses pendidikan dapat dilakukan diberbagai aspek kehidupan salah satunya dilingkungan pendidikan formal. Sekolah merupakan pendidikan formal yang didalamnya terdapat proses pembelajaran.

Menurut Daryanto dan Rahardjo (2012:16-17), komponen utama dalam proses pendidikan adalah belajar, berfikir, mengingat dan pengetahuan. Empat istilah ini tidak dapat dipisahkan dari proses pendidikan. Belajar adalah sutu proses yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh perubahan perilaku baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam berinteraksi dengan lingkunganya.

Proses pembelajaran merupakan kegiatan dengan segala aspek maupun faktor yang mempengaruhinya. Hakekat dalam kegiatan tersebut untuk menunjang tercapainya tujuan pembelajaran, dengan kegiatan belajar yang melibatkan siswa, guru, materi pembelajaran, metode pengajaran, kurikulum, dan media pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan, serta didukung oleh lingkungan yang kondusif.

Menurut Djamarah (2002:13):

Belajar adalah suatu usaha yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri yang berinteraksi dengan lingkungannya”.

Guru memiliki peran yang sangat penting dalam menentukan kualitas dan kuantitas pengajaran yang dilaksanakan. Oleh sebab itu, guru harus membuat perencanaan secara seksama dalam meningkatkan kesempatan belajar bagi siswa dan memperbaiki kualitas mengajar. Kondisi pembelajaran yang diciptakan dan disediakan oleh guru sebagai fasilitator masih  rendah. Siswa diposisikan hanya sebagai pendengar ceramah guru, sehingga proses pembelajaran cenderung membosankan dan menjadikan peserta didik malas belajar.  Sikap peserta didik yang pasif tidak hanya pada mata pelajaran tertentu tetapi hampir terjadi pada semua mata pelajaran, termasuk mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan.

Berdasarkan hasil wawancara dengan ibu Noer Dwi Aryani S. H selaku guru Pendidikan Kewarganegaraan yang dilakukan pada hari Senin, 23 Maret 2015 di SMP Prawira Marta Sukoharjo kelas VII dalam  proses pembelajaran motivasi belajar siswa masih rendah. Peserta didik yang termotivasi mengikuti pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan ada 7 anak dari 20 siswa dan sisanya kurang termotivasi. Mereka cenderung sibuk dengan hal lain, bermain handphone,  dan mengobrol dengan teman sebangkunya dalam proses pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan.

Ibu Noer Dwi Aryani S. H selaku guru Pendidikan Kewarganegaraan kelas VII SMP Prawira Marta telah mencoba berbagai strategi pembelajaran seperti ceramah, diskusi, tanya jawab, dan penugasan yang dilakukan secara berulang-ulang. Berbagai strategi pembelajaran yang telah digunakan belum mendapatkan hasil yang maksimal. Upaya tersebut belum berhasil terbukti ketika menggunakan metode ceramah masih terdapat siswa yang pasif, ramai sendiri, ngobrol dengan temannya, dan tidak bisa menjawab pertanyaan dari guru. Pada saat menggunakan metode diskusi siswa hanya diam dan ramai sendiri sehingga membuat suasana pembelajaran menjadi tidak kondusif.

Rendahnya motivasi belajar siswa dalam proses pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan secara tidak langsung akan mempengaruhi tercapainya tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Oleh karena itu, perlu diadakan tindakan kelas dan menggunakan strategi lain untuk meningkatkan motivasi belajar siswa dalam proses pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan. Solusi alternatif yang ditawarkan adalah dengan menggunakan strategi Make a Macth kombinasi Talking Stick. Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan di atas, maka dipandang cukup penting untuk melakukan Penelitian Tindakan Kelas tentang “Peningkatan Motivasi Belajar dengan Menggunakan Strategi Make a Macth kombinasi Talking Stick dalam Proses Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan.

Tinjauan Pustaka

Dinamika Paradigma Pembelajaran

Pengertian dinamika. Menurut Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional (2005:265), dinamika diartikan sebagai gerak (dari dalam), tenaga yang menggerakkan dan semangat. Menurut Purwandari (2010), dinamika mengandung arti tenaga, kekuatan, selalu bergerak, berkembang dan dapat menyesuaikan diri secara memadai terhadap keadaan. Jadi dapat disimpulkan dinamika merupakan suatu pergerakan, perubahan, perkembangan dan penyesuaian terhadap keadaan tertentu dalam situasi dan kondisi.

Pengertian paradigma. Ratna (2010: 39), menjelaskan bahwa paradigma adalah seperangkat keyakinan mendasar yang berfungsi untuk menuntun tindakan manusia, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun karya ilmiah. Berdasarkan uraian teori di atas dapat diambil kesimpulan bahwa paradigma adalah suatu acuan dasar yang digunakan sebagai pandangan seseorang terhadap suatu peristiwa untuk dipelajari dalam kehidupan sehari-hari serta dalam karya ilmiah.

Pengertian paradigma pembelajaran. Menurut Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional (2005:828), paradigma adalah kerangka pikir. Menurut Moleong (2010:49), paradigma merupakan pola atau model tentang bagaimana sesuatu distruktur (bagian dan hubungannya) atau bagaimana bagian-bagian berfungsi (perilaku yang didalamnya ada konteks khusus atau dimensi waktu). Menurut Ratna (2010:38), paradigma merupakan seperangkat keyakinan mendasar, semacam pandangan dunia yang berfungsi untuk menuntun tindakan-tindakan manusia, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun karya ilmiah. Kesimpulan dari beberapa teori mengenai paradigma adalah pemikiran mendasar yang mengarah pada suatu cara tentang tindakan yang akan diselenggarakan dan dilaksanakan.

Dinamika paradigma pembelajaran. Menurut Nasar (2006:31), paradigma pembelajaran berkembang menjadi pendekatan belajar yang mutakhir dan menggeser sekolah tradisional dimana guru cenderung lebih aktif di-bandingkan siswanya. Guru sebagai subjek yang dominan, sementara siswa bersifat pasif. Padahal dalam kegiatan pembelajaran siswa sebagai pusat belajar harus lebih aktif untuk membangun pemahaman, ketrampilan, dan sikap. Maka dari itu sebagai fasilitator seorang guru harus mampu memberikan apa yang diinginkan siswanya dengan menggunakan strategi pembelajaran yang bervariasi, sehingga siswa mampu berkreasi sesuai dengan kemampuan masing-masing yang diyakini cenderung menghasilkan pengetahun yang tersimpan kuat dalam ingatan siswa.

Kajian tentang Strategi Make a Match

Pengertian strategi. Menurut Sumarsono (2002: 139), “strategi adalah cara untuk mendapatkan kemenangan atau pencapaian tujuan”. Menurut Reber sebagaimana dikutip oleh Syah (2004: 214), strategi adalah rencana tindakan yang terdiri atas seperangkat langkah untuk mencapai tujuan. Menurut Mulyasana (2011: 217), “strategi adalah rencana besar yang bersifat mengikat, efisiensi, dan produktif guna mengefektifkan tercapainya tujuan”. Berdasarkan uraian teori di atas dapat disimpulkan bahwa strategi adalah cara yang digunakan untuk mencapai suatu tujuan yang telah direncanakan.

Pengertian strategi Make a Match. Menurut Komalasari (2013:85), strategi ini dikembangkan oleh Lorna Curran (1994), Make a Match adalah model pembelajaran yang mengajak siswa mencari jawaban terhadap suatu pertanyaan atau pasangan dari suatu konsep melalui suatu permainan kartu pasangan.

Kelebihan strategi Make a Match. Menurut Huda (2013:253), penggunaan strategi Make a Match mempunyai sejumlah kelebihan yaitu sebagai berikut: Dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa.  Karena ada unsur permainan, metode ini menyenangkan. Meningkatkan pemahaman siwa terhadap materi yang dipelajari dan dapat meningkatkan motivasi belajar siswa. Efektif sebagai sarana melatih keberanian siswa untuk tampil presentasi. Efektif melatih kedisiplinan siswa menghargai waktu belajar.

Kelemahan strategi Make a Match. Menurut Huda (2013:253-254), penerapan strategi Make A-Match mempunyai sejumlah kelemahan yaitu yaitu sebagai berikut: Jika strategi ini tidak dipersiapkan dengan baik, akan banyak waktu yang terbuang. Pada awal-awal penerapan metode, banyak siswa yang akan malu berpasangan dengan lawan jenisnya. Jika guru tidak mengarahkan siswa dengan baik, akan banyak siswa yang kurang memperhatikan pada saat presentasi pasangan. Guru harus hati-hati dan bijaksana saat memberi hukuman pada siswa yang tidak mendapatkan pasangan, karena mereka bisa malu. Menggunakan metode ini secara terus-menerus akan menimbulkan kebosanan.

Langkah-langkah pengunaan strategi Make a Match. Menurut Huda (2013:252-253), langkah-langkah penerapan strategi Make A-Match yaitu sebagai berikut: Guru menyampaikan materi terlebih dahulu. Siswa dibagi ke dalam 2 kelompok, misalnya kelompok A dan kelompok B. Kedua kelompok diminta untuk berhadap-hadapan. Guru membagikan kartu pertanyaan kepada kelompok A dan kartu jawaban kepada kelompok B. Guru menyampaikan kepada siswa bahwa mereka harus mencari/mencocokan kartu yang dipegang dengan kartu kelompok lain. Guru menyampaikan batasan maksimum waktu yang diberikan. Guru meminta semua anggota kelompok A untuk mencari pasanganya dike-lompok B. Jika mereka sudah menemukan pasanganya masing-masing, guru meminta mereka melaporkan diri kepadanya. Guru mencatat mereka pada kertas yang sudah dipersiapkan. Apabila waktu habis, mereka harus diberitahu bahwa waktu sudah habis. Siswa yang belum menemukan pasangan diminta untuk berkumpul tersendiri. Guru memanggil satu pasangan untuk presentasi. Pasangan lain dan siswa yang tidak mendapat pasangan memperhatikan dan memberi tanggapan apakah pasangan itu cocok atau tidak. Terakhir, guru memberikan konfirmasi tentang kebenaran dan kecocokan per-tanyaan dan jawaban dari pasangan yang memberikan presentasi. Guru memanggil pasangan berikutnya, begitu seterusnya sampai seluruh pa-sangan melakukan presentasi.

Kajian tentang Strategi Talking Stick

Pengertian strategi Talking Stick. Talking Stick adalah metode yang pada mulanya digunakan oleh penduduk asli Amerika untuk mengajak semua orang berbicara atau menyampaikan pendapat dalam suatu forum. sebagaimana dikemukakan Carol Locust yang dikutip dalam skripsi Natalia (2012) berikut ini.

The talking stick has been used for centuries by many Indian tribes as a means of just and impartial hearing. The talking stick was commonly used in council circles to decide who had the right to speak. When matters of great concern would come before the council, the leading elder would hold the talking stick, and begin the discussion. When he would finish what he had to say, he would hold out the talking stick, and whoever would speak after him would take it. In this manner, the stick would be passed from one individual to another until all who wanted to speak had done so. The stick was then passed back to the elder for safe keeping.

 Talking stick digunakan untuk menunjuk siswa tongkat berbicara telah digunakan selama berabad-abad oleh suku–suku Indian sebagai alat menyimak secara adil dan tidak memihak. Tongkat berbicara sering digunakan kalangan dewan untuk memutuskan siapa yang mempunyai hak berbicara. Pada saat pimpinan rapat mulai berdiskusi dan membahas masalah, ia harus memegang tongkat berbicara. Tongkat akan pindah ke orang lain apabila ia ingin berbicara atau menanggapinya. Dengan cara ini tongkat berbicara akan berpindah dari satu orang ke orang lain jika orang tersebut ingin mengemukakan pendapatnya. Apabila semua mendapatkan giliran berbicara, tongkat itu lalu dikembalikan lagi ke ketua/pimpinan rapat. Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa Talking Stick merupakan strategi yang dipergunakan guru untuk mencapai tujuan pembelajaran dengan menggunakan tongkat.

Kelebihan strategi Talking Stick. Menurut Natalia (2012) kelebihan penerapan strategi Talking Stick adalah: Siswa cenderung individu. Materi yang diserap kurang. Siswa yang pandai lebih mudah menerima materi sedangkan siswa yang kurangpandai kesulitan menerima materi. Guru kesulitan melakukan pengawasan .  Ketenangan kelas kurang.

Kelemahan strategi Talking Stick.  Pendidikan, kelemahan penggunaan strategi Talking Stick adalah: Membuat siswa senam jantung.  Membuat siswa minder karena belum terbiasa. Membuat siswa tegang dan ketakutan dengan pertanyaan yang  dibuat oleh gurunya.

Langkah-langkah penggunaan strategi Talking Stick. Langkah penggunaan strategi Talking Stick menurut Natalia. (2012) Guru menyiapkan sebuah tongkat. Guru menyampaikan materi pokok yang akan dipelajari, kemudian memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk membaca dan mempelajari materi pada pegangan/paketnya. Setelah selesai membaca buku dan mempelajarinya, guru mempersilahkan peserta didik untuk menutup bukunya. Guru mengambil tongkat dan memberikan kepada peserta didik, setelah itu guru memberikan pertanyaan dan peserta didik yang memegang tongkat tersebut harus menjawabnya, demikian seterusnya sampai sebagian besar peserta didik mendapat bagian untuk menjawab setiap pertanyaan dari guru. Guru memberikan kesimpulan. Evaluasi. Penutup.

Kajian tentang Strategi Make a Match Kombinasi Talking Stick

Pengertian kombinasi. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2005:583), kombinasi adalah “gabungan beberapa hal (pengertian, perkara, warna, pasukan, dan lain-lain)”.

loading...

Pengertian strategi Make a Match kombinasi Talking Stick. Berdasarkan penjelasan di atas pengertian strategi Make a Match kombinasi Talking Stick yaitu penggabungan strategi pembelajaran dengan menggunakan sebuah potongan kertas untuk siswa mencari pasangannya, setelah itu lebih menguatkan materi dengan menggunakat tongkat untuk menanyai siswa tentang materi yang baru saja disampaikan. Siswa dibagikan sebuah potongan kertas yang berisi pernyataan, lalu siswa diminta mencari pasangan dari potongan kertas yang berisi pernyataan yang mereka miliki. Mengkombinasikan kedua strategi bermaksud untuk meningkatkan konsentrasi belajar siswa dalam proses pembelajaran.

Kajian mengenai Motivasi Belajar Siswa

Pengertian motivasi. Menurut Majid (2013:308), motivasi merupakan kekuatan yang menjadi pendorong kegiatan individu untuk melakukan suatu kegiatan untuk mencapai tujuan. Menurut Gleitman dan Reber sebagaimana dikutip Mahmud (2010:100), motivasi adalah keadaan internal organisme baik manusia ataupun hewan yang mendorongnya untuk berbuat sesuatu. Berdasarkan pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa motivasi adalah kondisi yang mendorong individu umtuk melakukan suatu kegiatan untuk menacapai tujuan.

Pengertian belajar. Menurut Sobur (2003:218), pengertian belajar dapat diartikan secara singkat dan secara umum, belajar dapat diartikan sebagai perubahan perilaku yang relatif tetap sebagai hasil adanya pengalaman. Menurut Slameto (2010:2), pengertian belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan. Menurut Djamarah (2002:13), belajar adalah serangkaian kegiatan jiwa raga untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya yang menyangkut kognitif, afektif, dan psikomotorik. Menurut Hamalik (1995:42), belajar adalah memperoleh pengetahuan melalui alat dria yang disampaikan dalam bentuk perangsang-perangsang dari luar. Berdasarkan pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses dalam perubahan perilaku atas tingkah laku setiap individu secara keseluruhan.

Pengertian siswa. bahwa dari dimensi anthoropologis peserta didik (siswa) dapat dijelaskan dari tiga dimensi: Peserta didik adalah makhluk sosial yang hidup bersama-sama, saling pengaruh mempengaruhi, saling membutuhakan, saling melengkapi, saling bekerja sama, saling isis mengisi, pendek kata peserta didik harus kooperatif sehingga dapat menuju kematangan. Peserta didik dipandang sebagai individualisme yaitu mampu menampilkan kerakteristik yang khas, kepribadian yang khas berbeda dengan individu lain. Peserta didik dipandang memiliki moralitas. Berdasarkan uraian di atas siswa adalah makhluk sosial yang hidup bersama-sama mampu menampilkan karakteristik khasnya yang memiliki nilai moral sejak dini.

Pengertian motivasi belajar siswa. Motivasi belajar siswa adalah kondisi yang mendorong individu umtuk melakukan suatu kegiatan untuk menacapai tujuan dalam perubahan perilaku atas tingkah laku setiap individu secara keseluruhan.

Macam-macam motivasi belajar. macam-macam motivasi sebagaimana berikut ini: Cognitive motives. Menunjukan pada gejala intrinsic, yakni menyangkut  kepuasan individual. Kepuasan individual yang berada di dalam diri manusia dan biasanya berwujud proses dan produk mental. Self-expression. Penampilan diri adalah sebagian perilaku manusia. Yang penting kebutuhan individu itu tidak sekedar tahu mengapa dan bagaimana sesuatu itu terjadi, tetapi juga mampu membuat suatu kejadian. Self-enchancement. Melalui aktualisasi diri dan pengembangan kompetensi akan meningkatkan kemajuan diri seseorang. Indikator-indikator motivasi belajar. Motivasi belajar siswa dapat dilihat dari proses pembelajaran di dalam kelas.

Rangkaian siklus penelitian tindakan kelas yang telah dilakukan terlihat adanya perubahan yang merupakan hasil penelitian dalam rangka usaha meningkatkan motivasi belajar siswa dalam proses pembelajaran.

Penelitian ini terbatas pada tindakan yaitu dengan menggunakan strategi Make a Match kombinasi Talking Stick. Peningkatan  motivasi belajar siswa dalam proses pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Tahun Pelajaran 2014/2015 terbatas pada tindakan Make a Match kombinasi Talking Stick.

Penelitian sejenis hendaknya dilakukan tetapi dalam cakupan materi tertentu dan menggunakan strategi pembelajaran tertentu. Oleh karena itu diperlukan sebuah strategi pembelajaran dari guru yang lebih inovatif, sehingga akan mampu memberikan masukan kepada dunia pendidikan Indonesia secara umum.

Kepustakaan:

Arikunto, Suharsimi 2010. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

Atika Nur Rahmawati. Upaya Peningkatan Hasil belajar IPS  Melalui Model Pembelajaran pada Siswa Kelas IV SD Negeri Margorejo I Surakarta Tahun 2011/2012

Aunurrahman. 2009. Belajar dan Pembelajaran. Bandung: Alfabeta.

Azwar, Saifuddin. 2009. Metode Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Depdikbud. 2000. Petunjuk Pelaksanaan Pembelajaran Kelas II Sekolah Dasar. Jakarta: Depdikbud RI.

Depdiknas. 2006. Standar kompetensi dan Kompetensi dasar Sekolah Dasar. Jakarta: depdiknas.

Ethel, dkk. 2009. “The Poster Sesson: A Tool For Education, Assessment and Recruitment”, Journal of Mathematics and Computer Education Vol. 43 No.2.

Miles, Mathew B. dan Michael Hubarman. 1992. Analisis Data Kualitatif (Buku Sumber tentang Metode-Metode Baru). Jakarta: UIP.

Moleong, Lexy J. 2010. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Nana saodin sukmadinata. Metode penelitian pendidikan, Bandung: Remaja Rosdakarya. 2006.

Prof. Hamali, Oemar. 2008. Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem. Jakarta: Bumi Aksara.

Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka.

Ratna, Nyoman Kutha. 2010. Metodologi Penelitian Kajian Budaya Dan Ilmu Sosial Humaniora pada Umumnya. Yogyakarta: Pustaka Belajar.

Sagala, Syaiful. 2006. Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung: Bandung Alfabeta.

Sardiman, A.M. 1986. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Yogyakarta: Cakrawala Pendidikan.

Setyadi, Yulianto B dan Muhibbin, Ahmad. 2011. Paedagogi Khusus Bidang Studi Pendidikan Kewarganegaraan dan Ilmu Pengetahuan Sosial. Surakarta: Kementerian Pendidikan Nasional.

Sudjana, Nana. 1990. Teori-teori Belajar untuk Pengajaran. Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Sutama, 2009. Metode Penelitian Pendidikan. Surakarta. Kurnia offset Solo.

Syah, Muhibbin. 1995. Psikologi Pendidikan Suatu Pendekatan Baru. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here