Home Ekonomi Peran Profitabilitas dan Kinerja Perusahaan bagi Pertumbuhan Investasi di Indonesia

Peran Profitabilitas dan Kinerja Perusahaan bagi Pertumbuhan Investasi di Indonesia

223
0
SHARE
Investasi
Strategi, Investasi, Finance

Berdirinya sebuah perusahaan tentu saja didasari sebuah tujuan, baik itu dalam bentuk profit atau laba dalam melaksanakan usahanya. Profitabilitas berfungsi sebagai tolok ukur tingkat keberhasilan sebuah perusahaan. Di lain sisi profitabilitas juga berguna untuk melihat tingkat kesehatan atau kinerja sebuah perusahaan, dimana hal ini berguna untuk menarik investor untuk melakukan investasi di perusahaan tersebut. Tentu saja seorang investor tidak mungkin menginvestasikan kekayaannya apabila perusahaan perusahaan tersebut tidak produktif atau tidak menghasilkan profit. Begitu juga dengan kreditor dalam melakukan kerjasama.

Stakeholder menyukai perusahaan yang memiliki profitabilitas yang tinggi, jika profitabilitas terus meningkat dari waktu ke waktu ini menjadi perhatian yang besar. Dengan adanya peningkatan profitabilitas, kemungkinan bagi perusahaan untuk memperoleh tambahan modal semakin besar sehingga kemampuan untuk melakukan ekspansi dan investasi juga semakin besar.

Kinerja keuangan suatu perusahaan dapat diartikan sebagai prospek masa depan, pertumbuhan potensi bagi perusahaan. Informasi kinerja keuangan diperlukan untuk menilai potensi perusahaan dalam mencapai keberhasilan, sedangkan laporan keuangan yang telah dianalisis sangat diperlukan oleh para pemimpin sebagai alat untuk mengambil keputusan lebih lanjut dimasa yang akan datang. Oleh karena itu sangat penting untuk lebih mendalami studi mengenai kinerja keuangan perusahaan. ROA merupakan salah satu indikator keberhasilan perusahaan dalam menjalankan aktivias yang menghasilkan laba dengan memanfaatkan total aktiva.

Profitabilitas ini biasanya diukur dengan return on asset (ROA) karena dapat menunjukkan bagaimana kinerja perusahaan dilihat dari penggunaan keseluruan asset yang dimiliki oleh perusahaan dalam menghasilkan keuntungan. Profitabilitas merupakan kemampuan laba yang berarti hasil akhir dari laba bersih dari kebijakan dan keputusan. Rasio yang menyajikan bebrerapa hal yang menarik tentang cara-cara perusahaan beroperasi tetapi rasio profitabilitas akan memberikan jawaban akhir tentang efektivitas manajemen perusahaan (J. Fred dan Thoma, 1991:315). Untuk mengevaluasi dan pengendalian keuangan yang digunakan dalam laba dikenal dengan system Du Pont yang merupakan pendekatan yang komprehensif dengan penerapan pada tingkat perusahaan dan tingkat divisi atau segmen, pendekatan ini diukur menggunakan ROI untuk analat analisis (J. Fred dan Thoma, 1995:315).

Pentingnya Evaluasi Kinerja

Evaluasi kinerja perusahaan dapat dilakukan menggunakan analisis laporan keuangan. Dimana analisis laporan keuangan penting dilakukan untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan suatu perusahaan. Informasi ini diperlukan untuk mengevaluasi kinerja manajemen perusahaan dimasa yang lalu dan juga menjadi bahan pertimbangan dalam menyusun rencana perusahaan ke depan. Salah satu cara memperoleh informasi yang bermanfaat dari laporan keuangan adalah dengan menggunakan analisis rasio keuangan. Rasio-rasio ini digunakan untuk menilai kinerja keuangan perusahaan seperti rasio likuiditas, rasio leverage, rasio aktivitas dan rasio profitabilitas (I made, 2011:24).

Perusahaan-perusahaan yang memiliki ukuran aset lebih besar memiliki dorongan yang kuat untuk menyajikan tingkat profitabilitas yang tinggi dibandingkan dengan perusahaan yang mempunyai aset kecil, karena perusahaan yang besar diteliti dan dipandang dengan kritis oleh investor, selain itu ukuran perusahaan yang besar akan memberikan indikasi perkembangan perusahaan yang sangat pesat. Adapun alat ukur atau indikator ukuran perusahaan yang digunakan yaitu jumlah aktiva perusahaan.

Dari sisi perusahaan agar dapat bertahan ditengah-tengah persaingan global yang semakin ketat serta untuk mempertahankan profitabilitasnya, perusahaan membutuhkan dana yang tidak sedikit untuk modal dan ekspansi. Sumber dana yang digunakan oleh perusahaan dapat berasal dari dalam maupun dari luar perusahaan. Sumber dana dari dalam berupa laba ditahan dan saham sedangkan sumber dana dari luar perusahaan berupa obligasi.

Ukuran perusahaan merupakan kriteria yang mempengaruhi kemampuan perusahaan untuk memperoleh tambahan modal eksternal untuk membiayai aktivitas operasional perusahaan yang menghasilkan profit. Ukuran perusahaan menggambarkan besar kecilnya perusahaan (Sartono, 2010:20). Perusahaan yang besar akan semakin mudah mendapatkan dana eksternal berupa hutang dalam jumlah yang besar sehingga membantu kegiatan operasional perusahaan dan menyebabkan produktivitas meningkat, ukuran perusahaan ini diukur menggunakan size. Yoon dan Jang (2005) menyatakan bahwa size memiliki pengaruh yang dominan terhadap profitabilitas perusahaan restoran di US.

Selain ukuran perusahaan, hutang juga termasuk faktor yang dapat mempengaruhi naik turunya profitabilitas perusahaan dalam setiap periode sebuah perusahaan menggunakan hutang dengan tujuan agar keuntungan yang dipeoleh perusahaan tersebut lebih besar dari pada asset dan sumber dananya. Peningkatan keuntungan perusahaan tersebut akan memungkinkan untuk terjadinya peningkatan keuntungan terhadap para pemegang saham untuk melakukan investasi.

Perusahaan dengan pertumbuhan yang tinggi tentunya memerlukan dana yang tidak sedikit untuk membiayai aktivitas operasional perusahaanya. Kebutuhan dana tersebut dapat dipengaruhi salah satunya dari sumber dana eksternal perusahaan, yaitu dengan hutang. Leverage adalah salah satu faktor yang penting yang mempengaruhi profitabilitas karena leverage bisa digunakan perusahaan untuk memenuhi modal perusahaan dalam rangka meningkatkan keuntungan (Singapurwoko, 2011). Penggunaan hutang dalam kegiatan perusahaan juga bisa memberikan dampak negatif. Jika proporsi leverage tidak diperhatikan perusahaan hal tersebut akan menimbulkan penurunan profitabilitas karena penggunaan hutang menimbulkan beban bunga yang bersifat tetap dan leverage yang tinggi memiliki risiko adanya biaya hutang yang tinggi yang menimbulkan hutang yang besar dan ini berpengaruh terhadap profitabilitas. Leverage dalam penelitian ini menggunakan debt to equity ratio (DER).

Selain ukuran perusahaan, leverage, likuiditas juga mempengaruhi tinggi rendahnya perolehan suatu profitabilitas pada setiap periode. Likuiditas ini digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban yang sudah jatuh tempo, baik kepada pihak luar perusahaan maupun didalam perusahaan. Perusahaan yang mempunyai likuiditas yang baik akan dengan mudah memperoleh pinjaman dari berbagai pihak lembaga dengan tingkat suku bunga yang rendah dalam pengembalianya. Likuiditas ini diukur menggunakan current ratio.

loading...

Hutang jangka panjang dan pendek yang mempengaruhi laba dalam perusahaan untuk menambah modal harus tetap diperhatikan, perusahaan juga harus memperhatikan kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jangka pendeknya meliputi aktiva lancar dan kewajiban lancar. Aktiva lancar meliputi kas, sekuritas, piutang usaha, dan persediaan sedangkan kewajiban lancar terdiri dari utang wesel, wesel tagih jangka pendek, akrual pajak, utang yang sudah jatuh tempo dan beban lainya. Pada rasio aktivitas adalah rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan untuk membayar kewajiban jangka pendeknya. Rasio ini digunakan untuk menunjukkan efektivitas sebuah perusahan dalam mengelolah aktiva sendiri yang diwakili oleh total asset turn over.

Setiap perusahaan juga memiliki alasan tersendiri dalam menghasilkan laba yang sebanyak banyaknya untuk kelangsungan produktivitas perusahaan dan perkembangan ekonomi Indonesia.Dalam beberapa tahun terakhir pertumbuhan ekonomi juga mengalami penurunan. Mulai tahun 2011, perekonomian hanya tumbuh mencapai 6,5 persen dan turun menjadi 6,23 persen pada tahun 2012. Selanjutnya merosot menjadi 5,78 persen pada 2013, tahun2014 ekonomi Indonesia hanya mampu tumbuh sekitar 5,3 persen. Menurunya pertumbuhan ekonomi ini tidak saja disebabkan oleh factor internal, yang antara lain cerminan dalam bentuk defisitkal dan deficit neraca berjalan, dimana hal tersebut mengakibatkan terjadinya pelemahan nilai tukar rupiah, tetapi juga diakibatkan oleh dampak krisis ekonomi global yang hingga kini belum sepenuhnya pulih. Akibat krisis global tersebut hampir seluru negara dibelahan bumi ini mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi, kendati demikian, dibandingkan negara lain pertumbuhan ekonomi Indonesia masih lebih baik. Hal ini disebabkan antara lainkarena Indonesia memiliki jumlah produk yang besar sebagai sumber konsumsi dalam negeri yang menggerakan laju pertumbuhan ekonominya.

Namun secara structural, ekonomi Indonesia masih perlu dimantapkan mengingat pertumbuhan ekonomi yang hanya didorong oleh kegiatan konsumsi tidak akan menjadikan Indonesia sebagai negara maju, mandiri, dan berkembang. Menurunya ekspor dan besarnya impor migas dan barang konsumsi, mesin, bahan baku serta barang lainya ditengah krisis ekonomi global sekarang ini, telah memicu terjadinya deficit neraca berjalan dan neraca perdagangan Indonesia.

Tingkat Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan IV-2014 masih melambat meskipun diperkirakan akan mulai kembali membaik ditriwulan I-2015. Konsumsi sedikit melambat pada triwulan IV-2014, terutama didorong oleh melambatnya konsumsi pemerintah sejalan dengan program penghematan dan melambatnya konsumsi rumah tangga sebagai dampak dari kenaikan inflasi. Konsumsi akan kembali meningkat lebih tinggi pada awal triwulan I-2015 didorong oleh kenaikan konsumsi pemerintah seiring dengan membesarnya ruang fiscal. Hal ini mendorong kenaikan investasi baik bangunan maupun non bangunan. Dari sisi eksternal, meskipun terjadi peingkatan ekspor manufaktur, secara keseluruan pertumbuhan ekspor terbatas akibat masih tertekanya ekspor komoditas sejalan dengan melambatnya permintaan negara emerging market.

Pertumbuhan sektor properti mengalami perlambatan di sepanjang semester pertama 2014, diperkirakan pertumbuhanya mencapai 10-15 persen disbanding periode yang sama tahun sebelumnya. Tingginya suku bunga Loan to Value (LTV) yang ditetapkan oleh Bank Indonesia menjadi salah satu penyebab melemahnya penjualan property. Selain itu, tidak stabilnya nilai tukar rupiah dan momen pemilihan presiden juga berdampak pada melambatnya pertumbuhan disektor property.

Dari segi property komersial, pertumbuhan positif juga ditunjukkan dari usaha perkantoran, ritel, apartemen, hotel dan lahan industri. Harga jual atrata-title terus meningkat dengan peningkatan volume penjualan. Tarif sewa property komersial juga terus meningkat, khususnya untuk gedung perkantoran. Di antara berbagai jenis property komerisal tersebut hotel menunjukkan kenaikan tingkat hunian yang lebih tinggi dibandingkan lainya. Hal ini disebabkan tren penerbangan dengan biaya murah dan tren hotel budget yang kemudian mendorong pertumbuhan para investasi dan para wisatawan yang melakukan kunjungan tertarik pada Indonesia. Hal ini menunjukan Indonesia sebagai negara tujuan untuk investasi jangka panjang yang layak di pertimbangkan.

Daftar Pustaka

Fred Weston, J. dan E. Copeland, Thomas. 1995. Manajemen Keuangan, Jilid 1, Edisi Kesembilan, Binarupa Aksara, Jakarta.

Made Sudana, I. 2011. Manajemen Keuangan Perusahaan Teori Praktis, Erlangga, Jakarta.

Sartono, Agus R. 2000. Manajemen Keuangan: Ringkasan Teory soal dan Penyelesaian, Edisi Ketiga, BPFE, Yogyakarta.

Singapurwoko, Arif. 2001. The Impact of Financial Leverage to Profitability Study of non Financial Companies in I ndonesia STOCK Exchange. Europen Journal of Economics, Finanace and Administrarive Science, (32), PP:136-148.

Yoon, Eunju and Soon, Cheoang, Jang. 2005. The Effect of Financial Leverage on Pfofitability and risk of Restaurant Firm. Journal of Hospital Financial Management, 13(1), pp:1-18.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here