Home Kesehatan Overweight: Faktor penyebab dan Dampaknya

Overweight: Faktor penyebab dan Dampaknya

551
0
SHARE
Overweight atau Kegemukan
Ilustrasi anak yang mengalami kegemukan

Kegemukan (Overweight) dan obesitas sering kali diartikan sama. Padahal dua kata tersebut memiliki makna yang berbeda. Menurut Supariasa (2002), kegemukan atau overweight ialah keadaan dimana seseorang memiliki berat badan yang lebih berat dibandingkan berat badan idealnya yang disebabkan terjadinya penumpukan lemak di tubuhnya. Masalah berat badan lebih yang sering dialami oleh remaja yaitu kegemukan/overweight.

Berat badan berlebih diartikan sebagai akumulasi lemak tubuh yang berlebihan. Pada pria kandungan lemak tubuh yang sehat berjumlah 15% dari keseluruhan berat badan sedangkan wanita 25% dari berat badan. Akumulasi lemak yang berlebih dapat melebihi 50% berat badan total dan menyebabkan mudah terkena komplikasi penyakit lain (Barasi, 2007).

Kegemukan dapat disebabkan oleh makan yang berlebihan, dalam hal karbohidrat, lemak, protein serta kurangnya aktifitas. Kegemukan dapat menyebabkan gangguan fungsi tubuh (Proverawati, 2010). Kegemukan diduga ikut menjadi penyebab penyakit hipertensi, jantung koroner, diabetes mellitus, dan penyakit pernfasan, selain itu penderita kegemukan sering mengalami gangguan emosional (Khomsan, 2003).

Faktor-Faktor Penyebab Overweight

Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya kegemukan atau overweight. Faktor-faktor resiko terjadinya kegemukan antara lain ialah :

1. Genetik

Kegemukan cenderung diturunkan, sehingga diduga memiliki penyebab genetik. Penelitian menunjukkan bahwa rata-rata faktor genetik atau keturunan memberikan konstribusi 33% terhadap berat badan seseorang (Proverawati, 2010).

Sebagian besar kasus kegemukan, peningkatan pesat dalam kejadian kegemukan di dalam populasi yang stabil secara genetik menyiratkan bahwa faktor eksternal berperan lebih besar. Hal ini tidak menutup kemungkinan adanya penyebab genetik di balik kerentanan seseorang terhadap kegemukan, yang kemudian muncul akibat perubahan eksternal (Barasi, 2007). Menurut Wirahkusumah (1997), anak-anak dari orang tua normal mempunyai 10% peluang menjadi gemuk. Peluang itu akan menjadi 40-50% bila salah satu orang tua menderita kegemukan dan akan meningkat menjadi 70-80% bila kedua orang tuanya gemuk.

2. Aktivitas Fisik

Gaya hidup di era modern dengan aktivitas fisik ringan akan memudahkan terjadinya penumpukan lemak tubuh. Proses timbulnya lemak disekeliling tubuh kita berlangsung perlahan, lama, dan sering kali tidak kita sadari (Khomsan, 2006).

Remaja dengan tingkat aktivitas yang kurang sedangkan mengkonsumsi makanan secara berlebihan akan cenderung mengalami kegemukan karena kalori yang masuk tidak seimbang dengan kalori yang digunakan (Istiyani, 2012).Hasil penelitian Mendoza, dkk (2007) di Amerika menunjukkan bahwa menonton televisi atau menggunakan komputer >2 jam perhari dapat meningkatkan resiko terjadinya overweight pada anak.

3. Lingkungan

Lingkungan didefinisikan sebagai perilaku atau pola gaya hidup, misalnya apa yang dimakan dan berapa kali seseorang makan, serta bagaimana aktivitasnya sehari-hari. Seseorang tidak dapat mengubah pola genetiknya tetapi dapat mengubah pola makan serta aktivitasnya (Proverawati, 2010).Faktor keluarga juga dapat mempengaruhi kebiasaan makan remaja, seperti makan snack yang berlebihan, frekuensi makan yang sering dan makan di luar waktu makan (Wirahkusumah, 1997).

4. Pola konsumsi makanan kurang tepat

Keseimbangan konsumsi makanan sehari-hari akan menyebabkan penyerapan zat gizi di dalam tubuh dimanfaatkan secara optimal sebagai sumber energi tubuh, namun sebagian remaja terkadang mengkonsumsi makanan terlalu banyak tanpa memperhatikan kandungan gizinya. Akhirnya remaja yang biasa makan banyak akan menyimpan kalori dalam bentuk lemak tubuh dan muncullah masalah kegemukan. Remaja memiliki kebiasaan makan diantara waktu makan, berupa jajanan baik di sekolah maupun di luar sekolah.

Pemilihan jenis makanan yang mereka lakukan lebih penting daripada tempat atau waktu makan. Makanan remaja umumnya kaya energi yang berasal dari karbohidrat dan lemak yang akan mengakibatkan masalah kegemukan (Almatsier, 2011).Akhir-akhir ini banyak tersedia makanan cepat saji seperti burger, fried chicken, hot dog dan lain-lain. Makanan seperti itu relatif mahal dan kebanyakan yang mengkonsumsi adalah masyarakat dari golongan ekonomi menengah ke atas (Budiyanto, 2002).

5. Jenis kelamin

Overweight lebih umum dijumpai pada wanita terutama pada masa remaja. Hal ini disebabkan karena perubahan hormonnal yaitu hormon esterogen dan progesteron (Arisman, 2004). Pertimbangan lemak perbobot tubuh total pada tubuh wanita lebih besar yaitu 30% dari pada pria yang berkisar 20-25%. Wanita memiliki tempat-tempat penimbunan jaringan lemak khusus yang memberikan bentuk kas feminim, misalnya di daerah glutal (pantat), daerah dada dan bahu sehingga wanita lebih beresiko mengalami kegemukan (Budiyanto, 2002).

6. Tingkat sosial ekonomi

loading...

Masyarakat Indonesia cenderung lebih banyak mengkonsumsi makanan yang mengandung tinggi karbohidrat dan lemak. Kecenderungan masyarakat untuk mengkonsumsi makanan impor terutama jenis makanan siap santap (fast food), seperti ayam goreng, pizza, hamburger meningkat dengan tajam terutama dikalangan generasi muda dan kelompok masyarakat ekonomi menengah ke atas (Astawan, 2004).

Peningkatan pendapatan juga mempengaruhi pemilihan jenis dan jumlah makanan yang dikonsumsi. Peningkatan kemakmuran dimasyarakat yang diikuti oleh peningkatan pendidikan dapat mengubah gaya hidup dan pola makan dari pola makan tradisional ke pola makan praktis dan siap saji. Perubahan ini berakibat semakin banyaknya penduduk golongan tertentu mengalami masalah gizi lebih (Almatsier, 2011).

Dampak Overweight

Kegemukan dapat menyebabkan berbagai masalah ortopedik, termasuk nyeri punggung bagian bawah dan memperburuk osteoarthritis (terutama di daerah pinggul, lutut dan pergelangan kaki). Kegemukan juga dapat meningkatkan resiko terjadinya berbagai penyakit seperti diabetes mellitus tipe 2 (timbul pada masa remaja), hipertensi, stroke, jantung, gout, osteoarthritis, tidur apneu (kegagalan bernafas secara normal ketika sedang tidur, menyebabkan berkurangnya kadar oksigen dalam darah), sindroma pickwikian (kegemukan disertai wajah kemerahan dan ngantuk) (Proverawati, 2010).

Orang yang mengalami overweight lebih cepat menjadi lelah dan lebih mudah membuat kesalahan. Lama hidup(life span) orang yang menderita kegemukan juga lebih pendek dibandingkan orang dengan berat badan ideal, lebih cepat merasa kepanasan badannya dan cepat berkeringat (Sediaoetama, 2002). Penderita kegemukan cenderung lebih sensitif jika dibandingkan dengan orang berat badannya normal, terhadap isyarat lapar eksternal seperti rasa dan bau makanan maupun waktu untuk makan.Mereka cenderung makan jika merasa ingin makan, bukan saat mereka lapar.

Pola makan berlebih akan menyebabkan mereka sulit untuk keluar dari kondisi kegemukan, hal ini disebabkan karena mereka tidak memiliki kontrol diri dan motivasi yang kuat untuk mengurangi berat badan (Proverawati, 2010). Orang yang memiliki berat badan lebih mempunyai peluang lima kali lebih mudah terkena kanker, lima kali lebih mudah menderita diabetes, dan delapan kali lebih mudah terserang penyakit jantung dibandingkan orang dengan berat badan normal (Astawan, 2004).

Bahan Bacaan:

Almatsier, S (ed.)., Susirah, S dan Moesijanti, S. 2002. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta : Graha Media Pustaka Utama

Almatsier, S (ed.)., Susirah, S dan Moesijanti, S. 2011. Gizi Seimbang Dalam Daur Kehidupan Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama

Arisman. 2010. Gizi Dalam Daur Kehidupan. Jakarta : EGC

Astawan, M. 2004. Kiat Menjaga Tubuh Tetap Sehat. Solo : Tiga Serangkai

Barasi, M. E. 2007. At A Glance Ilmu Gizi. Jakarta : Erlangga

Budiyanto., M.A. 2002. Gizi dan Kesehatan. Malang : UMM Press

Istiany, A., dan Rusilanti, 2013. Gizi Terapan. Bandung : Remaja Rosdakarya

Khomsan, A. 2003. Pangan dan gizi untuk kesehatan. Jakarta: PT raya Grafindo persada.

Mendoza, J.A., Fred J.Z., and Dimitri, A.C. 2007. Television viewing, computer use, obesity, and adiposity in US preschool children. International Journal of Behavioral Nutrition And Physical Activity. Vol 4, No.44, Pp 1479-5868.

Proverawati. A. 2010. Obesitas Dan Gangguan Perilaku Makan Pada Remaja. Yogyakarta: Muha Medika

Sediaoetama, A.D. 2002. Ilmu Gizi Untuk Mahasiswa Dan Profesi. Jakarta : Dian Rakyat.

Wirahkusumah, Emma S. 1997. Mengapa Seseorang Menjadi Gemuk. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here