Home Bahasa Teori dan Penerapan Semiotika

Teori dan Penerapan Semiotika

182
0
SHARE
semiotika

Teori Dekonstruksi barang kali salah satu tema yang relevan untuk kita soroti dalam kajian semiotika dewasa ini. Tidak dapat kita pungkiri, sejarah panjang pemikiran islam kontemporer sempat berhutang terhadap teori tersebut. Adalah Muhammed Arkoun pemikir muslim kontemporer yang sempat menggunakan teori dekonstruksi untuk merobohkan belenggu paradigma logosentrime dalam pemikiran islam. Ia membuat pembabakan pemikiran islam dengan; thinkable, unthinkable, kemudian unthought (Akrom: 2010, 9). Berkat teori dekontruksi maka lahir lah penafsiran-penafsiran baru yang pada masa sebelumnya dianggap tabu.

Adalah Jeques Derrida, filosof postmodern asal Perancis yang menggagas teori Dekontruksi. Menurut Derrida taori dekonstruksi merupakan alternatif untuk menolak segala keterbatasan penafsiran ataupun bentuk kesimpulan yang baku. Konsep Dekonstruksi—yang kini marak disebut dengan demistifikasi, pembongkaran produk pikiran rasional yang percaya kepada kemurnian realitas—pada dasarnya dimaksudkan menghilangkan struktur pemahaman tanda-tanda (siginifier) melalui penyusunan konsep (signified).

Berbeda dengan Sauserean yang memandang hubungan antara signifier dan signified merupakan kesatuan yang memiliki makna, menurut Derida tidak ada hubungan secara langsung antarkeduanya. Derida menganggap, ketika kita membaca tanda, tidak berarti sekonyong-konyong semua jelas begitu saja. Tanda tidak menunjukkan apa-apa, sehingga ia nir-makna (Madan Sarup: 1993, 33). Dengan kata lain, Derrida memandang bahwa teks atau tanda di dalam dirinya sendiri, tidak mempunyai makna dan tidak merepresentasikan realitas eksternal. Sebuah makna dari teks baru akan hadir ketika kita relasikan dengan segala teks yang ada di sekitarnya.

Dalam teori Grammatology, Derrida menemukan konsepsi tak pernah membangun arti tanda-tanda secara murni, karena semua tanda senantiasa sudah mengandung artikulasi lain (Alex Sobur: 2006, 100). Secara ringkas, Derrida mencoba membangun sebuah sistem penafsiran yang kompleks.

Perbedaannya dengan para strukturalis, terutama yang mengikuti perkembangan ilmu bahasa dan yang melihat individu dikendalikan oleh struktur bahasa, Derrida menurunkan peran bahasa hanya sekadar ”tulisan” yang tidak memaksa penggunanya. Derrida juga melihat lembaga sosial tak lain hanya sebagai tulisan dan karena itu tak mampu memaksa orang. Menurut istilah masa kini Derrida mendekonstruksikan bahasa dan institusi sosial (George Ritzer dan Douglas J. Goodman: 2004,607).

Baca juga

Aspek Pragmatik: Tindak Tutur

Penerapan Semiotika

loading...

Saya mencoba menggunakan teori Dekontruksi Derrida pada sebuah teks yang biasa ada di tempat umum (khususnya Jakarta), atau diruangan ber AC, “Dilarang Merokok”. Ketika saya melihat ia sebagai sebuah teks atau eksistensi sebagaimana ia (being qua being), saya tidak menemukan apa pun kecuali hanya sebuah tulisan atau teks yang nir-makna. Akan tetapi, ketika saya relasikan dengan teks lain; misalnya kesehatan, privasi, buruh, ekonomi, kemiskinan, alienasi, diskriminasi, dll. Maka akan menghadirkan ragam penafsiran yang muncul. Seperti:

no smoking area

  • “Dilarang merokok” bermakna peringatan untuk tidak merokok karena merugikan kesehatan. Karena merokok dapat menyebabkan penyakit, bla, bla, bla… dan ketika seseorang menderita penyakit tersebut akan begini dan begitu, dan bahkan mati.
  • “Dilarang merokok” bermakna adanya diskriminasi dan alienasi terhadap para perokok.
  • “Dilarang merokok” bermakna larangan untuk menanam tembakau, ketika seorang buruh tani tembakau dilarang maka mereka tidak dapat memenuhi kebutuhan makan, pendidikan, kesehatan, dan ragam kebutuhan lainnya.

Masih banyak lagi ragam penafsiran lainya. Jika kita merujuk pada konsep dasar Dekonstruksi, makna teks sangat tergantung pada relasi disekitar teks.

Bahan Bacaan:

 

Akrom, Ngabdulloh. Islam dalam Konteks Pemikiran Posmodernisme: Sebuah Tawaran Muhammed Arkoun. Makalah diprensentasikan dalam kuliah The Challenge of Modernism & Postmodernism to Islam. 03 Agustus 2010

Sarup, Madan.  An Introductory Guide to Post-Structuralism and Postmodernism. 2nd ed.  London: Harvester Wheatsheaf. 1993.

Sobur, Alex. Semiotika Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya. 2006

Ritzer, George dan Goodman, Douglas J. Teori Sosiologi Modern. Jakarta: 2004 .

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here