Home Kesehatan Kenali Tanda, Gejala, Penularan, dan Penanggulangan HIV AIDS

Kenali Tanda, Gejala, Penularan, dan Penanggulangan HIV AIDS

419
0
SHARE
bahaya hiv aids

Pengertian HIV AIDS

Menurut para ahli medis dan WHO, HIV-AIDS merupakan jenis penyaikit manusia yang sangat mematikan didunia dan hingga saat ini belum ditemukan obatnya.

Human Immuno-deficiency Virus (HIV), menurut 0Depkes RI (2003) didefinisikan sebagai virus penyebab AIDS. Sedangkan Smeltzer (2003) menegaskan bahwa HIV diartikan sebagai retrovirus yang termasuk golongan asam ribonukleat (RNA) yaitu virus yang menggunakan RNA sebagai molekul pembawa sifat genetic yang diartikan sebagai Human T-cell Lymphorropic Virus tipe III (HTLV III).

HIV  adalah suatu virus yang dapat memyebabkan penyakit AIDS. Virus ini menyerang manusia dan menyerang sistem kekebalan (imunitas) tubuh, sehingga tubuh menjadi lemah dalam melawan infeksi.

HIV merupakan retrovirus yang menyerang sel-sel sistem kekbalan tubuh manusia (terutama CD4 positive T-sel dan macrophages, komponen-komponen utama kekebalan sel) dan menghancurkan serta mengganggu fungsinya.infeksi virus ini mengakibatkan penurunan sistem kekebalan yang terus-menerus, yang mengakibatkan defisiensi (berkurangnya) kekebalan tubuh.

HIV secara langsung dan tidak langsung merusak Sel T CD4+, padahal sel tersebut dibutuhkan agar sistem kekebalan tubuh berfungsi baik.

Apabila HIV membunuh sel T CD4+ sampai terdapat kurang dari 200 sel T CD4+ per mikroliter (µL) darah maka kekebalan selular akan hilang, maka akibatnya ialah AIDS.

Acquired Immuno Deficiency Syndrome (AIDS) adalah suatu kumpulan gejala yang menunjukan adanya kelemahan/kerusakan/penurunan daya tahan tubuh yang disebabkan oleh masuknya virus HIV dalam tubuh seseorang. Acquired Immuno Deficiency Syndrome (AIDS) didefinisikan oleh Smeltzer (2001) sebagai bentuk paling berat dari keadaan sakit terus menerus yang berkaitan dengan infeksi HIV. Gunung (2002) juga menyatakan bahwa AIDS pada orang dewasa atau remaja umur 13 tahun atau lebih adalah terdapatnya satu dari 26 keadaan yang menunjukkn imunosupresi berat yang berhubungan dengan infeksi HIV, seperti Pneumocystis Carini pneumonia (PCP), suatu infeksi paru yang sangat jarang terjadi pada penderita yang tidak terinfeksi HIV. Kondisi ini dipertegas oleh Depkes RI (2003) yang mengartikan AIDS sebagai suatu gejala berkurangnya kemampuan pertahan diri yang disebabkan masuknya virus HIV kedalam tubuh seseorang. Kerusakan progresif pada system kekebalan tubuh menyebabkan ODHA (orang dengan HIV/AIDS)  amat rentan dan mudah terjangkit bermacam-macam penyakit. Serangan penyakit yang biasanya tidak berbahaya pada orang yang tidak terinfeksi pun  lama-kelamaan akan menyebabkan pasien sakit parah bahkan meninggal.

Tanda dan Gejala HIV AIDS

Terdapat berbagai klasifikasi klinis HIV/AIDS. Salah satunya menurut CDA (Smeltzer, 2003 & Depkes RI, 2003).

1. Kategori Klinis A

Meliputi infeksi HIV tanpa gejala. Limfadenopati generalisata yang menetap (Parsistent Generalized lymadenopaty/PGL).

2. Kategori Klinis B

Keadaan yang dihubungkan dengan infeksi HIV atau adanya kerusakan kekebalan yang diperantarakan sel (cell mediated immunity) atau kondisi yang dianggap oleh dokter telah memerlukan penanganan klinis atau membutuhkan penatalaksanan akibat komplikasi infeksi HIV, misalnya : Angiomatosis basilaris, kandidiasis orofaringeal, kandidiasis Vulbovaginal, dysplasia leher rahim, demam 38,5oC atau diare lebih dari satu bulan, oral hairy leukoplakia, herpes zoster, purpura idiopatik trombositopenia, listeriosis, penyakt radang panggul, neuropati perifer.

3. Kategori Klinis C

Gejala yang ditemukan pada pasien AIDS, misalnya ; kandidiasis bronki, trakea, dan paru, kandidiasis esophagus, kanker leher rahim, coccidiodomycosis menyebar atau paru, kriptokokosis diluar paru, retinitis virus sitomegolo, enselopati yang berhubungan dengan HIV, herpes simpleks, ulkus kronis, bronchitis, esofagitis, pneumonia, histoplasmosis, intestinal kronis lebih dari satu bulan, sarcoma Kaposi, limfoma burkit, limfoma imunoblastik, limfoma primer diotak mycobacterium avium complex (MAC) tersebar atau diluar paru, mycobacteriumtuberculosis dimana saja, pneumonia pneumocystis carinii, pneumonia berulang, leukoensefalopati multifocal progresif, septicemia salmonella yang berulang, toksoplasmosis diotak (Depkes RI, 2003).

Baca juga
Kurus Tak Menjamin Kita Bebas dari Obesitas
Overweight: Faktor penyebab dan Dampaknya

 

Klasifikasi HIV AIDS Menurut WHO

1. Stadium 1 bersifat Asimptomatik

Aktivitas normal dan dijumpai adanya limfadenopati generalisata.

2. Stadium II simptomatik

Aktivitas Normal, berat badan menurun < 10 %, terdapat kelainan kulit dan mukosa yang ringan seperti dermatitis serobik, prorigo, Onikomikosis, Ulkus yang berulang dan kheilitis angularis, herpes zoster dalam 5 tahun terakhir, adanya infeksi saluran nafas bagian atas seperti sinusitus bakterialis.

3. Stadium III

Pada umumnya kondisi tubuh lemah, aktivitas di tempat tidur < 50 %, berat badan menurun > 10 %, terjadi diare kronis yang berlangsung lebih dari 1 bulan, demam berkepanjangan lebih dari 1 bulan, terdapat kandidiasis orofaringeal, TB paru dalam 1 tahun terakhir, infeksi bakterial yang berta seperti Pneumonia dan Piomiositis.

4. Stadium IV

Pada Umumnya kondisi tubuh sangat lemah, aktivitas ditempat tidur >50%, terdapat HIV wasting syndrom, semakin bertambahnya infeksi opurtunistik seperti Pneumonia Pneumocystis carinii, toksoplasmosis otak, diare Kriptosporidiosis lebih dari 1 bulan, Kriptosporidiosis ekstrapulmonal, Retinitis virus sitomegalo, Herpes Simplek mukomutan > 1bulan, leukoensefalopati multifocal progesif, mikosis diseminata seperti histopasmosis, kandidiasis di esophagus, trakea, bronkus, dan paru, tuberkulosis diluar paru, limfoma, sarkoma kaposi, serta Ensefalopati HIV.

Cara Penularan HIV AIDS

Jalur penularan HIV AIDS sama dengan infeksi hepatitis B. yaitu:Penularan HIV AIDS

  1. Kontak seksual

Penularan melalui hubungan seksual adalah cara paling dominan dari semua cara penularan. Saat hubungan seksual berati terjadi kontak langsung antara dua individu, kontak ini meningkatkan kemungkinan trauma pada mukosa rektum maupun vagina dan selanjutnya memperbesar peluang untuk penularan HIV AIDS lewat sket tubuh. Tingkat seringnya hubungan seks dengan berganti-ganti pasangan juga meningkatkan resiko penularan HIV.

  1. Tertusuk atau tubuh tergores oleh alat yang tercemar HIV/jarum sutik
loading...

Penularan melalui suntikan intra vena terjadi kontak lagsung darah dengan jarun dan spuit yang terkontaminasi. Meski jumlah darah dalam spuit relatif kecil, tapi efek pemakain jarum suntik secara bergilir dan terus menrus serta sudah terkontaminasi, akan meningkatkan resiko penularan HIV AIDS. Penularan dengan cara ini banyak dialami oleh pengguna narkoba.

  1. Darah dan Produk darah

Penulran lewat darah dapat terjadi jika pasien yang menerima tranfusi darah dari penderita HIV. Namun demikian resiko dari transfusi kini sudah banyak berkurang, karena sebelumnya sudah dilakukan pemeriksaan serologi yang suka rela diminta sendiri, proses pembekuan, pemanasan, dan cara-cara inaktivasi virus semakin efektif.

  1. Penularan Ibu ke Anak

Asi HIVTransmisi HIV dari ibu ke anak dapat terjadi di dalam rahim selama minggu-minggu terakhir kehamilan dan saat persalinan. Namun demikian, jika sang ibu memiliki akses terhadap terapi antiretroviral penularan sebesar 1%. Sejumlah faktor dapat mempengaruhi resiko infeksi, terutama beban virus pada ibu saat persalinan (semakin tinggi beban virus, semakin tinggi resikonya). Ibu yang mengidap HIV, yang menyusui anaknya akan meningkatkan resiko penularan sebesar 10-15 %. Resiko ini bergantung pada faktor klinis dan dapat bervariasi menurut pola dan lama menyusui.

Penelitian menunjukkan bahwa obat antiretroviral, bedah caesar, dan pemberian susu formula mengurangi peluang penularan HIV AIDS dari ibu ke anaknya.

Hal-Hal Yang tidak dapat Menularkan HIV AID

BKKN (2007) menegaskan bahwa HIV/AIDS tidak dapat menular melalui aktifitas seperti :

  1. Berjabat tanganHal yang tidak menularkan HIV
  2. Makan bersama
  3. Menggunakan telepon bergantian
  4. Bergantian pakaian
  5. Tinggal serumah dengan ODHA
  6. Mandi bersama di kolam renang
  7. Gigitan nyamuk
  8. Batuk/bersin
  9. Ciuman
  10. Duduk bersama

Komplikasi HIV AIDS

Menurut Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAD, 2003) komplikasi yang terjadi pada pasien HIV/AIDS adalah sebagai berikut :

  1. Kandidiasis bronkus, trakea, atau paru-paru
  2. Kandidiasis esophagus
  3. Kriptokokosis ekstra paru
  4. Kriptosporidiosis intestinal kronis (>1 bulan)
  5. Renitis CMV (gangguan penglihatan)
  6. Herpes simplek, ulkus kronik (> 1 bulan)
  7. Mycobacterium tuberculasis di paru atau ekstra paru
  8. Ensefalitis toxoplasma.

Penanggulangan HIV AIDS

1.Promosi Kesehatancara mencegah hiv aids

Promosi kesehatan ditujukan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat yang benar dan komprehensif tentang pencegahan penularan HIV dan menghilangkan stigma serta diskriminasi. Promosi ini dilakukan oleh tenaga kesehatan maupun non kesehatan yang sudah terlatih.

2.Pencegahan Penularan HIV AIDS

a. Tidak melakukan hubungan seksual dengan bergonta ganti pasangan. Apabila pasangan tetap kita (suami/istri kita) menderita HIV AIDS, saat berhubungan seksual sebaiknya menggunakan

b. Menguji dan menyaring para pendonor darah. Menggunkan peralatan steril, memenuhi standar operasional prosedur dan kewaspadaan umum (Universal Precaution), pecegahan infeksi sesuai dengan standar. Penurangan dampak buruk pada pengguna napza suntik: program layanan alat suntik steril dengan konseling perubahan perilaku serta dukunggan psikososial, mendorong menjalani terapi/rehabilitasi, mendorong melakukan pencegahan penularan seksual, layanan konseling dan test HIV.

c. Pencegahan penularan HIV dari ibu hamil ke bayinya yang dikandungnya: pemberian ARV kepada Ibu, pilihan untuk tidak menyusui bayinya. Pemberian dukungan psikologis, sosial dan perawatan kepada ibu dengan HIV beserta anak dan keluarganya. Setiap bayi yang terlahir dari ibu yang terinfeksi HIV harus melakukan tes serologi HIV (DNA/RNA) dimulai pada usia 6 sampai 8 minggu atau test HIV pada usia 18 bulan keatas. Setiap bayi yang terlahir dari ibu yang terinfeksi HIV, harus segera mendapatkan profilaksis ARV dan kotrimoksasol.

3.Pengobatan, Perawatan dan Dukungan

a. Pengobatan Terapeutik: pengobatan ARV (Anti Retro Viral), Pengobatan Infeksi Menular Seksual dan pengobatan infeksi oportunitis.

b. Pengobatan profilaksis: pemberian ARV pasca pajanan dan pemberian profilaksis

c. Pengobatan penunjang: multivitamin, dukungan, nutrisi, pendidikan kesehatan, pencegahan komplikasi dan infeksi, dukungan psikologi kesehatan mental, dukungan sosial ekonomi.

4. Rehabilitasi

Rehabilitasi dilakukan melalui rehabilitasi medis dan sosial. Ditujukan untuk mengembalikan kualitas hidup untuk menjadi produktif secara ekonomi dan sosial.

Tabel reaksi psikologis pasien HIV
Tabel reaksi psikologis pasien HIV

Kepustakaan:

Auto Imun Care. Tanda-tanda Penyakit HIV secara Umum dan Mudah Diketahui. www.autoimuncare.com

Depkes RI. (2003). HIV/AIDS dan Pencegahannya. Ditjen PP&PL. Jakarta

KemenKes RI. Pedoman Nasional Terapi Antiretroviral 2011. Departemen Kesehatan Republik Indonesia Direktorat Jendral Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan. Jakarta: 2011; p. 14,46.

Smeltzer, Suzanne C. dan Bare, Brenda G, 2002, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner dan Suddarth (Ed.8, Vol. 1,2), Alih bahasa oleh Agung Waluyo…(dkk), EGC, Jakarta.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here