Home Pendidikan Perkembangan Motorik Halus Pada Anak

Perkembangan Motorik Halus Pada Anak

451
0
SHARE
Perkembangan motorik halus pada anak

Pengertian Motorik Halus

Motorik berasal dari kata “motor” yang artinya dasar mekanika yang menyebabkan terjadinya suatu gerak. Menurut Hurlock (2013) perkembangan motorik mempunyai arti perkembangan pengendalian gerakan jasmaniah melalui kegiatan pusat syaraf, urat syaraf dan otot yang terkendali. Corbin (Sumantri, 2005) mengemukakan bahwa perkembangan motorik merupakan perubahan kemampuan gerak dari bayi sampai dewasa yang melibatkan berbagai aspek perilaku dan kemampuan gerak.

Menurut Sujiono (2008) motorik halus adalah gerakan yang melibatkan bagian – bagian tubuh tertentu saja dan dilakukan oleh otot – otot kecil, seperti ketrampilan menggunakan jari jemari tangan dan gerakan pergelangan tangan yang tepat. Sumantri (2005) menyatakan bahwa motorik halus merupakan pengorganisasian penggunaan sekelompok otot – otot kecil seperti jari jemari dan tangan yang sering membutuhkan kecermatan dan koordinasi mata tangan. Susanto (2011) berpendapat bahwa motorik halus adalah gerakan halus yang melibatkan bagian – bagian tertentu yang dilakukan oleh otot – otot kecil saja dan memerlukan koordinasi yang cermat.

Menurut Samsudin (2008), motorik halus adalah kemampuan anak dalam beraktivitas dengan menggunakan otot-otot kecil, seperti menyusun mainan dan membuat menara. Menurut  Santrock (2007), motorik halus merupakan keterampilan yang melibatkan gerakan yang lebih diatur dengan halus seperti keterampilan tangan, sedangkan Lindya (2008) menyebutkan bahwa motorik halus merupakan aspek yang berhubungan dengan kemampuan anak untuk melakukan gerakan pada bagian-bagian tubuh tertentu saja dan dilakukan oleh otot-otot kecil tetapi memerlukan koordinasi yang cermat.

Menurut Desmita (2010) motorik halus anak adalah gerakan anak yang menggunakan otot kecil atau hanya sebagian anggota tubuh tertentu. Motorik halus adalah gerakan yang hanya melibatkan bagian-bagian tubuh tertentu yang dilakukan oleh otot-otot kecil dan tidak terlalu membutuhkan tenaga, akan tetapi membutuhkan koordinasi yang cermat dan ketelitian. Seiring dengan pertambahan usia anak, kepandaian anak akan kemampuan motorik halus semakin berkembang dan maju pesat terutama pada masa lima tahun pertama. Perkembangan motorik merupakan perkembangan pengendalian gerakan jasmaniah melalui kegiatan pusat syaraf, urat syaraf, dan otot yang terorganisasi (Hurlock, 2002).

Dari uraian – uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa motorik halus merupakan kemampuan untuk melakukan gerakan atau aktifitas tertentu yang dilakukan oleh otot – otot kecil serta memerlukan koordinasi yang cermat.

Faktor – faktor yang mempengaruhi Perkembangan Motorik Halus

Menurut Hurlock (2013) faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan motorik halus pada anak antara lain: Faktor hereditas (warisan sejak lahir atau bawaan), faktor lingkungan yang menguntungkan atau merugikan kematangan fungsi-fungsi organis dan fungsi psikis, serta aktivitas anak sebagai subyek bebas yang berkemauan, kemampuan, punyai emosi serta mempunyai usaha untuk membangun diri sendiri.

Teori lain diungkapkan oleh Rumini dan Sundari (2004) mengemukakan bahwa faktor-faktor yang mempercepat atau memperlambat perkembangan motorik halus antara lain :

  • Faktor genetik. Individu mempunyai beberapa faktor keturunan yang dapat menunjang perkembangan motorik, misal : otot kuat, syaraf baik, dan kecerdasan yang tinggi sehingga menyebabkan perkembangan motorik individu tersebut menjadi baik dan cepat.
  • Faktor kesehatan pada periode prenatal Janin yang selama ini dalam kandungan dengan keadaan sehat, tidak keracunan, tidak kekurangan gizi maupun vitamin dapat membantu memperlancar perkembangan motorik anak.
  • Faktor kesulitan dalam melahirkan. Faktor kesulitan dalam melahirkan misalnya dalam perjalanan kelahiran dengan menggunakan bantuan alat vacuum, sehingga bayi mengalami kerusakan otak dan akan memperlambat perkembangan motorik bayi.
  • Kesehatan dan gizi. Kesehatan dan gizi yang baik pada awal kehidupan pasca melahirkan akan mempercepat perkembangan motorik bayi.
  • Adanya rangsangan, bimbingan dan kesempatan anak untuk menggerakkan semua bagian tubuh akan mempercepat perkembangan motorik bayi.
  • Perlindungan yang berlebihan sehingga anak tidak ada waktu untuk bergerak, misalnya : anak hanya digendong terus, ingin naik tangga tidak boleh, hal ini akan menghambat perkembangan motorik anak.
  • Kelahiran sebelum masanya disebut premature, biasanya akan memperlambat perkembangan motorik anak.
  • Kelainan Individu yang mengalami kelainan baik fisik maupun psikis, sosial, mental biasanya akan mengalami hambatan dalam perkembangannya.

Berdasarkan uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwa faktor – faktor yang mempengaruhi perkembangan motorik halus anak adalah faktor hereditas, faktor lingkungan, aktivitas anak, faktor kesehatan, faktor kesulitan dalam melahirkan, faktor kesehatan dan gizi, perlindungan dan premature.

Karakteristik Perkembangan Ketrampilan Motorik

Menurut Depdiknas (2007) karakteristik perkembangan keterampilan motorik anak meliputi :

  • Usia 3 tahun, kemampuan gerakan halus anak belum terlalu berbeda dari kemampuan gerakan halus pada masa bayi. Meskipun anak pada saat ini sudah mampu menjumput benda dengan menggunakan jempol dan jari telunjuknya, tetapi gerakan itu sendiri masih sangat kikuk.
  • Usia 4 tahun, koordinasi motorik halus anak secara substansial sudah mengalami kemajuan dan gerakannya sudah lebih cepat, bahkan cenderung ingin sempurna.
  • Usia 5 tahun, koordinasi motorik halus anak sudah lebih sempurna lagi. tangan, lengan, dan tubuh bergerak di bawah koordinasi mata.
  • Usia 6 tahun, ia telah belajar bagaimana menggunakan jari jemari dan pergelangan tangannya untuk menggerakkan ujung pensilnya.

Dari uraian – uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa perkembangan ketrampilan motorik halus anak dimulai dari usia 3 tahun sampai 6 tahun dengan perkembangan yang semakin optimal, sehingga pada saat anak berusia 6 tahun sudah mempunyai kemampuan untuk menggunakan jari jemari dan tangannya untuk siap menggerakkan ujung pensilnya.

Ciri-Ciri Perkembangan Motorik Halus Anak

Caughlin (Sumantri, 2005) memaparkan tentang pengembangan kegiatan motorik halus anak berdasarkan kronologis usia yaitu (1) memegang pensil dengan benar antara ibu jari dan dua jari (2) menjiplak persegi panjang, wajik dan segitiga (3) memotong bentuk – bentuk sederhana (4) menggambar orang termasuk leher, tangan, mulut, rambut dan hidung.

Noorlaila (2010) menyatakan bahwa tahap perkembangan kemampuan motorik halus anak usia 5 tahun adalah (1) mewarnai dengan garis – garis (2) menulis nama depan (3) membangun menara setinggi 12 balok (4) memegang pensil dengan benar antara ibu jari dan 2 jari (4) menggambar orang beserta rambut dan hidung, sedangkan perkembangan motorik halus anak usia 6 tahun berdasarkan pendapat Caplan dan Caplan (Ramli, 2005) adalah (1) ketangkasan terbentuk dengan baik (2) mampu membedakan tangan kanan dari tangan kirinya sendiri tetapi tidak dapat membedakan tangan kanan dan kiri orang lain (3) memegang pensil, sikat atau krayon seperti pegangan orang dewasa antara ibu jari dan telunjuk (4) menggambar manusia yang dapat dikenali dari kepala, lengan, kaki dan batang tubuh (5) menggambar rumah yang memiliki pintu, jendela atau atap. Mengatakan apa yang akan digambar sebelum memulainya (6) dapat menyalin lingkaran, silang dan persegi empat (7) dapat menyalin huruf – huruf besar seperti V,T,H,O,X.

Pengembangan motorik halus anak kelompok B (usia 5 – 6 tahun) berdasarkan pendapat Sujiono (2008) adalah seebagai berikut (1) mengurus diri sendiri tanpa bantuan (2) membuat berbagai bentuk menggunakan play dough dan tanah liat (3) meniru membuat garis tegak, miring, datar, lengkung dan lingkaran (4) menggunting menggunakan berbagai media berdasarkan bentuk atau pola (5) memegang pensil dengan benar (antara ibu jari dan 2 jari)

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa perkembangan motorik halus anak dimulai sejak anak berusia 1 tahun dengan melakukan gerakan motorik sederhana sampai pada usia lebih dari 5 tahun anak sudah mampu melakukan gerakan motorik halus yang lebih sempurna dengan melibatkan koordinasi mata, tangan dan sebagian besar anggota tubuhnya.

loading...

Tujuan Pengembangan Motorik Halus

Tujuan pengembangan motorik halus untuk anak Taman Kanak – Kanak (4-6 tahun) adalah dapat menunjukkan kemampuan menggerakkan anggota tubuh dan terutama terjadinya koordinasi mata dan tangan sebagai persiapan untuk menulis. Tujuan pengembangan motorik halus anak berdasarkan pendapat Sumantri (2010) adalah sebagai berikut :

  • Mampu mengembangkan ketrampilan motorik halus yang berhubungan dengan gerak kedua tangan.
  • Mampu menggerakkan anggota tubuh yang berhubungan dengan jari jemari, seperti kesiapan menulis, menggambar, menggunting dan memanipulasi benda – benda .
  • Mampu mengkoordinasikan indra mata dan aktivitas tangan.
  • Mampu mengendalikan emosi dan beraktifitas motorik halus.

Pendapat tersebut juga dikemukaan oleh Sujiono (2008) bahwa tujuan pengembangan motorik halus adalah :

  • Agar anak dapat berlatih menggerakkan pergelangan tangan dengan kegiatan menggambar dan mewarnai.
  • Anak belajar ketepatan koordinasi mata dan tangan serta menggerakkan pergelangan tangan agar lentur.
  • Anak belajar berimajinasi dan berkreasi.

Berdasarkan beberapa pendapat yang telah disampaikan di atas dapat disimpulkan bahwa pemberian stimulasi motorik halus pada anak kelompok usia 5 – 6 tahun dilakukan untuk mematangkan otot – otot kecil pada tangan anak untuk persiapan menulis ketika masuk jenjang selanjutnya. Melalui kegiatan menyenangkan yang dapat mematangkan kemampuan otot – otot kecil anak diharapkan tidak tercipta keterpaksaan sehingga anak dapat berkreasi menggunakan jari jemari tangannya untuk latihan awal dalam kemampuan menulis.

Fungsi Pengembangan Motorik Halus

Sumantri (2010) menyatakan bahwa fungsi mengembangkan motorik halus anak adalah untuk mendukung perkembangan aspek lain yaitu bahasa, kognitif dan sosial emosional karena satu aspek dengan aspek perkembangan lain saling mempengaruhi dan tidak dapat dipisahkan. Hurlock (2002) mengemukakan bahwa fungsi – fungsi pengembangan motorik halus adalah sebagai berikut :  (1) ketrampilan untuk membantu diri sendiri (2) ketrampilan bantu sosial (3) ketrampilan bermain (4) ketrampilan sekolah.

Dirjen Manajemen Pendidikan Sekolah Dasar dan Menengah (2007) mengemukakan tentang fungsi ketrampilan motorik halus yaitu sebagai berikut : (1) melatih kelenturan otot jari tangan (2) memacu pertumbuhan dan perkembangan motorik halus (3) meningkatkan perkembangan emosi anak (4) meningkatkan perkembangan sosial anak (5) menumbuhkan perasaan menyayangi terhadap diri sendiri.

Dari uraian di atas maka dapat diambil kesimpulan bahwa perkembangan motorik dipengaruhi dan mempengaruhi aspek perkembangan lainnya, yaitu bahasa, kognitif, sosial emosional serta ketrampilan untuk diri sendiri dan orang lain. Kemampuan motorik halus dapat dilatih melalui beberapa metode diantaranya finger painting, kolase, menganyam. Dimana dalam hal ini ketiga metode tersebut digabungkan menjadi satu metode pembelajaran dengan tujuan agar kemampuan motorik halus anak meningkat.

Kepustakaan:

Depdiknas. (2007). Pedoman Pembelajaran Fisik/ Motorik Ditaman Kanak-kanak. Jakarta: Depdiknas

Desmita. (2010). Psikologi Perkembangan. Bandung : PT Remaja Rosdakarya

Hurlock, E.B. (2013). Psikologi Perkembangan Anak. Jakarta : Erlangga

Noorlaila, I. (2010). Panduan Lengkap Mengajar PAUD. Jogjakarta: Pinus Book Publisher

Ramli,M. (2005). Pendampingan Perkembangan Anak Usia Dini. Jakarta: Depdiknas Dikjen Pendidikan Tinggi Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan Dan Ketenagaan Perguruan Tinggi

Santrock,J.W. (2007). Life-Span Development: Perkembangan Masa Hidup Jilid II. Jakarta: Erlangga.

Santrock. (2011). Life-Span Development: Perkembangan Masa-Hidup. Edisi 13. Jilid 1. Alih Bahasa: Widyasinta Benedictine. Jakarta: Erlangga.

Sujiono, B (2009). Menu Pembelajaran Anak Usia Dini. Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional

Sumantri. (2010). Model Pengembangan Keterampilan Motorik Anak Usia Dini. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Direktoral Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan Dan Ketenagaan Perguruan Tinggi

Yudha, M.S; Rudyanto. (2005). Pembelajaran Kooperatif Untuk Meningkatkan Ketrampilan Anak TK. Jakarta : Depdiknas Dirjen Dikti Bagian Proyek Peningkatan Tenaga Kependidikan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here