Home Pendidikan Paradigma Inteligensi: Perbandingan antara Timur dan Barat

Paradigma Inteligensi: Perbandingan antara Timur dan Barat

313
0
SHARE
7_inteligensi

Dewasa ini pendidikan di Indonesia dirasa kurang optimal. Langgengnya budaya korupsi serta jumlah pengangguran yang kian bertambah, bisa dikatakan sebagai potret kegagalan pendidikan negara kita. Meski sudah digalangkan kebijakan otonomi dalam bidang pendidikan, nampaknya penyelenggara pendidikan di daerah belum mampu mengembangkan kurikulum sesuai kebutuhan wilayah setempat, hasilnya pun belum kasat mata. Tradisi ketergantungan daerah terhadap pusat agaknya masih mendarah daging dalam kultur pendidikan bangsa ini.

Potret kesuksesan hidup seseorang sering kali dilihat melalui sejauh mana mereka berhasil mengeruk materi (baca: uang). Keberhasilan tersebut acap kali dikaitkan dengan inteligensi seseorang. Para ahli psikologi tidak memiliki kesatuan pandangan mengenai definisi inteligensi. Kata inteligensi biasa dipahami sebagai intelek, akal, atau penalaran. Terdapat pula yang menganggap inteligensi sebagai kemampuan penyesuaian seseorang terhadap lingkungan.

Menurut K. Grofmann, inteligensi adalah kesanggupan berpikir secara konkrit atau abstrak kaitannya dengan bahasa, bilangan, ruang serta waktu dalam mengatasi situasi dan permasalahan yang kompleks dengan bantuan kemampuan khusus (Psikologi dari Zaman Kezaman, 1990).

Kebanyak teori mengasumsikan bahwa inteligensi didasarkan pada proses-proses berpikir, dan berpikir itu sendiri diasumsikan sebagai fungsi dari akal pikiran yang diperkirakan terletak berada di dalam otak. Melalui berbagai penelitian, kemudian hari muncullah konsep inteligensi yang diperkenalkan oleh William Stern, Intelligence Quation (IQ). Melalui berbagai definisi, para psiklog telah melakukan uji coba mengukur tingkat inteligensi seseorang.

Bersama Theodore Simon, Alfert Binet mendefinisikan inteligensi sebagai sisi tunggal dari karakteristik seseorang yang terdiri atas tiga komponen, yaitu (a) kemampuan untuk mengarahkan pikiran atau tindakan, (b) kemampuan untuk mengubah arah tindakan bila tindakan tersebut telah dilaksanakan, dan (c) kemampuan untuk mengeritik diri sendiri atau melakukan autocriticism (Saifuddin Azwar, 2002).

Alfert Binet percaya bahwa untuk menilai tingkat inteligensi, hendaklah diciptakan ukuran proses yang kompleks seperti menalar dan memecahkan persoalan, kesanggupan untuk memikirkan pengalaman masa lalu untuk memecahkan masalah sekarang. Berkat penelitian yang dilakukan Binet dan Simon, lahirlah alat ukur inteligensi yang masyhur dikenal dengan skala Binet-Simon.

Tes-tes inteligensi dibangun untuk mendapatkan nilai rata-rata pada setiap usia sebesar 100. Nilai 30 di atasnya atau di bawahnya, dianggap tinggi atau rendah secara signifikan. Dengan demikian, orang dengan nilai 130 dianggap cerdas, dan orang dengan nilai 70 akan dianggap cacat mental. Nilai itu kemudian disebut skor IQ. Skor digunakan untuk menyeleksi murid-murid mengikuti program “pencarian bakat” dan juga menempatkan mereka yang terbelakang dalam kelas cacat mental. (Lynn Wilcox, 2007)

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, apakah inteligensi seseorang bersifat tetap atau berkembang? Berdasar pada kaidah tes inteligensi, tingkat kecerdasan bergantung pada umur seseorang, dan pada usia tertentu (20 sampai 30 tahun) kecerdasan IQ seseorang berhenti. Kebanyakan alat tes pada umumnya mengguji perbendaharaan kata (vocabulary) dan kemampuan dalam menalar atau kemampuan berpikir rasional. Bagaimana dengan jutaan orang buta aksara di dunia? Akankah kita katakan bahwa mereka sebagai orang yang cacat mental karena tidak memiliki kemampuan untuk mengikuti tes IQ?

***

Masyarakat pada umumnya, mungkin termasuk masyarakat Indonesia, memandang bahwa orang yang memiliki IQ tinggi akan berhasil dalam sekolah serta kehidupan setelahnya. Nyatanya, seseorang yang pintar di sekolah (memiliki nilai rapor dan IPK bagus) belum pasti hidup sukses bermasyarakat. Dengan kata lain, kesuksesan hidup tidak hanya ditentukan oleh nilai rapor dan IPK seseorang. Tidak dapat kita sangsikan, orang-orang yang memiliki IQ tinggi pada biasanya dijadikan figur-figur yang diidolakan banyak orang. Sebagian besar orang lebih mengidolakan BJ Habibie daripada Christian Gonzales, atau Albert Einsten daripada petinju Muhammad Ali. Ini tidak sepenuhnya salah. Setidaknya ini bisa dijadikan bukti bahwa kita kurang mengapresiasi atas beragamnya kecerdasan yang dimiliki setiap orang.

Selama bertahun-tahun dunia akademik, dunia militer, dan dunia kerja menggunakan IQ sebagai alat ukur kecerdasan dalam sistem rekrutmen. Ukuran IQ memiliki kelemahan dalam hal pemberian peluang bagi nuansa-nuansa emosional, seperti emosi, motivasi diri, pengendalian diri, dan kerja sama sosial. IQ menurut psikolog Daniel Goleman, hanya menyumbang sekitar 5-10 % bagi kesuksesan hidup. Sisanya adalah kombinasi beragam faktor yang salah satunya adalah emotional quotion (EQ) (Gramedia, 1996).

Pada paruh akhir abad ke 20, seorang psikolog dan pakar pendidikan Universitas Harvard AS, Prof. Dr Howard Gardner mencoba menguraikan kecerdasan IQ secara lebih holistik. Setelah melakukan berbagai riset, Gardner mencetuskan teori Multiple Intelligence (MI, kecerdasan majemuk) yang menunjukkan bahwa setiap anak memiliki seperangkat kecerdasan yang terdiri dari beberapa inteligensi, dan masing-masing memiliki kecerdasan alamiah tersendiri.

Gardner mengajukan bahwa manusia memiliki beragam bentuk intelegensi yang saling jalin berkelindan. Linguistik, matematika, spasial, kinetis, musik, antarpribadi, interpribadi merupakan tujuh kecerdasan yang dimiliki manusia namun terdapat kadar berbeda-beda pada setiap orang. Gardner hanya memaparkan ragam kecerdasan pada seseorang, tetapi tidak menjelaskan bagaimana seseorang mampu mengenali kemampuannya.

Baca juga
Pengaruh Kepemimpinan Terhadap Kinerja Karyawan
Mengenal Konsep Penyesuaian Diri

***

Jususf Sutanto, pakar filsafat Timur berpendapat; Pintar, menurut konsep Barat bisa diukur dan dinilai, Intelligence quotient (IQ) dibedakan dengan emotional quotient (EQ) yang keduanya berkaitan dengan bagian otak kiri dan otak kanan (The Dance Of Change, 2009). Pada umumnya, orang-orang mendefinisikan pintar sebagai kata sifat yang berarti sesuatu yang melekat pada seseorang sesuai kodratnya,  bukan sebagai kata kerja yang memerlukan usaha untuk mencapainya (baca: menjadi pintar).

Menurut pandangan Timur, pintar adalah two in one, merupakan proses terus menerus dalam mendengar, melihat, dan menyimpan ke dalam hati. Dalam aksara mandarin, kata “Pikiran / Si Xiang” digambar sebagai gabungan antara “sawah” dan “hati”. Kata sawah merupakan perpaduan antara kata matahari dan rembulan, sedangkan kata hati merupakan gabungan antara kuping, mata, dan mulut. Itu berarti berpikir bukan aktivitas yang murni menggunakan logika saja, tapi suatu interaksi atau perpaduan dengan hati.

Dalam sebuah perkuliahan, saya sempat bertanya kepada beliau (Jusuf Sutanto);

“Apakah belajar hanya cukup dengan membaca segudang buku di perpustakaan saja, dan setelah kita menghabiskan semua buku itu, apa berarti kita sudah pintar?”

loading...
Huruf Mandarin sixiang

Beliau tidak langsung menjawab. Berdiam sejenak dan tersenyum simpul, “Kata sawah yang tersusun atas matahari dan rembulan, menunjukkan aktivitas yang dilakukan secara terus menerus sepanjang siang dan malam, hingga kita berkalang tanah.” Tidak berhenti di situ, beliau kembali menjelaskan makna filosofis di balik aksara  Mandarin.

“Kata ‘kecil’ dalam aksara mandarin, menyimbolkan manusia dalam kondisi belum berkembang, semuanya masih kuncup. Kedua kakinya masih berimpit dan tangannya belum mekar. Ketika kedua kakinya telah membentang yang menunjukkan kebebasan, berarti telah dewasa. Jika kita mau belajar serta membina diri maka kita menjadi orang besar dan, jika kita mau terus belajar serta membina diri kita akan menjadi orang lebih besar. Jika setelah membaca segudang buku, kemudian kita berhenti dan tidak mau belajar lagi, maka nilai kita merosot menjadi anjing.”

Ketika kita mau terus-menerus belajar, maka kita akan menjadi manusia  yang sigap menghadapi situasi apa pun.

***

Tradisi kearifan Timur, khususnya konfusianisme,  mengajarkan bagaimana kita menjadi manusia yang sebenarnya sepanjang hidup. Melalui sebuah kemantapan berkomitmen, berkesinambungan dan melalui pendekatan holistik dalam membentuk diri (Tu Wei-Ming, 2005). Tradisi kearifan timur tidak memandang diri sebagai satu kepribadian yang tersendiri, tapi sesuatu yang jalin-berkelindan satu sama lain. Adanya interaksi antarmanusia memberi kontribusi pada perkembangan dan membentuk keseluruhan diri secara terus-menerus. Proses ini menciptakan karakter dengan pola pikir terbuka yang sepenuhnya memiliki arti berhubungan dengan jaringan interaksi manusia yang lebih luas.

Menurut konfusianisme, terdapat lima kitab yang jalin-berkelindan dalam membentuk manusia menjadi manusia seutuhnya. Pertama, The book of poetry (sajak), dalam arti seni dan musik. Sejatinya manusia terlibat dalam sebuah konteks budaya yang lebih luas. Ketika berinteraksi dengan alam sekitar, semacam terdapat getaran dalam dirinya, dalam ajaran Konfusianisme getaran tersebut terdapat dalam Buku Puisi (Book of Poetry). Untuk memahami puisi diperlukan pemahaman mendalam tentang bagaimana perasaan itu muncul. Karena, kemampuan manusia dalam merespons alam sekitar sangat mempengaruhi pengembangan diri manusia.

Kebanyakan dari kita, khususnya para orangtua, memahami betapa sulitnya mengajarkan perilaku baik kepada anak-anak kita—bagaimana berjalan, duduk, menggunakan tangan, dan bertingkah laku dengan baik. Latihan semacam itu disebut dengan ritualisasi raga yang termaktub dalam the Book of Rites (Kitab Ritual atau Bahasa Badan). Dalam hal ini, ritual bukanlah bingkai isyarat kosong tanpa makna, yang diterapkan pada anak-anak agar berada dalam kontrol dogmatis dalam berperilaku. Juga bukan sebagai ritual kaku yang mengajarkan perilaku yang benar dalam bentuk tertentu saja. Ritual adalah berbagi (share), dimaknai sebagai sebuah sistem atau tata cara yang saling dimengerti oleh masyarakat dalam berkomunikasi baik verbal maupun nonverbal. (Tu Wei-Ming, 2005)

Proses ketiga adalah the Book of History (Kitab Sejarah). Sejarah merupakan memori kolektif, pengetahuan tentang asal-muasal keberadaan kita. Melalui sejarah—baik pendek maupun panjang—kita dapat mengetahui kehidupan masa lalu, dimana kita merupakan bagian dari masa lalu yang hadir saat ini. Sejarah mewariskan budaya masa lalu yang kemudian kita lanjutkan saat ini. Selain terkait dengan sejarah, kita juga terkait dengan masyarakat yang terdapat dalam  The book of Document (Kitab Dokumen), berisi tentang keterlibatan kita dalam kehidupan sosial dan politik. Sebagai makhluk politik, kita harus turut berpartisipasi secara responsif dan bertanggungjawab dalam perpolitikan bermasyarakat.

Terkahir, the book 0f Changes (Kitab Perubahan) atau biasa disebut dengan Yi Jing ( I Ching). Manusia mempunyai dimensi seni, memerlukan ritual, berkaitan dengan masa lalu, berinteraksi dengan masyarakat dalam “here (di sini) and now (sekarang)”, dan merupakan bagian dari alam semesta yang lebih luas (Jusuf Sutanto, 2009).

Untuk menjalani lima kitab kehidupan di atas, diperlukan sebuah metode yang tepat agar kita tidak tersesat dalam megarungi kehidupan yang serba sebentar ini. Metode pembelajaran yang digunakan dalam tradisi Timur adalah andragogi, berasal dari andros dalam bahasa Yunani yang berarti orang dewasa. Berbeda dengan metode pedagogi yang memandang murid sebagai anak-anak yang tidak tahu apa-apa dan sangat bergantung kepada guru. Kelemahan dari metode pedagogi akan terlihat jelas ketika seorang siswa atau anak telah terjun ke dalam dunia masyarakat. Tanpa adanya guru yang selalu mendikte, mereka akan terlihat gamang dalam menghadapi realitas kehidupan.

Metode andragogi berpusat pada belajar melalui permasalahan yang mempunyai relevansi langsung dengan kehidupan pribadi (termasuk belajar dari kesalahan) dan, karena itu sering juga disebut metode Problem Base Learning (Jusuf Sutanto, 2009). Melalui metode andragogi yang berhubungan langsung dengan pengalaman pribadi, maka seseorang akan mengalami pendewasaan secara gradual dan tumbuh kembang menjadi sosok yang tangguh.

Daftar pustaka:

Azwar, Saifuddin. Pengantar Psikologi Inteligensi. Edisi I, Cetakan III.Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2002

Said, Muhamad dan Junimar Affan. Psikologi dari Zaman ke Zaman; Berfokuskan Psikologi Pedagogis. Jemmars: Bandung. 1990

Mubayidh, Makmun. Kecerdasan dan Kesehatan Emosional Anak: Referensi Penting bagi Para Pendidik dan Orangtua. Pustaka al-Kautsar: Jakarta. 2006

Pasioak, Taufiq. Revolusi IQ/EQ/SQ: Antara Neurosains dan al-Qur’an. Mizan: Bandung. 2003

Wilcox, Lynn. Psychosufi: Terapi Psikologi Sufistik Pemberdayaan Diri. Pustaka Cendekiamuda: Jakarta. 2007

Wei-Ming, Tu. Etika Konfusianisme. Teraju:Jakarta. 2005.

www.jusufsutanto.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here