Home Kesehatan Anemia Saat Kehamilan: Proses Terjadinya, Pengaruh, Pencegahan, dan Penanggulangannya

Anemia Saat Kehamilan: Proses Terjadinya, Pengaruh, Pencegahan, dan Penanggulangannya

359
0
SHARE
anemia_kehamilan

Anemia saat hamil merupakan salah satu hal yang harus dihindari, karena hal tersebut dapat berpengaruh terhadap kesehatan ibu dan janin. Anemia saat hamil sering dikaitkan dengan peningkatan resiko kelahiran prematur serta bayi lahir memiliki bobot yang rendah.

Berdasrkan kadar hemoglobin wanita hamil, Wiknjosastro (2005:448) mengklasifikasikan anemia menjadi 4 kategori, yaitu:

  • Anemia Fisiologi, kadar Hb antara 10-11 gr%
  • Anemia ringan, kadar Hb antara 9-10 gr%
  • Anemia sedang, kadar Hb antara 7-8 gr%
  • Anemia berat, kadar Hb kurang dari 7 gr%

Sementara pembagian anemia dalam kehamilan dibagi menjadi empat jenis:

1. Anemia defisiensi besi

Anemia dalam kehamilan yang paling sering dijumpai ialah anemia kekurangan besi. Kekurangan ini dapat disebabkan karena kurang masuknya unsur besi dengan makanan, karena gangguan resorpsi, gangguan penggunaan, atau karena terlampau banyaknya besi keuar dari badan, misalnya pada perdarahan (Wiknjosastro, 2005 : 451)

2. Anemia megaloblastik

Anemia megaloblastik dalam kehamilan disebabkan karena defisiensi asam folik, jarang sekali karena defisiensi vitamin B12. Berbeda dengan Eropa dan Amerika Serikat, di Asia anemia karena megaoblasik masih tinggi, seperti di India, Malaysia, dan Indonesia. Hal ini berhubungan dengan defisiensi makanan (Wiknjosastro, 2005 : 453).

3. Anemia hipolastik

Anemia hipolastik merupakan Anemia pada wanita hamil yang disebabkan karena sumsum tulang kurang mampu membuat sel-sel darah baru, dinamakan anemia hipoplastik dalam kehamilan. Etiologi anemia hipoplastik karena kehamilan hingga kini belum diketahui dengan pasti, kecuali yang disebabkan oleh sepsis, sinar roentgen, racun, atau obat-obat (Wiknjosastro, 2005 : 456)

4. Anemia hipolitik

Anemia hipolitik disebabkan karena penghancuran se darah merah berlangsung lebih cepat daripada pembuatannya. Wanita dengan anemia hemolitik sukar menjadi hamil, apabila hamil anemianya bisa menjadi lebih berat. Sebaliknya mungkin bahwa kehamilan menyebabkan krisis hemolitik pada wanita yang yang sebelumnya tidak menderita anemia ( Wiknjosastro, 2005 : 456)

Proses terjadinya (Patofisiologi) anemia kehamilan

Darah bertambah banyak pada kehamilan, yang lazim disebut Hidremia atau Hiperfolemia. Akan tetapi bertambahnya sel-sel darah tidak sebanding dengan bertambahnya plasma, sehingga terjadi pengenceran darah. Pertambahan tersebut berbanding sebagai berikut : plasma 30%, sel darah merah 18% dan hemoglobin 19%. Bertambahnya darah dalam kehamilan sudah mulai sejak kehamilan umur 10 minggu dan mencapai puncaknya dalam kehamilan antara 32 dan 36 minggu (Manuaba, 2001).

Pengenceran darah dianggap penyesuaian diri secara fisiologi dalam kehamilan dan bermanfaat bagi wanita (Winkjosastro, 2005). Pertama, pengenceran tersebut meringankan beban jantung yang harus bekerja lebih berat dalam masa hamil, karena sebagai akibat hidremia cardiac output meningkat. Kerja jantung lebih ringan apabila viskositas darah rendah. Resistensi perifer berkurang pula, sehingga tekanan darah tidak naik. Kedua, pada perdarahan waktu persalinan, banyaknya unsur besi yang hilang lebih sedikit dibandingkan dengan apabila darah itu tetap kental.

Manuaba (2001) menyebutkan bahwa selama kehamilan dibutuhkan zat besi sekitar 800-1000 mg untuk mencukupi kebutuhan yang terdiri dari :

  • Terjadinya peningkatan sel darah merah membutuhkan 300-400 mg zat besi
  • Janin membutuhkan zat besi 100-200 mg
  • Pertumbuhan plasenta membutuhkan zat besi 100-200 mg
  • Sekitar 100mg hilang selama kehamilan.

Pengaruh anemia dalam kehamilan, persalinan dan nifas

Anemia dalam kehamilan dapat memberikan pengaruh buruk terhadap ibu hamil maupun janin yang dikandungnya baik masa kehamilan, persalinan, dan nifas yang lalu (Manuaba, 1998 : 31-32)

  • Pengaruh anemia dalam kehamilan
  1. Dapat terjadi abortus
  2. Persalinan premature
  3. Hambatan pada tumbuh kmbang janin
  4. Mudah terjadi infeksi
  5. Ancaman decompensasi Cordis (Hb dibawah 6 gram %)
  6. Molahidatidosa
  7. Hiperemesis gravidarum
  8. Perdarahan antepartum
  9. Ketuban pecah dini
  • Pengaruh anemia dalam perslinan
  1. Gangguan his kekuatan mengejan
  2. Kala I dan II lama sehingga dapat mellahkan dan sering memerlukan tindakan oprasi
  3. Kala urin dapat disertai retensio plasenta
  • Pengaruh anemia pada nifas
  1. Terjadi sub involusi uteri menimbulkan perdarahan post partum
  2. Menimbulkan infeksi
  3. Produksi ASI berkurang
  4. Terjadi dekompensasi mendadak setelah persalinan
  5. Anemia kala nifas mudah terjadi infeksi

Baca juga:

Mengenal Penyakit Anemia
Kelainan Jadwal Menopause

 Faktor-faktor ibu hamil yang mempengaruhi anemia

1. Faktor internal

Faktor internal yang mempengaruhi anemia pada ibu hamil meliputi pendidikan, umur, status gizi, pola konsumsi makanan, paritas, dan pemeriksaan kehamilan.

Pendidikan

Pendidikan dalam arti formal adalah suatu proses penyampaian bahan atau materi pendidikan kepada sasaran pendidikan (anak didik) guna mencapai perubahan tingkah laku (tujuan).

Pendidikan merupkan hal yang sangat penting, karena pendidikan mempengaruhi pola pikir seseorang tentang sesuatu hal yang nantinyaakan berpengaruh dalam pengambilan suatu keputusan tertentu. Semakin tinggi tingkat pendidikan semakin besar pengetahuan dan semakin mudah mengembangkan pengetahuan dan teknologi yang berdampak pada peningkatan kesejahteraan seseorang. Pengetahuan dipengaruhi pendidikan dan pendidikan dipengaruhi oleh banyak hal, salah satunya adalah sumber informasi dan media informasi, baik media cetak, elektronik, maupun human media yaitu bidan (Notoatmodjo, 2003:4)

Menurut kosasih (1994), tingkat pendidikan ada 3 yaitu:

1. Pendidikan dasar: pendidikan selama 9 tahun yaitu 6 tahun SD dan 3 tahun SMP

2. Pendidikan menengah: pendidikan selama 3 tahun yaitu SMA, kejuruan, kedinasan, keagamaan dan sekolah luar biasa.

3. Pendidikan tinggi: merupakan pendidikan tingkat sarjana. Ibu hamil yang mempunyai tingkat pendidikan dan pengetahuan yang kurang akan menyebabkan ibu hamil menderita anemia dan tidak merasakan bahwa anemia kehamilan membutuhkan perhatian khusus. Salah satu yang dapat memberikan pengetahuan adalah bidan sebagai tenaga kesehatan yang bersentuhan langsung dengan ibu hamil.

Umur

loading...

Dalam kurun reproduksi sehat dikenal bahwa usia aman untuk kehamilan dan persalinan adalah 20-30 tahun. Kematian maternal pada wanita hamil dan melahirkan pada usia dibawah 20 tahun ternyata 2-5 kali lebih tinggi dari pada kematian maternal yang terjadi pada usia 20-29 tahun kematian meningkat kembali sesudahusia 30-35 tahun (Prawiroharjdjo, 2005 : 23. Pada usia kurang dari 20 tahun kebutuhan besi meningkat ditunjang dengan keadaan hamil yang lebih membutuhkan zat gizi terutama zat besi maka kemungkinan menderita anemia kehamilan cukup tinggi. Demikian pula dengan usia kehamilan diatas 35 tahun.

Status gizi

Kehamilan merupakan masa yang sangat penting, karena pada masa ini kualitas seorang akan ditentukan. Pemeliharaan kehamilan dimulai dari perencanaan menu yang benar. Masukan gizi pada ibu hamil sangat menentukan kesehatannya dan janin yang dikandungnya. Kebutuhan gizi pada masa kehamilan berbeda dengan masa sebelum hamil, peningkatan kebutuhan gizi menurut huliana (2001) sebesar 15 %, karena dibutuhkan untuk pertumbuhan rahim, payudara, volume darah, plasenta, air ketuban dan pertumbuhan janin.

Makanan dikonsumsi ibu hamil dipergunakan untuk pertumbuhan janin sebesar 40%, sedangkan yang 60% untuk memenuhi kebutuhan ibu. Apabila masukan gizi pada ibu hamil tidak sesuai kebutuhan maka kemungkinan akan terjadi gangguan dalam kehamilan salah satunya adalah anemia (Erna, Dkk.2004 : 53)

Pola konsumsi makanan

Zat besi adalah salah satu unsur penting dalam proses pembentukan sel darah merah. Zat besi secara alamiah diperoleh dari makanan, selain dari jumlah komposisi gizi yang dibutuhkan, cara mengkonsumsi makanan tertentu akan menghambat atau menurunkan penyerapan zat besi seperti cara mengkonsumsi tablet besi yang bersamaan dengan teh atau kopi (Erna, dkk. 2004:113)

Paritas

Anemia lebih banyak ditemukan pada kelompok paritas 5 atau tinggi, daripada kelompok paritas 0 dan paritas 1-4 (djaja er.al, 1986). Faktor determinan yang mempengaruhi kematian maternal antara lain : jarak kehamilan, status gizi dan paritas dikarenakan kondisi ibu yang belum matang untuk untuk hamil lagi. Karena hal ini akan memberikan predisposisi untuk terjadinya perdarahan, plasenta previa, solusio plasenta, ruptur uteri.

Pemeriksaan kehamilan (frekuensi ANC)

Kunjungan ibu hamil untuk memeriksakan kehamilannya sangat berpengaruh terhadap kejadian anemia, sebagaimana tujuan ANC (prawirohardjo, 2005 : 13) :

a. Memantau kemajuan kehamilan dan memastikan kesehatan ibu dan bayi

b. Meningkatkan dan mempertahankan kesehatan fisik, mental dan sosial

c. Mengenali secara dini adanya ketidaknormalan atau komplikasi yang mungkin terjadi selama hamil, termasuk riwayat penyakit secara umum, kebidanan dan pembedahan.

d. Mempersiapkan persalinan cukup bulan, melahirkan dengan selamat ibu maupun bayinya dengan trauma seminimal mungkin.

e. Mempersiapkan ibu agar masa nifas berjalan dengan normal dan pemberian ASI eklusif.

f. Mempersiapkan peran ibu dan keluarga dalam menerima kelahiran bayi agar dapat tumbuh dan berkembang secara normal.

Pemeriksaan antenatal sebaiknya dilakukan paling sedikit 4 kali selama kehamilan yaitu 1 kali pada trimester I, satu kali pada trimester II, dan 2 kali pada trimester II. Dengan mendapatkan pelayanan minimal 7T: timbang berat badan, ukur tekanan darah, tinggi fundus uteri, pemberian imunisasi tetanus toxoid, pemberian tablet besi minimal 90 tablet selama hamil, tes terhadap penyakit menular seksul, temu wicara dalam rangka rujukan (Depkes,1997 : 4-5).

Tujuan ANC diatas diharapkan dapat tercapai. Kunjungan ibu hamil yag sesuai standart akan memberikan kemudahan kepada tenaga kesehatan (dokter dan bidan ) untuk mendeteksi kelainan-kelainan yang timbul setiap saat termasuk kejadian anemia. Saat kunjungan pemeriksaan kehamilan dapat dilakukan deteksi dini anemia dan pemberian tablet besi.

2. Faktor eksternal

Sarana kesehatan

Sarana kesehatan sangat menunjang terhadap peningkatan kesehatan khususnya kesehatan pada saat kehamilan. Sarana kesehatan dapat berupa alat dan obat. Pencegahan anemia dapat dilakuka dengan pemeriksaan Hb yang dilakukan 2 kali yaitu pada kehamilan trimester I dan III dan pemberian tablet besi. Jika kedua sarana tersebut tidak ada, maka anemia tidak dapat dicegah dan terdeteksi, sehingga ibu hamil dapat menderita anemia (manuaba, 1998:32)

Pelayanan kesehatan

Faktor pelayanan kesehatan mempunyai peran sangat besar dalam kematian maternal. Salah satu faktor pelayanan kesehatan adalah kurangnya tenaga terlatih dan pencegahan dan penanggulangan anemia sehingga dapat mengakibatkan terjadinya anemia (prawirohardjo, 2005: 24)

Sosial ekonomi

Faktor sosial ekonomi memainkan peranan yang penting. Tingkat kemiskinan penyebab anemia berat. Karena kesukaran yang ditimbulkan oleh gizi buruk, kekurangan air, tabu terhadap makanan, produksi dan cadangan makanan yang tidak cukupdan tidak adanya sistem jaminan sosial yang efektif, secara bersamaan menurunkan kesehatan (Roysto, 1989:84)

Sosial budaya

Kemiskinan, ketidaktauhan, kebodohan dan rendahnya status wanita merupakan beberapa faktor sosial budaya yang berperan pada tingginya angka kematian maternal. Transportasi yang sulit ketidakmampuan membayar pelayanan yang baik, pantangan makanan tertentupada wanita hamil merupakan faktor-faktor yang ikut berberan. Salah satunya adlah faktor sosial budaya yang ikut berperan adalah pantangan makanan tertentu pada wanita hamil dapat mengakibatkan kekurangan gizi (malnutrisi) dan kurangnya zat besi dalam makanan yang dikonsumsi, maka akan mengakibatkan ibu hamil menderita anemia (Prawirohardjo, 2005:25)

Pencegahan dan penanggulangan anemia

Untuk menghindari terjadinya anemia sebaiknya ibu hamil melakukan pemeriksaan sebelum hamil sehngga dapat diketahui data-data dasar kesehatan umum calon ibu tersebut. Dalam pemeriksaan kesehatan disertai pemeriksaan laboratorium, termasuk pemeriksaan tinja sehingga diketahui adanya infeksi parasit (manuaba, 1998 : 32)

Didaerah-daerah dengan frekuensi kehamilan yang tinggi sebaiknya setiap wanita hamil diberi sulfat ferrosus atau glukonas ferrosus, cukup 1 tablet sehari. Wanita dinasehatkan pula untuk makan lebih banyak protein dan sayur-sayuran mengandung banyak mineral serta vitamin (prawirohardjo, 2005 : 453)

Apabila pada pemeriksaan Hb < 10 gram% maka wanita hamil dapat dianggap menderita anemia defisiensi besi. Pengobatan dimulai dengan preparat besi peroral. Biasanya diberikan garam besi sebanyak 600-1000 mlmg sehari, seperti sulfat ferrosus atau glukonat ferrosus. Hb dapat dinaikkan sampai 10gr/100ml atau lebih, asa masih cukup untuk sampai janin lahir. Pengobatan parenteral diberikan apabila penderita tidak tahan akan zat besi peroral, ada gangguan penyerapan, penyakit saluran pencernaan atau kehamilan sudah tua (prawirohardjo, 2005 : 452-453)

Kepustakaan:

Winkjosastro, Hanafi. 2005. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.

Prawirohardjo. 2002. Ilmu Kebidanan. Jakarta. Bina Pustaka.

Manuaba, Ida Bagus Gede.(1998).ilmu kebidanan dan penyakit kandungan dan keluarga berencana untuk pendidikn bidan.jakarta:EGC.

Depkes RI, (1997) Buku Kesehatan Ibu dan Anak, Kemenkes RI, Jakarta.

Erna, F., dkk (2004). Gizi Dalam Kesehatan Reproduksi. Jakrata: EGC

Notoatmodjo, S. 2003. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here