Home Agama Reinterpretasi Pandangan Agama Terhadap Krisis Ekologi

Reinterpretasi Pandangan Agama Terhadap Krisis Ekologi

309
0
SHARE
Ekologi_agama

Dewasa ini dunia sedang dilanda krisis global, bumi tempat berpijaknya kehidupan, termasuk di dalamnya manusia, tak lagi bersahabat. Jalur perubahan iklim yang sedari dulu dijadikan acuan untuk bercocok tanam, kini tak jelas kapan datang dan perginya. Krisis ekologi merupakan gejala alam disebabkan oleh perilaku manusia yang mengeksploitasi alam secara tidak bertanggungjawab. Hal tersebut tidak bisa tidak kita kaitkan dengan agama—sebagai pandangan dunia integral—sebagai faktor terjadinya krisis ekologi. Diskursus ini dimulai ketika Lynn White menuduh ajaran Yudeo-Kristiani sebagai penyumbang terjadinya krisis lingkungan. Tulisan ini, hendak memaparkan bagaimana hubungan manusia dengan alam dalam pandangan agama-agama. Dan melakukan pembuktian tuduhan White dengan pertanyaan; apa benar faktor utama dalam krisis ekologi dewasa ini adalah agama an sich?.”

Pada 1960-an, Lynn White, Jr. dalam artikelnya yang dipublikasikan pada Science Magazine, mengundang perdebatan hingga kini, yaitu The Historical Roots of Our Ecological Crisis, bahwa krisis ekologis yang ada merupakan dampak dari eksploisitas sains dan teknologi berakar pada pandangan antroposentris tradisi Yudeo-Kristiani.[1] Di dalam artikel tersebut, White yang merupakan sejarawan abad pertengahan, menuduh bahwa Kekistrenan adalah penyumbang utama dalam krisis lingkungan. Dalam tesisnya, White menegaskan bahwa ajaran Yudeo-Kristiani memandatkan kepada manusia untuk mendominasi alam secara instrumental, bukan yang bersifat penghormatan terhadap  alam.

Sejak itu, para pemikir muncul sebagai respon atas tulisan White, baik itu Pro maupun Kontra. Walaupun demikian, setidaknya White telah memulai diskursus antara Agama dengan Ekologi, di samping itu kritik White terhadap tradisi Yudeo-Kristiani membuat para teolog kembali menengok doktrin teologi mereka. Tulisan yang sedang anda pegang ini, hendak mengulas bagaimana relasi antara manusia dengan alam dalam padangan agama-agama dunia.

Alam Menurut Agama Abrahamik

Dalam tradisi Yudaisme-Kristiani maupun Islam, melihat manusia sebagai pelindung atau penjaga alam.[2] Relasi antara manusia dan alam adalah salah satu kajian yang bersifat pereniallis atau abadi. Artinya kajian yang selalu ada pada setiap zamannya, yaitu sebuah paradigma yang memandang adanya nilai-nilai sakral pada alam. Termasuk juga manusia di dalamnya. Alam tidak dipandang sebagai sebuah benda mati yang dieksploitasi an sich. Alam merupakan sebuah entitas yang hidup dan memiliki nilai-nilai sakral yang dibebankan kepada manusia untuk menjaganya.

Semua agama—besar, kecil, kuno, atau pun modern—mempercayai adanya dimensi sakral dibalik entitas alam.[3] Dalam pandangan modernisme, manusia menganggap alam raya sebagai entitas yang tidak lagi memiliki nilai-nilai kesakralan. Mereka menganggap alam sebagai benda mati yang bisa seenaknya saja untuk dieksploitasi. Di samping itu, sebagian besar tradisi agama-agama juga memiliki ajaran yang menolak konsumsi secara berlebihan dan mengkritik sikap rakus dan tidak adanya keinginan untuk berbagi terhadap sesama.

1. Yudaisme

Seperti yang tadi kita sebut di atas, Tradisi Yahudi sangat dikritik keras atas pandangan antroposentrisnya terhadap alam. Kitab Kejadian pasal 1 ayat 28, seringkali dijadikan landasan dalam melakukan kritik terhadap doktrin Yudaisme. Ayat tersebut dilihat sangat antroposentris oleh para pakar. Ayat tersebut sebagai berikut,

“Allah memberkati mereka (Adam dan Hawa); lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranak-cuculah dan bertambah banyak, dan penuhilah Bumi, dan taklukkanlah (kabbasy)itu; dan berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.”

Pandangan antroposentrik ayat ini-lah yang digunakan untuk mengkritik dan menunjukan sikap tradisi Yudeo-Kristiani mengenai alam. Bahkan, dalam pandangan Lynn White, Jr., krisis ekologis pada dasarnya berakar pada visi antroposentris Yudeo-Kristiani (White, Jr., 1964). Bagi kalangan Yahudi, pembacaan ayat ini sangat tidak lengkap dan tidak kontekstual. Tidak lengkap dimaksud ialah ayat berikutnya (pasal 29) tidak diperhatikan, “Dan Allah bersabda; “Lihatlah Aku memberikan kepadamu segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji di seluruh bumi dan segala pohon-pohonan yang buahnya berbiji, itulah yang akan menjadi makananmu.” Ayat ini menandakan pembatasan sikap manusia mengenai relasinya terhadap alam. Manusia dianjurkan, atau bisa juga dibaca sebagai dibatasi, untuk hidup secara vegetarian.

Dan perlu diingat bahwa fenomena krisis ekologi tersebut sangat khas modern. Padahal pesan Perjanjian Lama tidak hanya dibatasi zaman pramodern atau modern melulu. Dengan demikian, pembatasan yang dilansir pada pasal 29 tersebut tidak harus dimaknai sebagai pola vegetarian, melainkan bahwa manusia dalam “menaklukkan” (kabbasy) bumi memiliki batasan. Sehingga, hal ini bukanlah suatu dominasi (dominion) melainkan pengurusan (stewardship). Mengutip J. Barr, Martin Harun memaknai kabbasy bumi dalam konteks Kejadian 1 tidak dapat dimengerti menurut maknanya yang keras (menginjaki), tetapi diartikan sebagai “mengerjakan” bumi atau “mengolah” tanah (tilling), sejajar dengan “mengusahakan dan memelihara” taman dalam Kejadian 2: 15.[4] Mengikuti pengertian seperti ini, menaklukkan pada Kitab Kejadian I dipahami sebagai kepengurusan. Hal ini didukung pula oleh Mazmur 24, “TUHAN-lah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia yang serta di dalamnya.” Karena bumi adalah milik Tuhan, maka sikap manusia terhadap alam adalah kepengurusan. Dari sini kita menemukan kehadiran Yang Sakral terhadap Alam.

Di dalam kitab Torah tertera; “Pada mulanya Tuhan menciptakan langit dan bumi.” Dari prespektif tradisi Yahudi, dunia itu bukanlah sebuah kecelakaan kosmik yang bersifat kebetulan, melainkan sebuah ciptaan Tuhan yang bertujuan. Titik awal dari tradisi Yudaisme bukanlah segala sesuatu itu bisa dilakukan, melainkan segala sesuatu adalah Kudus (Sakral).[5]

2. Kristen

Dalam sebuah pidato yang diucapkannya di depan para Akademi Ilmu Pengetahuan Kepausan pada 1994, Paus Yohanes Paulus II menyatakan; “Dalam misterinya, manusia jauh melampaui gabungan dari sifat-sifat biologisnya. Manusia merupakan unit fundamental, dimana dimensi biologis tidak dapat dipisahkan dari dimensi spiritual, keluarga dan sosial. Dan jika dipisah-pisahkan, muncul resiko serius akan hilangnya ciri kepribadian manusia dan membuatnya menjadi sekadar objek analisis”[6] Pernyataan Paus Yohanes Paulus II dua di atas, secara eksplisit telah jelas menyatakan bahwa dalam doktrin agama Kristen terdapat dimensi Sakral antara hubungan manusia dengan alam.

Namun menurut Jay McDaniel pendekatan Kristen Barat terhadap alam sangatlah ambigu. Mc Daniel mengutip The Travail of Nature: The Ambigunous Ecological Promise of Christian Theology karya H. Paul Santmire untuk menunjukkan ambiguitas tersebut, yakni 1) motif “ruhani”, di mana tujuan eksistensi manusia dianggap terletak entah di dalam transendensi terhadap alam ataupun, dalam masa modern, humanisasi alam; dan 2) motif “ekologis”, di mana tujuan dianggap terletak di dalam persekutuan dengan alam, menghargai rahmat alam dan menyadari bahwa alam mempunyai nilai terpisah dari kegunaannya bagi manusia.[7]

Motif pertama menempatkan alam sebagai suatu yang dihormati, akan tetapi secara ruhaniah segala sesuatu selain manusia adalah untuk mewujudkan kepentingan ruhaniah manusia. Motif pertama ini meskipun alam dihargai akan tetapi tetap dilihat sebagai pelayan untuk kesempurnaan ruhaniah manusia. Sedangkan motif kedua melihat bahwa semua benda, alam, manusia memiliki keutuhan, nilai dan peranan sendiri dalam sejarah akbar dari tatanan ciptaan.

Meskipun kedua motif ini bersebrangan atau ambigu, paling tidak memiliki titik temu bahwa alam tidak sekadar suatu entitas yang dijadikan dominasi semata. Peranan ruhaniah di sini menjadi kata kunci untuk membaca tradisi Kristiani. Dimaksudkan dimaksudkan peranan ruhaniah di sini ialah bahwa seluruh entitas harus diarahkan menuju Sang Bapak. Seperti adagium mistisime Kristiani tekankan bahwa “Tuhan menjadi manusia agar manusia menjadi Tuhan.” Hal ini bisa diartikan terdapat batasan dalam relasi manusia akan alam. Batasan itu ialah bagaimana agar kesempurnaan spiritual terwujud. Dan alam memiliki peranan dalam mewujudkan kesempurnaan spiritual tersebut. Jadi, ambiguitas tersebut tetap berakar pada upaya penyempurnaan spiritualitas.

3. Islam

Tidak hanya dua agama Ibrahimi saja yang bisa disalah tafsirkan secara antroposentrisme. Islam termasuk salahsatu di antaranya. Salahsatu ayat yang bisa dikritisi mengandung nilai antroposentrisme adalah Surah Al-Baqarah [2]: 30:

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

Di dalam ayat tersebut, Allah hendak menempatkan manusia sebagai khalifah di muka bumi. Menariknya terdapat dialog Tuhan dengan malaikat soal penempatan manusia sebagai khalifah di bumi. Malaikat mengatakan mengapa Tuhan menciptakan manusia yang akan membuat kerusakan dan pertumpahan darah dibumi itu.

Yang perlu diingat adalah jika Islam hanya berkutat pada tataran forma belaka, maka jantung dari Islam itu yakni tasawuf akan terabaikan begitu saja. Padahal pandangan tasawuf inilah yang dapat menjelaskan pengertian khalifah secara baik. Dalam tradisi tasawuf manusia adalah lokus manifestasi diri-Nya. Karena Tuhan tidak terbatas, maka manifestasinya pun tidak terbatas. Sebagaimana manusia, alam pun merupakan manifestasi Tuhan. Hal ini menunjukkan bahwa alam memiliki dimensi spirit atau ruh. Dengan demikian, perlakuan manusia terhadap alam memiliki kesetaraan; sama-sama lokus manifestasi Yang Sakral.

Manusia adalah makhluk yang paling sempurna, ia mampu menggapai kesadaran tertinggi yakni dimana manusia sebagai perpanjangan tangan Tuhan atau khalifah atau insan kamil atau Manusia Sempurna. Yaitu ketika manusia telah mencapai kesadaran yang sempurna dalam Kesakralan yang ada pada dirinya. Manusia melingkupi dan dilingkupi alam. Maksudnya manusia sebagai mikrokosmos dan juga bagian dari makrokosmos.

Terpuruknya Alam

Ketidaksadaran manusia akan kewajibannya atas alam, adalah salah satu penyebab terpuruknya alam. Di samping itu, agama yang seringkali ditafsirkan secara antroposentris, juga memberikan sumbangsih dalam eksploitasi alam oleh manusia.

1. Minimnya Kesadaran Ekologis

Ekologi ditafsirkan sebagai kesatuan ruang dengan segala benda, daya, keadaan dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain. Salah satu komponen terpenting dari lingkungan hidup dan menjadi prasyarat kelangsungan kehidupan dan kesejahteraan manusia adalah alam. Alam menjamin pemenuhan kebutuhan sekaligus menjadi ruang hidup manusia.

Beberapa dekade ini, kondisi alam telah sangat menghawatirkan. Ketahanan Bumi yang merupakan satu-satunya tempat berlangsungnya kehidupan, semakin rapuh.  Fenomena yang kerap kali muncul dan menimpa kelangsungan kehidupan; seperti banjir, tanah longsor, kebakaran hutan dan polusi udara tidak terelakkan lagi, hal tersebut merupakan dampak dari ketidak seimbangan hubungan alam dengan manusia.

Dalam realitasnya sikap dan interaksi manusia dengan lingkungan lebih cenderung mengarah pada eksploitasi. Manusia, dengan logika penakluknya lebih memilih menaklukkan alam dengan mebabi buta, sehingga kurangnya interaksi yang baik ini, mengakibatkan bertambah burukya alam.

loading...

Tak ayal, keserakahan manusia terhadap alam jika dibiarkan akan menimbulkan dampak yang serius pada eksistensi kehidupan umat manusia. Bumi—yang tidak lain adalah tempat manusia tinggal—akan membusuk dan manusia akan ter-cover oleh busuknya bumi. Seharusnya, bumi yang merupakan tempat berlangsungnya kehidupan, memiliki oksigen yang cukup untuk mengcaver segala kehidupan. Namun kenyataannya oksigen yang berlimpah ruah itu, kini telah menjadi barang mewah dibeberapa negara maju. Udara bersih menjadi langka karena polusi udara yang ditimbulkan oleh asap kendaraan, kepulan cerobong asap pabrik, kebakaran hutan. Ikan laut yang biasa dihasilkan para nelayan, mengambang akibat tercemarnya air laut oleh gas kimia dan limbah yang mencebur ke laut. Melihat bukti nyata di sekitar kita, bagaimana alam akan ramah kepada kita, sedang kita sendiri tidak ramah kepadanya?

2. Krisis Spiritualitas

Penggunaan alat teknologi yang super canggih ternyata belum bisa meredam krisis lingkungan yang ada, agama yang begitu menentramkan juga “belum” tentu menjawab akan krisis lingkunagan sekarang ini. Lalu apa yang sebenarnya terjadi pada manusia sekarang ini? Menurut Hossein Nasr adalah krisis spiritualitas. Orang modern baik mereka yang beragama atau tidak, ternyata saat ini mamahami manusia sebagai sesuatu yang terpisah dari makhluk lain, akibatnya tidak ada penghargaan terhadap makhluk lain. Jika manusia meyadari adanya keberadaan yang sama yaitu alam semesta seperti halnya manusia pasti kita tidak akan melakukan hal yang seperti ini. Keserakahan manusia modern untuk mejadi yang paling diakui di dunia juga menaruh peran besar terjadinya kerusakan alam semesta.[8]

Pemahaman keagamaan belum cukup untuk mengentas krisis alam. Pengetahuan mengenai kesatuan antara manusia dengan makhluk lain, atau kesaling-terikatan antara alam, manusia dengan Tuhan, adalah pengetahuan integral yang memiliki kesadaran mengenai yang sakral pada alam. Mohsen Miri, Dr. Dalam bidang filsfat Islam, mengatakan filsafat Mulla Sadra adalah yang paling pas untuk menerangkan keterkaitan manusia, alam, dan Tuhan, jika kita mencintai Tuhan maka mestilah kita mencintai alam, dan sebaliknya. Jika ini dipahamai benar oleh manusia beragama, tidak ada alasan apapun untuk mendzolimi makhluk lain, bagaimana pun makhluk lain mempunyai hak yang sama untuk hidup di alam ini.[9]

Manusia modern yang memiliki karakter antroposentrik, memandang alam sebagai sebuah benda mati yang seenak hati bisa dieksploitasi. Menurut Muray Bookchin, terjadinya kerusakan alam ini disebabkan adanya praktek penindasan manusia oleh manusia, seperti problem structural social yang didasarkan atas relasi kuasa dan dominasi, juga perlu kita perhatikan dalam memahami persoalan krisis ekologis ini, yakni pemikiran sentral ekologi sosial adalah bahwa dominasi manusia atas alam berakar dari dominasi manusia yang satu terhadap manusia lainnya.[10]

Oleh karena itu yang harus kita lakukan adalah merekonstruksi cara hidup manusia akan keragaman nilai-nilai keontetikan dan keragaman bio-regional. Jadi bukan karena alsan etnosentrik dan ekosentrik tapi memang karena faktor sosial global seperti, ketidakadilan, kapitalisme, dan dominasi kelas sosial.

Penutup

Dalam menyikapi realitas kerusakan alam ini, agama sebagai pemberi pesan damai, baik kepada manusia maupun kepada alam, sudah semestinya turut memberi solusi dan kontribusi yang signifikan bagi kelestarian lingkungan alam. Melihat alam dari perspektif agama akan memungkinkan bagi kita untuk menyelesaikan permasalahan sumber-sumber alam dari akar yang sebenarnya, yakni dari sudut pandang kesadaran manusia. Kesadaran manusia akan realitas yang Sakral. Sikap dan persepsi manusia sangat menentukan cara berhubungan dengan alam. Objek yang hidup, seperti alam atau dunia, tidak akan ada atau berubah kecuali dalam persepsi di subyek.

Setiap agama, memiliki model yang beragam di dalam hubungan mereka dengan alam, mulai dari negasi-dunia sampai dengan afirmasi-dunia. Bagi agama, alam dan manusia adalah lokus kehadiran Yang Sakral. Dengan demikian, manusia dan alam dalam pandangan agama merupakan suatu hal setara; yaitu sama-sama merupakan lokus Yang Sakral.

Kita tidak bisa selamanya berburuk sangka terhadap agama atas krisis ekologi. Perlulah kita menyinggung bahwa isu lingkungan tidak bisa dilepaskan dari persoalan industrialisasi, peradaban, politik, sosial, ekonomi, saintisme, teknologi, dan komodifikasi pelbagai hal. Hal-hal tersebut yang menyebabkan krisis ekologis, di mana pola relasi manusia dengan alam dan manusia dengan manusia bersifat dominatif dan eksploitatif.[]

Kepustakaan

Audrey R. Chapman, dkk. Bumi Yang Terdesak: Perspektif Ilmu dan Agama Mengenai Konsumsi, populasi, dan Keberlanjutan. Bandung: Mizan. 2007

Heriyanto, Husain. Paradigma Holistik: Dialog Filsafat, Sains, dan Kehidupan menurut Shadra dan Whitehead. Jakarta: Teraju. 2003

L. Pals, Daniel. Seven theories of Religion. Qalam: Yogyakarta. 2001

Mangunjaya, Fachrudin, Husain Heriyanto, dan Reza Gholami (ed.). Menanam sebelum Kiamat: Islam, Ekologi, dan Gerakan Lingkungan Hidup. Jakarta: Buku Obor & ICAS Jakarta. 2007.

Mujiyono Abdillah. Agama Ramah Lingkungan. Jakarta: Paramadina. 2001.

Nasr, Seyyed Hossein. Religion and the Order of Nature. New York: Oxford University Press. 1996

Tucker, Mary Evelyn & John A. Grim (ed.). Agama, Filsafat, dan Lingkungan Hidup. Yogyakarta: Kanisius. 2003

White, Jr., Lynn. “The Historical Roots of Our Ecological Crisis.” dalam Science Magazine, 1964.

[1] Lihat Lynn White, Jr. “The Historical Roots of Our Ecological Crisis.” Science Magazine, 1964.

[2] Bandingkan. Audrey R. Chapman. Ulasan tentang Perspektif Religius. Enteri dalam Bumi yang Terdesak. Hlm 159

[3] Ngabdulloh Akrom. Agama dan Magi; Studi Komparasi Antrpologi antara Tylor dengan Fraze. Makalah religious Studies. ICAS Jakarta 2009. Untuk lebih detilnya, silahkan rujuk karya E. B. Tylor, Primitive Culture. Dan Man and Nature, karya Syyed Hossein Nasr.

[4] Martin Harun. “Taklukkanlah Bumi dan Berkuasalah…” dalam kata pengnatar untuk buku Mujiyono Abdillah. 2001. Agama Ramah Lingkunagan. Jakarta: Paramadina.

[5] Michal Fox Smart. Landasan Etika Yahudi dalam Konsumsi.dalam Audrey R. Chapman, dkk. Bumi Yang Terdesak. Bandung: Mizan.2007. hlm. 186

[6] David M. Byers. Prespektif Katolik atas Konsumsi, Kependudukan, dan Lingkungan. dalam Audrey R. Chapman, dkk. Bumi Yang Terdesak. Bandung: Mizan.2007. hlm. 178

[7] Jay McDaniel. “Taman Eden, Dosa Asal, dan Hidup dalam Kristus: Pendekatan Kristen terhadap Ekologi”. dalam Mary Evelyn Tucker & John A. Grim (ed.). 2003. Agama, Filsafat, & Lingkungan Hidup. terj. dari Worldviews and Ecology: Religion, Philosophy, and the Environment [1994] oleh P. Hardono Hadi. Yogyakarta: Kanisius. hal. 83.

[8] Untuk bacaan lebih lanjut, silahkan rujuk artikel Nasr, Masalah Lingkungan di Dunia Islam Kontemporer, dalam Menamanam Sebelum Kiamat; Islam, Ekologi, dan Gerakan Lingkungan Hidup.hlm. 43-65

[9] Mohsein Miri, Prinsip-Prinsip Islam dan Fulsafat Mulla Shadra sebagai Basis Etis dan Kosmologis Lingkungan Hidup.dalam Menanam Sebelum Kiamat; Islam, Ekologi, dan Gerakan Lingkungan Hidup. Hlm. 26

[10] Untuk mengeksplor lebih jauh pemikiran Bookchinian silakan lihat Graham Baugh, “The Politics of Social Ecology”.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here