Home Kesehatan Pengertian, Etiologi, Patofisiologi, Manifestasi Klinik Diabetes Melitus

Pengertian, Etiologi, Patofisiologi, Manifestasi Klinik Diabetes Melitus

1707
0
SHARE
diabetes_melitus

Perkembangan masyarakat dimasa kini menyebabkan perubahan gaya hidup  masyarakat Indonesia bahkan di dunia. Perubahan gaya hidup seperti pola makan, kurangnya aktivitas fisik dan perilaku tidak sehat berkontribusi besar menyebabkan timbulnya berbagai macam penyakit. Salah satu penyakit tersebut diantarannya adalah Diabetes Mellitus (DM).

Diabetes Mellitus atau yang lebih dikenal sebagai kencing manis merupakan suatu kelainan pada seseorang yang ditandai dengan naiknya kadar glukosa dalam darah dikarenakan akibat dari kekurangan insulin dalam tubuh (Padila, 2012). Insulin adalah hormon yang dihasilkan oleh sel beta di pulau langerhans yang berfungsi untuk mengubah glukosa dalam darah menjadi glikogen yang kemudian akan disimpan di dalam hati (Wijaya & Putri, 2013).

Faktor resiko yang berubah secara epidemiologi diperkirakan adalah: bertambahnya usia, lebih banyak dan lebih lamanya obesitas, distribusi lemak tubuh, kurangnya aktivitas jasmani, dan hiperinsulinemia. Semua faktor ini berinteraksi dengan beberapa faktor genetik yang berhubungan dengan terjadinya DM Tipe II (Reno Gustaviani, 2008). Diabetes Mellitus merupakan penyakit degeneratif yang memerlukan kontrol secara berkesinambungan. Menurut Perkeni pada tahun 2011 terdapat empat pilar penatalaksanaan DM antara lain edukasi, terapi gizi medis, latihan jasmani, dan intervensi farmakologis.

Pengertian Diabetes Melitus

Diabetes Mellitus atau yang lebih dikenal sebagai kencing manis adalah suatu kelainan pada seseorang yang ditandai dengan naiknya kadar glukosa dalam darah dikarenakan akibat dari kekurangan insulin dalam tubuh. Insulin adalah hormon yang berfungsi untuk mengubah glukosa dalam darah menjadi glikogen yang kemudian disimpan di dalam hati (Padila, 2012). Dalam American Diabetes Association (ADA, 2010) Diabetes Mellitus adalah suatu kelompok penyakit metabolik yang memiliki karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena gangguan sekresi insulin, kerja insulin, atau kedua-duanya. Diabetes Mellitus adalah gangguan metabolisme yang secara genetik dan klinis termasuk heterogen. Diabetes Mellitus ditandai dengan hilangnya toleransi tubuh terhadap glukosa (Nanda, 2012).

Dari beberapa pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa Diabetes Mellitus adalah gangguan metabolisme tubuh yang ditandai dengan kenaikan kadar glukosa dalam darah dikarenakan akibat dari kekurangan insulin dalam tubuh. Insulin adalah hormon yang berfungsi mengubah glukosa menjadi glikogen yang selanjutnya akan disimpan di hati.

Menurut Wijaya dan Putri (2013), terdapat beberapa tipe Diabetes Mellitus, diantaranya adalah:

  1. Diabetes tipe 1 (IDDM / Insulin Dependent Diabetes Mellitus), merupakan tipe Diabetes yang tergantung insulin.
  2. Diabetes tipe II (NIDDM / Non Insulin Dependent Diabetes Mellitus), merupakan tipe Diabetes yang tidak tergantung insulin.
  3. Diabetes karena malnutrisi.
  4. Diabetes gestasional.

Baca juga:

Kenali Tanda, Gejala, Penularan, dan Penanggulangan HIV AIDS

Tantangan Kinerja Perawat Di Era Globalisasi

 

Etiologi Diabetes Melitus

Diabetes Mellitus secara umum disebabkan oleh defisiensi insulin akibat adanya kerusakan pada sel beta pankreas dan gangguan hormonal (Mansjoer dkk, 2005). DM tipe 2 atau Non Insulin Dependent Diabetes Mellitus (NIDDM) disebabkan oleh gangguan resistensi insulin dan sekresi insulin. Resistensi insulin terjadi karena reseptor yang berikatan dengan insulin tidak sensitif sehingga mengakibatkan menurunnya kemampuan insulin dalam merangsang pengambilan glukosa dan menghambat produksi glukosa oleh sel hati. Gangguan sekresi insulin terjadi karena sel beta pankreas tidak mampu mensekresikan insulin sesuai dengan kebutuhan (PERKENI, 2011; Smeltzer & Bare, 2001).

Patofisiologi Diabetes Melitus

Pankreas adalah sebuah kelenjar yang letaknya dibelakang lambung. Dalam pankreas terdapat kumpulan sel yang disebut pulau-pulau langerhans yang berisi sel beta. Sel beta mengeluarkan hormon insulin untuk mengatur kadar glukosa darah. Selain itu juga terdapat sel alfa yang memproduksi glukagon yang bekerja sebaliknya dengan insulin yaitu meningkatkan kadar glukosa darah dan terdapat juga sel delta yang memproduksi somastostatin (Pearce, 2002).

Pada jenis Diabetes Mellitus tipe I, terdapat ketidakmampuan untuk menghasilkan insulin karena sel-sel beta pankreas telah dihancurkan oleh proses autoimun. Hiperglikemia puasa terjadi akibat produksi glukosa yang tidak terukur oleh hati. Di samping itu, glukosa yang berasal dari makanan tidak dapat disimpan dalam hati meskipun tetap berada dalam darah dan menimbulkan hiperglikemia post prandial (sesudah makan). Jika konsentrasi glukosa dalam darah cukup tinggi, ginjal tidak dapat menyerap kembali semua glukosa yang tersaring keluar dan berakibat glukosa tersebut muncul dalam urin (glukosuria).

Ketika glukosa yang berlebihan diekskresikan ke urin, ekskresi ini akan disertai pengeluaran cairan dan elektrolit yang berlebihan pula. Keadaan ini dinamakan diuresis osmotik. Sebagai akibat dari kehilangan cairan yang berlebihan, pasien akan mengalami peningkatan dalam berkemih (poliuria) dan rasa haus (polidipsia). Defisiensi insulin juga mengganggu metabolisme protein dan lemak yang menyebabkan penurunan berat badan. Pasien dapat mengalami peningkatan selera makan (Polifagia), akibat menurunnya simpanan kalori, gejalalainnya mencakup kelelahan dan kelemahan (Suzanne C. Smeltzer and Bare, 2002).

Pada jenis Diabetes tipe II, terdapat dua masalah utama yaitu yang berhubungan dengan insulin, yaitu : resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin. Normalnya insulin akan terikat dengan reseptor khusus pada permukaan sel sebagai akibat terikatnya insulin dengan reseptor tersebut, terjadi sel resistensi insulin pada diabetes tipe II disertai dengan penurunan reaksi intra sel ini. Dengan demikian insulin menjadi tidak efektif untuk menstimulasi pengambilan glukosa oleh jaringan.

Untuk mengatasi resistensi insulin dan mencegah terbentuknya glukosa dalam darah, harus terdapat peningkatan jumlah insulin yang disekresikan pada penderita toleransi glukosa terganggu, keadaan ini terjadi akibat sekresi insulin yang berlebihan, dan kadar glukosa akan dipertahankan pada tingkat yang normal atau sedikit meningkat. Namun demikian bila sel sel beta tidak mampu untuk mengimbangi peningkatan kebutuhan akan insulin, maka kadar glukosa akan meningkat dan terjadi Diabetes tipe II (Suzanne C. Smeltzer and Bare, 2002).

Manifestasi Klinik Diabetes Melitus

Menurut Wijaya dan Putri (2013), adanya penyakit diabetes mellitus pada awalnya sering kali tidak dirasakan dan tidak disadari oleh penderita, beberapa keluhan dan gejala yang perlu mendapat perhatian adalah :

loading...

1. Keluhan klasik

  • Banyak kencing (poliuria)

Jika insulin (insulin adalah hormon yang mengendalikan gula darah) tidak ada atau sedikit maka ginjal tidak dapat menyaring glukosa untuk kembali ke dalam darah. Kemudian hal ini akan menyebabkan ginjal menarik tambahan air dari darah untuk menghancurkan glukosa. Hal ini membuat kandung kemih cepat penuh dan hal ini otomatis akan membuat para penderita DM akan sering kencing buang air kecil.

  • Banyak minum (polidypsia)

Keinginan untuk sering minum karena adanya rasa haus banyak terjadi pada pasien dengan Diabetes melitus ini. Karena memang adanya juga gangguan hormon serta juga efek dari banyak kencing diatas, maka penderita akan sering merasakan haus dan ingin untuk sering minum.

  • Banyak makan (polifagia)

Terhambatnya makanan yang harusnya didistribusikan ke semua sel tubuh untuk membuat energi jadi tidak berjalan dengan optimal. Karena sel tidak mendapat asupan sehingga orang dengan kencing manis akan merasa cepat lapar.

  • Penurunan berat badan dan rasa lemah

Hal ini salah satu penyebabnya adalah terhambatnya makanan yang harusnya didistribusikan ke semua sel tubuh untuk membuat energi tidak berjalan dengan optimal. Karena sel tidak mendapat asupan untuk metabolisme energi sehingga orang dengan kencing manis akan merasa cepat lelah. Pada penderita Diabetes Mellitus tipe 2 (faktor perubahan gaya hidup), penurunan berat badan terjadi secara bertahap dengan peningkatan resistensi insulin sehingga tidak begitu terlihat.

2. Keluhan lain

  • Ganguan saraf tepi / kesemutan.
  • Gangguan pengelihatan.
  • Gatal / bisul.
  • Gangguan ereksi.
  • Kulit Kering dan bila terjadi luka akan lama proses penyembuhannya.

Kepustakaan:

American Diabetes Association. 2010. Position statement: Standards of Medical Care in Diabetes. Diabetes Care (33).

Mansjoer, A., dkk. 2005. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta: Media Aesculapius.

Padila. 2012. Buku Ajar Keperawatan Medical Bedah. Yogyakarta: Nohamedika.

PD-PERSI. (2015). RI Rangking Keempat Jumlah Penderita Diabetes Terbanyak Dunia,(https://pd-persi.co.id/ RI Rangking Keempat Jumlah Penderita Diabetes Terbanyak Dunia.html/) diakses tanggal 02 Juni 2015

Pearce, E. C. 2002. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Smeltzer, S. C., & Bare, B. G. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah Brunner dan Suddarth Volume 2, Edisi 8. Terjemahan oleh Agung Waluyo, dkk. Jakarta: EGC.

Smeltzer, Suzanne C, Brenda G bare. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth Edisi 8 Vol 2 alih bahasa H. Y. Kuncara, Andry Hartono, Monica Ester, Yasmin asih, Jakarta: EGC

TIM. 2012. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Nanda Nic–Noc. Jakarta: EGC

Wijaya, Andra dan Putri. 2013. Keperawatan Medical Bedah 2. Jakarta: EGC

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here