Home Agama Pentingnya Puasa dalam Perspektif Berbagai Agama

Pentingnya Puasa dalam Perspektif Berbagai Agama

375
0
SHARE
diskusi-puasa-lintas-agama
Ilustrasi (Sumber: antarafoto.com)

Seperti binatang, manusia mesti makan dan minum. Seperti binatang, manusia juga merasakan lapar dan haus. Dalam hal lapar dan haus atau makan dan minum, kita memang tak jauh berbeda dengan binatang. Mungkin kita akan membedakan pada jenis makanan atau minuman apa yang dipilih. Tapi satu hal untuk persoalan tidak makan, apakah benar hanya manusia yang melakukannya?  Kita mungkin mafhum bagaimana ulat ketika bermetamorfosis menjadi kupu-kupu. Tapi kita mungkin lupa, sebelum ulat menjadi kupu-kupu, dalam kepompong sesungguhnya ia tengah menjalani laku tidak makan dan minum. Belum lagi dengan riwayat burung elang sebelum menentukan untuk melanjutkan umur panjangnya. Ia mencabut bulu-bulu, kemudian mematukkan paruh dan menghancurkan cakarnya. Semua dilakukan pada ketinggian tertentu sambil berpuasa. Di sini kita menemukan bahwa tidak makan dan tidak minum (upawasa, istilah sansekerta) ternyata bagian dari cara hidup makhluk di muka bumi ini.

Ketika Sidharta bermeditasi di bawah pohon Bodhi, ia berpuasa. Ia hanya makan satu butir nasi setiap harinya. Ketika ia menyadari tubuhnya tinggal tulang dibalut kulit, ia bertanya pada dirinya, “Lalu apa gunanya pencerahan kalau tubuhku tak lagi mampu menjelaskan pada setiap yang membutuhkan? (Jusuf Sutanto, 2009)

Sebagai laku hidup, puasa dapat kita temukan pada setiap tradisi dan agama, baik dalam agama abrahamik ataupun yang lain. Dalam ajaran Budha kita bisa menemukan dalam kisah meditasi Sidharta. Kisah tersebut sekaligus menegaskan bahwa tidak ada dominasi antara tubuh dengan jiwa, begitu juga sebaliknya. Semua mesti berlangsung seimbang. Secara kodrati tubuh membutuhkan makan dan minum, tapi tidak bagi jiwa. Jiwa justru menolak hal-hal yang sifatnya material. Laku yang dijalani Sidharta menunjukkan betapa penting kiranya kita menyadari keharmonisasian antara tubuh, pikiran dan jiwa yang senantiasa terkontrol.

Dalam Hindu, manusia dipandang sebagai makhluk yang tersusun atas berbagai lapisan. Setidaknya terdapat dua kutub lapisan—sekala (temporer) dan niskala (abadi)—yang saling dihubungkan oleh lapisan-lapisan lain. Ketika manusia hanya mengikuti nafsu-nafsu duniawi, maka ia terperosok pada kesengsaraan. Untuk mencapai alam abadi, seseorang harus menjalani tapa brata, satu istilah puasa dalam tradisi Hindu. Dalam  kitab Weda menekankan bahwa dengan menjalankan puasa, menjadikan manusia mencapai penyucian dan pencerahan. “Atapta-tanur na tad amo asnute”, Sesungguhnya, seseorang tidak bisa menyadari Sang Hyang Widhi Wasa, Yang Maha Agung tanpa melaksanakan tapa (Rg Weda, IX. 83.1).

Dalam hal ini, puasa menjadi upaya pemurnian tubuh dan pikiran atas unsur-unsur duniawi yang temporer, demi mendekatkan diri kepada yang Abadi. Makanya, dengan berpuasa, menjadikan seseorang semakin kuat kepekaannya terhadap kebaikan-kebaikan alam.

Demikian halnya dalam ajaran Kristen. Puasa tidak bertujuan membuat kita membenci tubuh, atau hal-hal yang sifatnya material, akan tetapi menjaga keseimbangan antara akal budi dengan tubuh. Hal itu dikondisikan agar Allah memancarkan diri-Nya ke dalam hati manusia, maka tumbuhlah rasa cinta kepada Sang Khaliq, juga kepada alam semesta yang di dalamnya terdapat manusia. Sebagaimana pendapat Gus Dur, sesungguhnya tidak ada satu pun agama yang mengajarkan umatnya untuk berbuat dzalim terhadap diri ataupun sesama, jika ada itu pasti salah dan tinggalkan saja.

Puasa tidak sekadar relasi vertikal antara manusia dengan Allah saja, melainkan juga hubungan terhadap sesama. Ketika seseorang melaksanakan puasa, selain menahan haus dan lapar, ia harus mengontrol emosi dan nafsu yang sifatnya duniawi demi lahirnya hati suci. Maka, lahirlah manusia sebagai perpanjangan tangan Ilahi penyampai rahmat bagi alam.

loading...

Setiap agama memiliki konsep puasa yang berbeda-beda, di dalam keragaman konsep tersebut terdapat benang merah yang terdapat celah adanya dialog antar agama. Melalui fenomena keserupaan nilai-nilai esoteris puasa pada setiap agama, seharusnya mampu menumbuhkan tingkat kedewasaan religiositas seseorang. Tanpa mengurangi iman kita kepada Allah Yang Maha Esa, dan rasa salah-menyalahkan antar agama, karena semua agama memiliki esensi yang sama di balik puasa. Setiap agama memandang bahwa melalui puasa yang benar, terbentuklah sebuah hubungan proporsional antara jiwa dengan tubuh sehingga lahir manusia berbudi-pekerti luhur. Maka, tak salah kiranya jika kita katakan puasa merupakan jalan pembebasan jiwa untuk meraih kebahagiaan hakiki.

Baca juga:
Pandangan Anomali dalam Beragama
Konsep Mentoring KeIslaman

Islam mewajibkan umatnya untuk berpuasa selama satu bulan penuh ketika bulan Ramadhan. Sebagai syarat mutlak kesempurnaan Islam, sejak matahari terbit hingga terbenam, setiap muslim menahan untuk tidak makan dan minum serta mengendalikan hawa nafsu. “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (Al-Baqarah: 183)

Allah menegaskan posisi penting puasa bagi keimanan seseorang dengan halus, Dia menjelaskan dalam ayat selanjutnya, jika seorang Muslim sedang berhalangan untuk berpuasa—karena sakit keras sehingga tidak mampu berpuasa atau sedang dalam perjalanan jauh—maka wajib baginya mengganti dikemudian hari. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya eksistensi puasa dalam ajaran Islam, bagi seorang Muslim yang tidak mempunyai kekuatan untuk menjalankan puasa sekalipun tetap diwajibkan membayar fidzah, yaitu memberi makan bagi orang miskin dengan ukuran tertentu.

Ibadah puasa merupakan sebuah ritual yang sifatnya intim antara makhluk dengan Sang Khaliq. Karena hanya si pelaku dan Allah saja yang mengetahuinya. Karena begitu intimnya ibadah puasa, dibanding ibadah lain yang hanya dicatat malaikat, dalam sebuah hadis Qudsi Allah berfirman: “Puasa adalah untuk-Ku dan Akulah yang akan membalasnya.” Tidak lain, tujuan dari puasa adalah totalitas penghambaan terhadap Tuhan.

Selain sebagai sebuah kewajiban, puasa merupakan ibadah istimewa. Berbeda dengan empat syarat keislaman seseorang yang membutuhkan sebuah gerakan jasmaniah tertentu. Ketika seseorang bertauhid, ia harus memiliki keteguhan hati, mengucapnya dengan lisan, dan membuktikan dalam tindakan. Begitu juga dengan shalat yang membutuhkan gerakan-gerakan tertentu. Zakat yang mengharuskan tangan bergerak hingga sampai kepada golongan yang berhak menerimanya. Begitu halnya ritual haji yang meniscayakan adanya gerakan-gerakan khusus. Dalam puasa, hampir tidak kita temukan adanya gerakan. Bulan puasa merupakan wahana untuk menggodok jiwa manusia sehingga menjadi jiwa indah. Puasa adalah sebuah pembebasan diri yang selalu ada pada setiap tradisi dan agama, bahkan semesta pun pada masa tertentu berpuasa[].

Korpusdata.com mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa Ramadhan 1439 H. Semoga Melalui puasa kita bisa bertransformasi menjadi pribadi yang lebih baik.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here