Home Agama Definisi dan Tujuan Keassalaaman

Definisi dan Tujuan Keassalaaman

173
0
SHARE
Ilustrasi: Santriwati berfoto di depan gedung Assalaam (summber: pontren.com)

Ummat Islam Indonesia pasca reformasi dihadapkan kepada tiga dinamika pemikiran Islam yang dominan. Ketiga dinamika pemikiran tersebut adalah lahirnya Islam Liberal, Islam Radikal, dan pemikiran keagamaan yang sesat. Islam liberal memiliki haluan pemikiran yang bebas dan lebih mengedepankan akal dalam mernahami agama. Sebaliknya, pemikiran Islam radikal memegangi teks secara apa adanya dan meminimalkan tafsir yang didasarkan kepada akal dalam memahami agama. Kelompok yang ketiga dianggap sebagai kelompok sesat karena mereka mengangkat nabi baru, seperti Ahmadiyah, Nabi Palsu Musaddiq dan sebagainya.

Pada titik ekstrim gerakan radikal, muncul beberapa gerakan Islam yang memilih garis kekerasan dalam menyebarkan Islam. Pemikiran-pemikiran seperti ini yang melahirkan gerakan terorisme dan gerakan Negara Islam Indonesia. Gerakan Islam yang tergabung dalam gerakan teroris dan NII telah menimbulkan polemik di tengah-tengah umat Islam. Majelis Ulama Indonesia sebagai lembaga perhimpunan ulama secara tegas mengeluarkan fatwa bahwa gerakan-gerakan bernuasa teror dan gerakan NII merupakan gerakan yang sesat.

Terlepas dari fatwa tersebut, pada kenyataannya berbagai pemikiran yang berkembang secara langsung, atau tidak langsung berusaha untuk mempengaruhi berbagai lembaga Islam termasuk PPMI Assalaam. Munculnya fenomena tidak mau menghormat bendera, pemakaian cadar, dan menempatkan Indonesia sebagai negara kafir bertentangan dengan jiwa keassalaaman. PPMI Assalaam didirikan dengan nama Assalaam memiliki cita-cita untuk dapat bergaul dengan semua lapisan masyarakat tanpa tersekat oleh ideologi kelompok dan aliran Berta memiliki hubungan yang damai dengan negara. Oleh karena itulah, penegasan kembali nilai-nilai keassalaaman memiliki nilai strategis untuk mendefinisikan posisi dan corak pemahaman keagamaan PPMI Assalaam di tengah-tengah berbagai aliran keagamaan yang muncul dewasa ini.

Baca juga:
Konsep Mentoring KeIslaman
Pandangan Anomali dalam Beragama

Definisi Keassalaaman

Para pendiri PPMI Assalaam telah menegaskan sejak awal seperangkat nilai yang diyakini sebagai jalur perjuangan PPMI Assalaam. seperangkat nilai tersebut diberi nama KEASSALAAMAN. Dengan demikiran, keassalaaman dapat didefinisikan sebagai seperangkat nilai yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah yang ditetapkan menjadi sumber nilai, perilaku, dan tata organisasi di lingkungan Yayasan Majelis Pengajian Islam Surakarta beserta amal usahanya.

Bersumber dari Al-Qur’an dan As-sunnah berarti semua putusan dipertimbangkan berdasarkan nash-nash yang ada dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Persoalan-persoalan yang secara qat’i tidak dijelaskan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah tetap akan menjadikan pesan-pesan substantif dari kedua sumber tersebut sebagai bahan pengambilan keputusan. Menjadi sumber nilai, perilaku, dan tata organisasi maksudnya bahwa keputusan-keputusan yang dikeluarkan oleh lembaga selalu mendukung dan selaras dengan pesan-pesan Al-Qur’an dan As-Sunnah serta visi dan misi organisasi.

Definisi di atas menegaskan bahwa keassalaaman merupakan sumber nilai atau nilai dasar yang menjiwai semua sistem nilai yang ada di PPMI Assalaam. Sebagai nilai dasar, keassalaaman memuat nilai-nilai induk dan harus diterjemahkan dalam sistem perilaku yang sifatnya teknis aplikatif.

loading...

Tujuan Keassalaaman

Nilai-nilai keassalaaman disusun dalam rangka untuk mengemban Tujuan tertentu. Adapun tujuan dirumuskannya nilai-nilai keassalaaman adalah sebagai berikut:

1. Menyatukan pemahaman dalam bermuamalah di lingkungan amal usaha Yayasan MPI Surakarta;

2. Menjadi pedoman dalarn menyusun kebijakan teknis bermuamalah di lingkungan amal usaha Yayasan MPI Surakarta;

3. Menjadi regulasi dan alas ukur kemaslahatan bermuamalah di lingkungan amal usaha Yayasan MPI Surakarta.

Definisi dan tujuan di atas menegaskan bahwa nilai-nilai keassalaaman harus menjadi pedoman semua kebijakan lembaga. Nilai strategic ini pula yang mendorong adanya sosialisasi yang sistematis, terstruktur, dan massif terhadap semua keluarga besar PPMI Assalaam dari unsur santri, wali santri, pegawai, dan keluarga pegawai. Terhadap para santri dapat dilakukan dengan media khutbah ta’aruf dan mata pelajaran di kelas. Untuk para wali santri dapat dilakukan melalui silaturrahmi wali santri di awal tahun dan atau pada saat kunjungan ke daerah serta melalui pola terstruktur dalam lembaga MPP Assalaam. Bagi pegawai dapat dilakukan melalui pendidikan kilat (Diktat) nilai-nilai keassalaaman. Kelulusan dalam diktat dijadikan prasyarat kenaikan status kepegawaian. Sosialisasi keassalaaman dilakukan juga melalui halaqah dan pengajian-pengajian rutin pegawai. Pelanggaran terhadap nilai-nilai keassalaaman dikenakan sanksi organisatoris sesuai dengan pedoman kepegawaian.

(Berbagai sumber)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here