Home Agama Sejarah dan Khittah PPMI Assalaam

Sejarah dan Khittah PPMI Assalaam

253
0
SHARE
Ilustrasi: Santriwati berfoto di depan gedung Assalaam (summber: pontren.com)

Sejarah Berdiri PPMI Assalaam

Pondok Pesantren Modern Islam (PPMI) Assalaam merupakan karya besar yang lahir dari kegiatan pengajian keluarga. Bermula dari kecintaan H. Abdullah Marzuki dan istri, Hj. Siti Aminah, terhadap kegiatan pengajian keislaman Bapak H. Abdullah Marzuki di sela-sela kesibukan mengelola bisnis penerbitan Tiga Serangkai (TS), beliau mengajak semua keluarga, termasuk keluarga pegawai TS, untuk mengikuti kegiatan-kegiatan pengajian demi meningkatkan kualitas Ilmu, iman, Islam, dan amal saleh.

Di lihat dari latar belakang keluarga, sejak awal keluarga H. Abdullah Marzuki memiliki komitmen yang tinggi terhadap dunia pendidikan, khususnya pendidikan Islam. Sebelum terjun ke dunia penerbitan dan percetakan, beliau dan istri sudah menjalankan profesi sebagai guru (mu’allim). Jiwa mendidik ini menggelora dan mendarah daging dalam urat nadi keluarga beliau sehingga di mana pun beliau berada selalu peduli terhadap pendidikan.

Kepedulian beliau terhadap pendidikan ditunjukkan dalam bentuk kritik yang konstruktif terhadap konsep pendidikan nasional dan pendidikan pesantren. Kritik beliau terhadap pendidikan nasional adalah terlalu minininya porsi pelajaran agama yang diterima anak didik di sekolah formal. Padahal, aspek agama sangat penting dalam membentuk mental dan kepribadian anak bangsa. Oleh karena itu, alternatif untuk memperkuat pengetahuan, pemahaman, dan amalan keislaman, tidak bisa tidak, melalui majelis ta’lim dan atau lembaga formal yang memberi porsi pelajaran agama yang lebih.

Terhadap pesantren, beliau yang pernah mengenyam pendidikan di Ponpes Bleber Pacitan mengajukan kritik bahwa dunia pesantren yang memfokuskan diri dalam penyelenggaraan pendidikan Islam kurang berhasil mencitrakan diri sebagai lembaga Islam yang seharusnya bersih, rapi, dan terpadu dalam keilmuan. Pengalaman di Pondok Bleber Pacitan menjadi modal bagi beliau untuk mengungkapkan keprihatinan terhadap pendidikan Islam di pesantren. Kondisi lingkungan pesantren di Indonesia pada umumnya pada scat itu cenderung kotor, para santri terserang penyakit kulit, identik dengan kaum sarungan dan yang lebih parah lagi adalah bahwa pesantren sulit melahirkan para dokter, ekonom, politikus dan ilmuwan yang Islami karena pesantren mencukupkan diri dengan ilmu-ilmu Islam klasik dan tidak mengajarkan ilmu-ilmu alam atau sosial (sains) secara mendalam.

Bermula dari pengalaman dan ide-ide kependidikan tersebut, beliau sejak awal sudah berkomitmen untuk mengubah pencitraan pendidikan Islam, dan pendidikan pesantren pada khususnya. Beliau memiliki optimisme bahwa di kemudian hari akan lahir dokter, ekonom, politikus dan ilmuwan dari sebuah pesantren yang modern, yaitu sebuah pesantren yang bersih, peralatan modern, sistem pengelolaan menggunakan standar modern, dan dalam segi keilmuan terintegrasi antara ilmu keislaman dengan ilmu alam dan sosial (sains).

Realisasi cita-cita besar beliau mulai terorganisasikan pada tahun 1979 dengan melembagakan pengajian keluarga besar (alm) H. Abdullah Marzuki (Direktur Penerbitan PT Tiga Serangkai) beserta istri, Hj. Siti Aminah, menjadi lembaga kegiatan semacarn majelis ta’lim yang bernama Majelis Pengajian Islam (MPI), belum dalam bentuk yayasan. Pelembagaan kegiatan pengajian ini menunjukkan perkembangan yang cukup pesat dan besarnya keinginan masyarakat Surakarta terhadap kegiatan majelis ta’ lim.a

Bapak H. Abdullah Marzuki berkeinginan kuat untuk meningkatkan kegiatan pengajian tersebut menjadi lembaga kegiatan sosial keagamaan yang terorganisasi secara lebih baik dan dikelola secara intensif. Lembaga sosial dimaksud adalah dalam bentuk yayasan yang berbadan hukum. Terdapat dua argumentasi berkenaan dengan gagasan pendirian yayasan, seperti berikut.

  1. Yayasan ini diharapkan mampu menyebarkan agama Islam melalui penga­jian-pengajian umum dan membentuk suatu kampus perguruan tinggi.
  2. Kondisi sosial politik Indonesia yang cenderung mempersulit perternuan-perternuan keagamaan (Islam).

Perlu diketahui bahwa pada tahun itu banyak kegiatan majelis ta’lim yang dipersulit seiring dengan keluarnya Surat Keputusan Djaksa Agung Republik Indonesia (Soegiharto), Nomor Kep-089/D.A/10/1971 tentang pelarangan terhadap aliran-aliran Darul Hadis, Jamaah Qur’an Hadits, JPID, Jappenas dan lain-lain organisasi yang bersifat/berajaran serupa. Diharapkan dengan adanya yayasan yang, berbadan hukum, nantinya, semua kegiatan pengajian dapat berjalan lancar karena sudah bernaung di bawah sebuah lembaga sosial keagamaan yang sah berdasarkan undang-undang pemerintah.

Pada saat Bapak H Abdullah Marzuki merencanakan pendirian pesantren, beliau menyadari pentingnya kerja sama berbagai elemen baik yang memiliki harta, ilmu maupun tenaga. Pernyataan beliau ini dapat dirumuskan bahwa berdirinya PPMI Assalaam merupakan kerja keras semua pihak yang terdiri dari tiga unsur pokok, yang, satu sama lain saling mendukung dan saling melengkapi. Ketiga unsur tersebut adalah:

unsur-berdirinya-ppmi-assalaam
Unsur berdirinya PPMI Assalaam

Dalam pendirian yayasan, H. Abdullah Marzuki beserta Ibu Hj. Siti Aminah mengajak sahabat/keluarga beliau yang selama ini konsisten ikut aktif dalam pengelolaan proses belajar mengajar di pengajian, yaitu:

  1. H. Djamaludin
  2. Abdullah Marzuki
  3. Muh Umar Nandi
  4. Hj, Siti Aminah
  5. Ahmad Syamsuri
  6. Muhammad Chozin Shidiq

Mereka bersama-sama menghadap Notaris Maria Teresia Budhi Santoro SH, langganan H. Abdullah Marzuki, menyatakan akan mendirikan yayasan sosial keagamaan umat Islam. Berdasarkan Akte Notaris Nomor 36, Tanggal 13 September 1979, berdirilah Yayasan Majelis Pengajian Islam Surakarta, yang kemudian dikenal dengan Yayasan MPI. Pusat kegiatan Yayasan MPI berlokasi di Jalan Yosodipuro No. 56, Punggawan, Surakarta, menempati areal tanah wakaf seluas 2,845 m2 dari (alm) H. Abdullah Marzuki dan 1bu Hj. Siti Aminah.

loading...

Para pendiri Yayasan telah mengorbankan harta, ilmu, dan kekuatan fisik untuk bersatu padu memajukan Islam dan kaum muslimin melalui jalur pendidikan. Semangat dan cita-cita mereka tergambarkan dalam firman Allah SWT, surat At-Taubah ayat 72 dan surat Asy-Syuara ayat 127:

Dan keridaan Allah adalah lebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar  (At-Taubah: 72).

Dan sekali-kali aku tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam (Asy-Syu’ara’: 127).

Maksud dan tujuan Yayasan MPI Surakarta yang dirumuskan pada awal pendiriannya adalah untuk menggali dan mengembangkan ilmu dan ajaran agama Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah serta mewujudkannya dalam hidup dan kehidupan sehari-hari. Kegiatan Yayasan MPI Surakarta meli­puti pengajian untuk anak-anak, pelajar dan masyarakat, kegiatan masjid, kur­sus bahasa Arab, munadharah agama, olahraga dan keterampilan, poliklinik, pemeliharaan anak fakir miskin, layanan urusan kematian dan program khusus di bulan Ramadhan dan hari raya.

Baca juga:
Definisi dan Tujuan Keassalaaman
Pandangan Anomali dalam Beragama

Mendirikan Lembaga Pendidikan Formal

Kehadiran para kyai dalam berbagai majelis pengajian MPI mampu meng­himpun kaum muslimin dari berbagai lapisan masyarakat. Di antara para kyai yang aktif mengisi pengajian adalah K.H. Djamaluddin, K.H. Ali Darokah, K.H. Abbas Dasuki, K.H. Roqib, K.H. Abdani, K.H.Mursidi, K.H. Habib Anhar, K.H. Muh Amir S.H, K.H. Ahmad Rosyidi Asyrofi, Le, K.H. Arkanudin, K.H. Hasan Bashri, Ny. Hj. Syarifah Muhtaram dan beberapa kyai muda dari pondok pesantren Al-Mukmin dan perguruan Al Islam, juga dari Yogyakarta, seperti K.H. Ir. Syahirul Alim, M.Sc. Pada setiap bulan beliau-beliau berkumpul mengadakan penelaahan/kajian kitab di MPI (E. Yosodipuro No. 46 Punggawan), dan mengisi pengajian Ahad pagi secara bergiliran.

Kemajuan pesat yang ditandai dengan jumlah jamaah yang terus meningkat ini memberi harapan positif bagi perkembangan MPI dan cita-cita membentuk suatu kampus perguruan tinggi seperti yang dicita-citakan (alm) H. Abdullah Marzuki. Babak baru dimulai dengan mendirikan unit-unit pendidikan formal di lingkungan Yayasan MPI.

Sebagai embrio awal pendirian pendidikan formal, Yayasan MPI mendirikan Madrasah Diniyah Awaliyah (MDA) yang dipimpin oleh K.H. Abdullah Abdullatif. Kegiatan belajar mengajar MDA berlangsung selama tiga tahun. Pendidikan ini merupakan tambahan pendidikan agama bagi siswa dan siswi yang duduk di kelas IV hingga kelas VI Sekolah Dasar.

Perkembangan MDA terutama setelah mendapat pengakuan resmi dari Departemen Agama Rl sangat menggembirakan. Berdasarkan kenyataan tersebut, dewan guru memandang perlu adanya program lanjutan studi siswanya yang sangat prospektif baik dari segi financial maupun potensi-potensi lain. Jenjang lanjutan yang didirikan Yayasan adalah Madrasah Tsanawiyah (M.Ts.).

Pada tanggal 17 Juli 1982 secara resmi M.Ts. Punggawan dibuka oleh Depag Kodya Surakarta bertepatan dengan tanggal 15 Syawal 1402 H, SK Dirjen Binbaga Islam tanggal 7 Agustus 1982 No. WK/5c/548/Pgm/ Ts/1982. Pada hari itu juga ditetapkan sebagai hari lahir Pondok Pesantren Modern Islam Punggawan (PPMIP) Surakarta. Pimpinan pondok dimandatkan kepada Ustadz K.H. Dalhari Nuryanto, BA. Semua santri berada dalam satu asrama karena madrasah ini menggunakan model boarding school. Pendirian M.Ts. plus ini merupakan embrio perintisan dan pengembangan model pondok pesantren. Pendidikan M.Ts. menjadi titik awal pendirian pondok pesantren yang diberi nama Pondok Pesantren Modern Islam Punggawan Surakarta, disingkat PPMI Punggawan. Nama Punggawan didasarkan atas alasan bahwa penyelenggaraan pendidikan pesantren berada di daerah Punggawan.

Para santri PPMI Punggawan berdatangan dari berbagai daerah dan bertambah jumlahnya dari tahun ke tahun. Pada tahun pertama jumah santri sebanyak 127 santri, dan pada tahun ketiga sudah mencapai lebih dari 500 santri. Akibatnya, areal Punggawan tidak lagi mencukupi bagi asrama dan kegiatan belajar mengajar santri.

Berdasarkan alasan tersebut, Yayasan MPI membuka kompleks baru kampus yang terletak di daerah Kelurahan Pabelan, Kecamatan Kartasura. Tepatnya, pada tanggal 1 Juli 1984 pembangunan kampus baru dimulai di atas areal 8,2 hektar, hak milik keluarga H. Abdullah Marzuki. Desain bangunan dirancang oleh desainer Abdul Kadir Sungkar atau yang terkenal “Tuan Anding”, beliau pernah belajar arsitektur di Belanda/Eropa. Di samping membangun fisik pergedungan, juga rnembangun infrastruktur berupa jalan + 500 m lebar 12 m, jaringan listrik, PAM dan telepon. Untuk jembatan, tanahnya diambil dari milik (alm) H. Abdullah Marzuki dan biaya pembuatannya bekerja sama dengan Universitas Muhammadiyah Surakarta. Selain jembatan, seluruh biaya infrastruktur tersebut ditanggung oleh beliau secara pribadi.

Pada tanggal 19 Juli 1985, para santri ponpes Punggawan hijrah ke kampus baru di Pabelan, Kartasura. Pada tahun yang sama didirikan unit Madrasah Aliyah (MA) yang dipimpin oleh Ust. Sukarno, B.A., sedangkan pimpinan pondok diserahkan kepada K.H. Djamaluddin Abu ‘Amar.

Perpindahan kampus dari Punggawan ke Pabelan ini mengilhami para pengurus yayasan dan pondok untuk mengrubah nama menjadi Pondok Pesantren Modern Islam Assalaam. Nama Assalaam secara resmi digunakan pada tanggal 20 Juli 1985, sekaligus sebagai momen penting perj alanan pondok ini yaitu hijrahnya para santri menempati kampus baru di desa Pabelan, Jalan Ahmad Yani, kilometer 7, Kartasura, Sukoharjo.

Dengan demikian, peristiwa penting yang terjadi pada saat hijrahnya Pondok Punggawan ke kampus baru di desa Pabelan adalah sebagai berikut.

  1. Pada tanggal 20 Juli 1985, nama PPMI Punggawan berubah menjadi PPMI Assalaam dan resmi menempati kampus baru di Pabelan, Kartasura, Sukoharjo;
  2. Dibuka Madrasah Aliyah sebagai jenjang lanjutan dari M.Ts.;
  3. Pimpinan Pondok diserahterimakan dari Ust. K.H. Dalhari Nuryanto kepada K.H. Djamaluddin karena telah habis masa jabatannya (1982­-1985).

(Berbagai sumber)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here