Home Pendidikan Pengaruh Profesionalisme Guru dan Persepsi Guru Tentang Kepemimpinan Kepala Sekolah Terhadap Kinerja...

Pengaruh Profesionalisme Guru dan Persepsi Guru Tentang Kepemimpinan Kepala Sekolah Terhadap Kinerja Guru

170
0
SHARE
Profesionalisme-Guru-dan-kinerja-guru
Ilustrasi: Kinerja guru profesional

Dalam membangun manusia seutuhnya, pembangunan di bidang pendidikan merupakan sarana dan wadah yang sangat penting dan menentukan dalam pembinaan sumber daya manusia. Oleh karena itu, bidang pendidikan perlu dan harus mendapatkan perhatian, penanganan dan prioritas secara sungguh-sungguh baik oleh pemerintah, masyarakat pada umumnya dan para pengelola.

Pada sebuah lembaga pendidikan perlu adanya sumber daya manusia yang baik, guru merupakan salah satunya. Dengan adanya sumber daya manusia yang baik maka sebuah insitusi pendidikan akan berkembang secara optimal sebagaimana yang diharapkan. Menurut Undang-Undang Republik Indonesia No. 14 Tahun 2005 tentang guru dan dosen menyatakan bahwa  :

“guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan usia dini, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah”.

Kinerja Guru

Guru sangat menentukan keberhasilan pendidikan suatu negara. Berbagai kajian dan hasil penelitian yang menggambarkan tentang peran strategis dan menentukan guru dalam mengantarkan keberhasilan pendidikan suatu negara dapat dijabarkan dibawah ini: bahwa keberhasilan pembaruan sekolah sangat ditentukan oleh gurunya, karena guru adalah pemimpin pembelajaran, fasilitator, dan sekaligus merupakan pusat inisiatif pembelajaran Mulyasa dalam Supardi (2013:7).

Dalam meraih mutu pendidikan yang baik sangat dipengaruhi oleh kinerja guru dalam melaksanakan tugasnya sehingga kinerja guru menjadi tuntutan penting untuk mencapai keberhasilan pendidikan. Kinerja mampu memberikan dan merealisasikan harapan dan keinginan semua pihak terutama masyarakat umum yang telah mempercayai sekolah dan guru dalam membina peserta didik.

Salah satu penyebab rendahnya mutu pendidikan di Indonesia adalah kinerja guru. rendahnya Kinerja guru di Indonesia dapat dilihat dari kelayakan guru mengajar. Data Balitbang Depdiknas 2002-2003, menunjukkan guru-guru yang layak mengajar untuk tingkat SD baik negeri maupun swasta ternyata hanya 28,94%. guru SMP negeri 54,12%, swasta 60,99%, guru SMA negeri 65,29%, swasta 64,73%, guru SMK Negeri 55,91% dan swasta 58,26%. Pengamat Pendidikan Muhammad Zuhdan juga mengungkan bahwa:

di antara 2,92 juta guru di Indonesia, ternyata masih ada 1,44 juta guru yang belum berpendidikan Strata 1 (S-1). Jumlah itu setara dengan 49,3 persen dari total guru di Indonesia. Dari sisi kualitas guru bisa dikatakan masih rendah. Namun di Indonesia saat ini juga masih kekurangan guru. Perbandingan guru untuk sekolah di perkotaan, desa dan daerah terpencil masing-masing 21 persen, 37 persen, dan 66 persen. Guru yang memiliki kualitas bagus enggan ditempatkan di daerah jauh dan terpencil, padahal semestinya ada pemerataan.

Selanjutnya berdasarkan data Education For All (EFA) atau indeks pembangunan pendidikan untuk semua, pendidikan di Indonesia mengalami penurunan peringkat dari 65 pada 2011 menjadi peringkat 69 pada 2012 dari 127 negara di dunia. Variabel bisa diukur dari kualitas guru yang rendah, anak putus sekolah, kurikulum yang tidak memenuhi standar dan infrastruktur yang buruk. (sumber: news.okezone.com).

loading...

Menurut Suprihanto dalam Supardi (2013:16), Kinerja adalah hasil kerja seseorang dalam suatu periode tertentu yang dibandingkan dengan beberapa kemungkinan, misalnya standar target, sasaran, atau kriteria yang telah ditentukan terlebih dahulu. Selain itu, kinerja juga dapat diartikan sebagai suatu hasil dalam usaha seseorang guru yang dicapai dengan adanya kemampuan dan perbuatan dalam situasi tertentu.

Menurut Gibson dalam Supardi  (2013:31),  ada tiga kelompok faktor yang mempengaruhi perilaku kerja dan kinerja yaitu: faktor individu, terdiri dari: Kemampuan dan keterampilan, Keluarga, Tingkat sosial, dan Penggajian. faktor organisasi terdiri dari: Sumber daya, Kepemimpinan, Imbalan, dan Struktur. faktor psikologis, terdiri dari: Persepsi, Sikap, Kepribadian, Belajar, dan Motivasi.

Tolok ukur keberhasilan pendidikan terlihat dari kinerja yang baik, namun kenyataan dilapangan menunjukkan bahwa masih ada beberapa guru yang kinerjanya kurang maksimal. Sementara guru merupakan komponen yang paling berpengaruh terhadap proses dan hasil pendidikan yang berkualitas. Oleh karena itu, kinerja guru harus di tingkatkan sejalan dengan tuntutan jaman. Hal ini akan berdampak positif terhadap kualitas lulusan dari lembaga pendidikan terkait.

Untuk menghadapi masalah-masalah tersebut profesionalisme seorang guru sangat diperlukan. Tuntutan dan pengembangan profesionalisme guru menjadi perhatian global karena guru memiliki tugas dan peran bukan hanya memberikan informasi-informasi ilmu pengetahuan dan teknologi, melainkan juga membentuk sikap dan jiwa yang mampu bertahan dalam era hiperkompetisi.

Kinerja guru diukur dari rasa tanggung jawabnya menjalankan amanah, profesi yang diembannya, rasa tanggung jawab moral dipundaknya. Semua itu akan terlihat kepada kepatuhan dan loyalitas di dalam menjalankan tugas keguruannya di dalam kelas dan tugas kependidikan di luar kelas. Sikap ini akan dibarengi pula dengan rasa tanggung jawabnya mempersiapkan segala perlengkapan pengajaran sebelum melaksanakan proses pembelajaran. Selain itu, guru juga sudah mempertimbangkan akan metodelogi yang akan digunakan, termasuk alat media pendidikan yang akan dipakai, serta alat penilaian apa yang digunakan di dalam pelaksanaan evaluasi.

Baca juga:
Pembelajaran IPA di Sekolah Dasar
Cara Mengukur Hasil Belajar
Model Pembelajaran Problem Based Learning

Profesionalitas Guru

Profesionalitas guru yang ditunjukkan dengan kinerja guru dapat dikataan sebagai kunci keberhasilan pendidikan. Hal ini disebabkan karena keberadaan guru sangat berpengaruh terhadap semua sumber pendidikan seperti sarana dan prasarana, biaya, teknologi informasi, siswa dan orang tua siswa dapat berfungsi dengan baik apabila guru memiliki kemampuan yang baik pula dalam menggunakan sumber yang ada. Menurut Usman (2005:15):

“guru profesional adalah orang yang memiliki kemampuan dan keahlian khusus dalam bidang keguruan sehingga ia mampu melakukan tugas dan fungsinya sebagai guru dengan kemampuan maksimal”

Kinerja guru tidak hanya  terfokus pada profesionalisme guru saja, tetapi juga berkaitan erat dengan kepemimpinan kepala sekolah untuk selalu melakukan komunikasi yang berkesinambungan, melalui jalinan kemitraan dengan seluruh guru di sekolahnya. kepemimpinan kepala sekolah merupakan kemampuan kepala sekolah untuk menggerakkan, mengarahkan, membimbing, melindungi, memberi teladan, memberi dorongan, dan memberi bantuan terhadap sumber daya manusia yang ada di suatu sekolah sehingga dapat didayagunakan secara maksimal untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan Wahjosumidjo (2005:83).

Seorang kepala tidak lepas dari adanya penilaian dari para pegawai disekolah yang dipimpinnya, karena kepala sekolah adalah seorang panutan dan harus dapat memberi contoh dan membimbing dalam pelaksanaanya. Dari penilaian tersebut timbul adanya persepsi, sehingga dapat tercipta penilaian yang berbeda-beda melalui pendengaran, penglihatan, penciuman, dan perasaan, apabila penilaian pimpinanya itu baik maka persepsinya pun juga baik tetapi sebaliknya apabila penilainya tidak baik maka persepsinya pun juga tidak baik. Persepsi tersebut dapat mempengaruhi para pegawai dalam bekerja karena dengan pimpinan yang baik maka para pegawai akan lebih memahami program yang ada dan sebaliknya apabila pimpinanya tidak baik maka para pegawai sulit dalam memahami program yang ada.

Persepsi guru tentang kepemimpinan kepala sekolah merupakan proses kognitif yang dialami setiap guru dalam menerima dan memahami kemampuan kepala sekolah dalam memimpin dan menggerakkan bawahannya untuk bekerja dengan baik.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here