Home Pendidikan Kemampuan Bersosial Pada Anak Usia Dini

Kemampuan Bersosial Pada Anak Usia Dini

248
0
SHARE
Mengasah-Kemampuan-Sosial-Anak-Sejak-Usia-Dini
Ilustrasi: Kemampuan sosial anak usia dini

PAUD bertujuan untuk mengembangkan seluruh potensi anak (the whole child) agar kelak dapat berfungsi sebagai manusia yang utuh sesuai falsafah bangsa (Suyanto, 2005:5). Usia dini merupakan saat yang sangat berharga untuk menanamkan nilai nasionalisme, moral, agama, etika, dan sosial yang berguna untuk kehidupannya. Interaksi anak dengan benda dan orang lain diperlukan untuk belajar agar anak mampu mengembangkan kepribadian, watak dan akhlak mulia.

Dalam survei yang dilakukan terhadap lebih dari 2.000 pekerja penitipan anak, orangtua dan guru menempatkan kemampuan sosial dan berdikari lebih tinggi dibandingkan kemampuan akademis. Lembaga pemerhati anak Pacey, selaku pembuat riset, mengatakan pembelajaran akademis secara dini justru bisa menghambat keberhasilan anak (BCC News, 28 September 2013).

Purwaningsih (2011:7) mengatakan pendidikan sudah seharusnya dimulai pada usia dini, stimulasi dini sangat diperlukan guna memberi rangsangan terhadap seluruh aspek perkembangan anak yang mencakup penanaman nilai-nilai dasar (agama dan budi pekerti), pembentukan sikap (disiplin dan kemandirian), pengembangan kemampuan dasar (berbahasa, motorik, kognitif), dan sosial. Sosialisasi merupakan suatu proses yang muncul dimana anak belajar tentang diri sendiri dan membangun serta merawat pertemanannya dengan orang lain. Untuk memberi rangsangan anak agar mampu bersosial maka anak dapat diajak bermain bersama dengan teman sebayanya. Marsitoh (2009:2.15) mengatakan “Perkembangan kemampuan sosial anak merupakan hasil belajar, bukan hanya sekedar hasil dari kemampuan”.

Menurut Fridani (2013:5.9) pengertian kemampuan sosial adalah suatu proses yang muncul dimana anak-anak belajar tentang diri dan orang lain dan tentang membangun serta merawat pertemanan. Anak sendiri memainkan suatu peranan dalam sosialisasi mereka. Anak akan mulai menghilangkan sikap egosentrisnya saat bermain bersama dengan temannya. Dalam Eprilia (2010:33) Hurlock mengutarakan bahwa perkembangan kemampuan sosial merupakan perolehan kemampuan berperilaku yang sesuai dengan tuntutan sosial. Anak akan belajar bersosialisasi dengan lingkungan dan belajar tentang apa saja yang di inginkan lingkungannya.

Teori belajar sosial menjelaskan tentang pengaruh penguatan dari luar diri atau lingkungan seorang siswa, dan aktivitas kognitif dalam diri siswa digabungkan dengan filsafat dasar teori belajar humanistic, yaitu “memanusiakan manusia”, terhadap kemampuan siswa belajar melalui cara “modeling” atau mencontoh perilaku orang lain. Fridani (2013:5.10) mengatakan Aspek lain dari perkembangan sosial adalah penguasaan pengetahuan konvensi sosial. Pengetahuan konvensi sosial meliputi belajar tentang konvensi (melakukan atau tidak melakukan) dari budaya seseorang, meliputi bahasa, ekspresi, dan tanda dari “melakukan dan aturan-aturannya”. Konvensi sosial dipelajari dari orang lain. Konvensi sosial lebih cenderung dipelajari daripada merupakan hasil konstruksi secara mental.

Baca juga:
Pengaruh Profesionalisme Guru dan Persepsi Guru ....
Perkembangan Motorik Halus Pada Anak
Kemampuan Motorik Kasar Pada Anak

Ciri-Ciri Kemampuan Sosial Anak Usia Dini

Mengenal karakteristik peserta didik untuk kepentingan proses pembelajaran merupakan hal penting. Menurut peraturan mentri pendidikan dan kebudayaan republik Indonesia nomor 137 tahun 2014 tentang standar nasional pendidikan anak usia dini, ciri-ciri kemampuan sosial anak dapat dilihat melalui tingkat pencapaian perkembangan (TPP) anak usia 5-6 tahun yaitu:

1. Menaati aturan kelas (aturan kegiatan). Anak dapat menaati aturan yang telah dibuat dan disepakati, di dalam kelas maupun diluar kelas saat melakukan kegiatan.

2. Bermain dengan teman sebaya. Anak mulai bermain dengan teman sebaya sebagai tanda anak mulai menerima kehadiran orang lain selain anggota keluargannya.

3. Berbagi dengan orang lain. Anak mulai berbagi dengan temannya, baik berbagi mainan maupun makanan.

4. Menghargai hak/pendapat/karya orang lain. Anak mulai menghargai pendapat yang disampaikan orang lain dan menghargai karya orang lain, missal memuji karya teman dan tidak mengolok karya teman.

5. Menggunakan cara yang diterima secara sosial dalam menyelesaikan masalah. Anak mulai menggunakan fikiran untuk menyelesaikan masalah.

loading...

6. Bersikap kooperatif dengan teman. Anak dapat bekerjasama dengan temannya.

7. Menunjukkan sikap toletan. Anak menunjukkan sikap toleransinya kepada teman saat bermain maupun saat pembelajaran.

8. Mengenal tatakrama dan sopan santun sesuai dengan nilai sosial budaya setempat. Anak dapat mengenal tata karma dan menunjukkan sikap sopan santun terhadap teman,guru aupun keluarga sesuai dengan budaya setempat.

Kepustakaan:

Suyanto, Slamet. 2005. Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini. Jakarta: Depdiknas.

Purwaningsih, Sri. 2011. Perkembangan Kecakapan Hidup. Surakarta : Qinant.

Marsitoh, dkk. 2009.  Strategi Pembelajaran. Jakarta: Universitas Terbuka.

Fridani, Lara dan Sri Wulan. 2013. Evaluasi Perkembangan Anak Usia Dini. Universitas Terbuka.

Eprilia, Ummi Hany. 2010.  Perkembangan Nilai Moral, Agama, Sosial dan Emosi Pada Anak Usia Dini. Surakarta: UMS.

Peraturan Mentri Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 137 Tahun 2014 tentang Standar Nasional Pendidikan Anak Usia Dini.

BBC News. 2013. Kemampuan Sosial Lebih Penting Bagi Usia Dini. Diakses pada 1 Juni 2018 diakses dari http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2013/09/130928_pendidikan_usiadini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here