Home Pendidikan Tiga Faktor Yang Mempengaruhi Kemampuan Sosial Anak Usia Dini

Tiga Faktor Yang Mempengaruhi Kemampuan Sosial Anak Usia Dini

318
0
SHARE
Perkembangan-sosial-anak-usia-dini
Ilustrasi: Perkembangan sosial anak

Pendidikan anak usia dini menurut UU sisdiknas No. 20 Tahun 2003 Pasal 1 Butir 14 adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut. Dari penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa batasan anak usia dini di Indonesia adalah dari lahir samapi usia enam tahun. Melihat rentan usia anak TK berkisar antara empat sampai enam tahun, maka pendidikan TK termasuk pendidikan anak usia dini.

Aktivitas bermain bagi anak usia dini memiliki peranan yang cukup besar dalam mengembangkan kecakapan sosialnya. Eprilia (2010:35) mengatakan bahwa “Bermain mendorong anak untuk meninggalkan pola pikir egosentrisnya”. Menurut Vygotsky (dalam Marsitoh, 2009:5.9) “Ketika anak bermain dan berkata dengan kelompok atau dengan guru dan dengan orang dewasa lainnya, mereka mengembangkan, merubah, dan menafsirkan ide-idenya”.

Pembelajaran anak usia dini menggunakan esensi bermain yang meliputi perasaan senang, demokratis, aktif, tidak terpaksa, dan merdeka. Suyanto mengatakan “Dengan bermain dengan anak lain, anak akan mengembangkan kemampuan memahami perasaan, ide, dan kebutuhan orang lain yang merupakan dasar dari kemampuan sosial” (2005: 122). “Melalui bermain anak disadarkan bahwa ia harus siap bermasyarakat sebagai syarat untuk menyelenggarakan hubungan antar pribadi di kemudian hari” (Montolalu, 2009:1.17).

Dalam survei yang dilakukan terhadap lebih dari 2.000 pekerja penitipan anak, orangtua dan guru menempatkan kemampuan sosial dan berdikari lebih tinggi dibandingkan kemampuan akademis. Lembaga pemerhati anak Pacey, selaku pembuat riset, mengatakan pembelajaran akademis secara dini justru bisa menghambat keberhasilan (BCC News, 28 September 2013).

Baca juga:
Pengaruh Profesionalisme Guru dan Persepsi Guru Tentang Kepemimpinan Kepala Sekolah Terhadap Kinerja Guru
Perkembangan Motorik Halus Pada Anak
Kemampuan Motorik Kasar Pada Anak

Faktor yang mempengaruhi kemampuan sosial anak

Menurut Nugraha (2004:4.15-4.18) faktor yang mempengaruhi kemampuan sosial antara lain :

Faktor dari Lingkungan Keluarga

Keluarga adalah lingkungan pertama dalam kehidupan anak. Di dalam keluarga, anak diajarkan dan dibiasakan dengan norma-norma sosial untuk dapat beradaptasi dengan lingkungan sosial. Diantara faktor yang terkait dengan keluarga dan yang banyak berpengaruh terhadap perkembangan sosial anak adalah hal-hal yang berkaitan dengan:

1. Status sosial ekonomi keluarga, apabila perekonomian keluarga cukup maka lingkungan material anak di dalam keluarga tersebut menjadi lebih luas. Anak mendapatkan kesempatan yang lebih banyak mengembangkan bermacam-macam kecakapan termasuk kecakapan dalam mengembangkan kemampuan sosial yang mungkin tidak akan ia dapatkan jika keadaan ekonomi keluarga tidak memadai.

2. Keutuhan keluarga, ialah hadirnya ayah, ibu, dan anak dalam satu keluarga. Apabila ayah atau ibu atau kedua-duanya tidak ada maka struktur keluarga dianggap sudah tidak utuh lagi. Hal tersebut akan mempengaruhi perkembangan kemampuan sosial anak prasekolah, bahkan hingga tingkatan tertentu dapat mengganggunya. Anak dari keluarga broken home secara sosial merasa malu dan akhirnya mempengaruhi kemampuan dan kemauan berinteraksi dengan teman – temannya.

3. Sikap dan kebiasaan orang tua, orang tua sebagai pemimpin dalam keluarga sangat mempengaruhi suasana interaksi keluarga dan dapat merangsang perkembangan ciri-ciri tertentu pada pribadi anak. Orang tua yang otoriter akan menyebabkan anak anak tidak taat, takut, pasif, tidak memiliki inisiatif. Tidak dapat merencanakan sesuatu, dan mudah menyerah. Orang tua yang terlalu melindungi anak dan menjaga anak secara berlebihan akan membuat anak sangat tergantung pada orang tua dan tidak dapat mandiri. Orang tua yang menunjukkan sikap menolak yang menyesali kehadiran anak akan menyebabkan anak menjadi agresif dan memusuhi, suka berdusta, dan suka mencuri sehingga dapat di jauhi teman-temannya.

Faktor dari Luar Rumah

loading...

Kemampuan sosial anak saat di luar rumah di perlukan anak karena manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan bantuan orang lain, selain keluarga anak membutuhkan orang lain seperti teman untuk memenuhi kebutuhan sosialnya. Pengalaman sosial awal di luar rumah melengkapi pengalaman di dalam rumah dan merupakan penentu yang penting bagi sikap sosial dan pola perilaku anak. jika hubungan dengan teman sebaya dan orang dewasa di luar rumah menyenangkan, mereka akan menikmati hubungan sosial tersebut dan ingin mengulanginya. Sebaliknya jika hubungan itu tidak mnyenangkan atau menakutkan, anak-anak akan menghindar dan kembali kepada anggota keluarga untuk memenuhi kebutuhan sosial mereka. Jika anak senang berhubungan dengan orang luar, ia akan terdorong untuk berperilaku dengan cara yang dapat diterima orang luar tersebut.

Faktor Pengaruh Pengalaman Sosial

Pengalaman sosial anak sangat menentukan perilaku kepribadian selanjutnya. Banyaknya pengalaman bahagia yang diperoleh sebelumnya akan mendorong anak mencari pengalaman semacam itu lagi pada perkembangan kemampuan sosial selanjutnya. Kekuatan perilaku sosial awal sebagai pola perilaku yang cenderung menetap mampu mempengaruhi perilaku anak pada situasi kemampuan sosial selanjutnya, oleh karena itu pengalaman sosial awal anak harus difasilitasi dengan situasi sosial yang positif dan dapat diterima oleh lingkungan yang luas.

Kepustakaan:

BBC News. 2013. Kemampuan Sosial Lebih Penting Bagi Usia Dini. Diakses pada 1 Juni 2018 diakses dari http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2013/09/130928_pendidikan_usiadini

Eprilia, Ummi Hany. 2010.  Perkembangan Nilai Moral, Agama, Sosial dan Emosi Pada Anak Usia Dini. Surakarta: UMS.

Marsitoh, dkk. 2009.  Strategi Pembelajaran. Jakarta: Universitas Terbuka.

Montolalu, B.E.F. 2009. Bermain dan Permainan Anak. Jakarta: Universitas Terbuka.

Nugraha, Ali dan Rachmawati Yeni. 2004. Metode Pengembangan Sosial Emosional. Jakarta: Penerbitan Universitas Terbuka.

Suyanto, Slamet. 2005. Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini. Jakarta: Depdiknas.

UU Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here