Home Kesehatan Pengaruh Konsumsi Pangan Hewani Pada Ibu Hamil

Pengaruh Konsumsi Pangan Hewani Pada Ibu Hamil

133
0
SHARE
Pengaruh Konsumsi Pangan Hewani Pada Ibu Hamil

Ibu hamil adalah salah satu diantara kelompok yang rawan mengidap kekurangan gizi yang disebabkan oleh kebutuhan gizi yang meningkat yang diperlukan ibu dan janin dalam kandungan. Diperlukan perencaraan menu yang tepat dalam upaya pemeliharaan kehamilan. Untuk mencukupi asupan gizi ibu dan janin yang dikandung, diperlukan penerapan menu gizi seimbang. Asupan gizi ibu hamil memiliki dampak signifikan terhadap kesehatan fetus, neonates, setelah lahir dan ibu hamil sendiri (Patimah, 2007).

Kesehatan bayi saat terlahir, sangat bergantung pada kondisi asupan gizi ibu saat masih dalam kandungan. Ibu hamil yang kekurangan gizi, cenderung mengalami anemia. Ciri-ciri dari ibu hamil yang mengalami anemia adalah mereka cepat lemah dan lesu (Elvina, 2016).

Anemia adalah kekurangan zar gizi yang ditandai oleh gangguan dalam sentesis dan penurunan kadar hemoglobin darah dibawah normal baik disebabkan oleh kekurangan konsumsi  zat besi atau gangguan absorbsi (Almatsier, 2010; Bakta et al., 2009). Kekurangan zat gizi besi, protein (globin sebagai pengikat zat besi), asam folat, piridoksin (vitamin B6) dan vitamin A yang berperan sebagai komponen pembentuk hemoglobin dapat mengganggu proses hemopoiesis (pembentukan sel darah merah). Zat gizi seperti vitamin B12, asam folat, sejumlah kecil vitamin C, riboflavin dan tembaga akan membantu meningkatkan absorsi besi dalam tubuh. Pengaturan pembentukan hemoglobin melibatkan berbagai hormon khususnya eritroprotein (Almatsier, 2010).

Ibu hamil membutuhkan asupan makanan yang mengandung banyak zat besi, asam folat, protein dan vitamin C. Ibu hamil akan mengalami anemia apabila kebutuhan akan zat-zat tersebut tidak terpenuhi. Pada umumnya, ibu hamil mengalami anemia dikarenakan minimnya asupan zat besi (Kurnia, 2009).

Kasus anemia pada bumil sebagian besar disebabkan oleh randahnya asupan zat besi dalam tubuh yang disebabkan pola makan kurang baik. Pola makan merupakan gaya atau perilaku seseorang atau kelompok dalam memilih serta menggunakan bahan pangan yang dikonsumsi setiap hari. Jumlah makanan serta frekuensi seseorang sangat dipengaruhi oleh faktor geografis, sosiologis dan budaya di lingkungan mereka (Almatsier, 2011).

Ibu yang sedang mengandung memiliki kebutuhan gizi yang meningkat demi memenuhi asupan gizi bayi yang berada di dalam kandungan. Ibu hamil yang tidak memiliki asupan gizi seimbang cenderung mengalami anemia. Hal ini bisa disebabkan karena pola makan yang tidak sehat, status social ekonomi yang kurang baik, kekurangan darah, atau rendahnya pengetahuan ibu hamil akan kebutuhan zat besi yang tinggi pada saat hamil. Jika ibu hamil telah memiliki asupan pola makan yang baik tapi masih mengalami anemia, hal ini bisa disebabkan oleh rendahnya konsumsi protein. Protein yang dihasilkan oleh hewan memiliki tingkat asam amino esensial yang lebih lengkap serta memiliki struktur yang serupa dengan asam amino pada tubuh manusia (Puji, dkk. 2010).

Sumber makanan dari hewan seperti daging, telur, susu, dan hasil perikanan digunakan untuk memenuhi kebutuhan protein hewani. Sumber pangan hewani memiliki kandungan vitamin A, energy, serta zat besi yang sangat dibutuhkan oleh ibu hamil. Setiap 100 gr pangan hewani mengandung energi sebesar 2,9%-14,73%, vitamin A 13,13%-46,46%, dan zat besi sebesar 15,38%-23,07% (Depkes RI, 2010). Ibu hamil akan mengalami anemia apabila kekurangan asupan energy. Lemahnya otot-otot dan tubuh menjadi tidak seimbang bisa dikarenakan pemecahan protein untuk memproduksi energy dan glukosa (Nursari, 2009).

Pangan nabati memiliki kandungan Fe lebih sedikit daripada pangan Hewani. Ferro yang dikandung dalam pangan hewani mudah diserap antara 10-20%, jumlah Fe yang dapat diserap dari pangan hewani yang bersumber dari ikan dapat diserap dalam jumlah 11%, sedangkan dalam pangan nabati kandungan Fe yang dapat diserap tubuh sekitar 1-5% (Astwan,2008). Pangan Hewani memiliki kandungan zat gizi lebih lengkap dari zat gizi yang terkandung dalam pangan nabati, seperti protein dan zat besi karena lebih mudah diserap tubuh. Kandungan  protein dan zat besi pada pangan hewani dapat mencegah anemia (Tabloid bintang, 2017).

Dalam tubuh manusia setidaknya terkandung 2-4 gram zat besi. Lebih dari 65% zat besi ditemukan dalam hemoglobin. Sistem transportasi zat besi dalam tubuh sangat dipengaruhi oleh tingkat asupan proten. Maka dari itu, minimnya asupan protein berdampak pada terhambatnya proses transportasi zat besi sehingga mengakibatkan defisiensi besi (Maesaroh, 2007). Pangan hewani memiliki kandungan protein dan zat besi tinggi. Protein memiliki peran penting dalam metabolisme tubuh, dimana proses pembentukan hemoglobin baru bergantung pada proses transferin pengangkutan Fe pada tempat-tempat yang membutuhkan Fe seperti dari usus ke sumsum. Feritin merupakan merupakan bentuk lain dari protein yang juga memiliki peran penting dalam metabolism Fe. Dalam kondisi normal feritin dapat menyimpan Fe dan dapat diambil gembali untuk digunakan sesuai kebutuhan (Purwitaningtyas, 2011). Menurut Fitriyani (2015) terdapat hubungan antara asupan pangan hewani, tablet Fe, pendapatan keluarga dengan kadar hemoglobin pada ibu hamil.

Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013, terdapat 37,1% ibu hamil anemia, yaitu ibu hamil dengan kadar Hb kurang dari 11,0 gram%, dengan proporsi yang hampir sama antara di kawasan perkotaan (36,4%) dan pedesaan (37,8%). Tingginya tingkat anemia ibu hamil dikarenakan tidak terpenuhinya kebutuhan asupan gizi ibu semasa hamil.

Laporan tahunan Dinas Kesehatan Kabupaten Boyolali pada tahun 2016 menunjukkan ibu hamil mengalami tingkat anemia sebesar 13,2% (Dinas Kesehatan  Boyolali, 2016).

 

loading...

DAFTAR PUSTAKA

Almatsier. 2011. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: PT Gramedia   Pustaka Utama.

Bakta, IM. 2006. Pendekatan Terhadap Pasien Anemia Buku Ajar Penyakit Dalam. IV. Jakarta Pusat: Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam FK UI.

Briawan, D. 2013. Anemia Masalah Gizi pada Remaja Wanita. Jakarta. Penerbit Buku Kedokteran. ECG.

Departemen Kesehatan RI, 2004. Analisis Situasi Gizi dan Kesehatan Masyarakat. Jakarta.

Dinas Kesehatan kabupaten Boyolali, 2016. Profil Kesehatan Kabupaten Boyolali. Laporan Hasil Anemia Ibu Hamil.

Elvina, 2016. 50% Ibu Hamil di Indonesia Mengalami Anemia. Diakses: 19 Juni 2017.

Fitriyani, 2015. Hubungan Konsumsi Makanan Protein Hewani, Tablet Zat Besi, Pendapatan Keluarga dengan Kadar Hemoglobin Ibu Hamil di Wilayah Keja Puskesmas Tirto I Kabupaten Pekalongan. Surakarta. Universitas Sebelas Maret.

Kartasapoetra, Marsetyo, Med. 2010. Ilmu Gizi (Korelasi Gizi, Kesehatan dan Produktivitas Kerja). Jakarta. Rineka Cipta.

Kurnia, 2009. Menghindari Gangguan Saat Melahirkan dan Panduan Lengkap Mengurut Bayi. Yogyakarta. Panji Pustaka.

Nursari, Dilla. 2009. Gambaran Kejadian Anemia pada Remaja Putri SMP Negeri 18 Kota Bogor Tahun 2009 (Skripsi). Jakarta: Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah.

Patimah, 2007. Pola Konsumsi Ibu Hamil Dan Hubungannya Dengan Kejadian Anemia Defisiensi Besi. J. Sains dan Teknologi. Vol.7, No.3. hal.137-152.

Puji., A. Esse., Satriani, Sri., Nadimin., Fadliyah, Fathiyatul., 2010. Hubungan Pengetahuan Ibu dan Pola Konsumsi dengan Kejadian Anemia Gizi pada Ibu Hamil di Puskesmas Kassi-Kassi. Media Gizi Pangan. Vol.X.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here